Daya Beli   Menurun, Pedagang Enggan Datangkan Barang 

Aktifitas perdagangan di jalan perempatan Jalan Irian Safri Darwin Wamena, Kamis (17/8). (Denny/ Cepos)

WAMENA- Kepala Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian dan Perdagangan Samuel Munua mengakui bahwa sejumlah pedagang di pasaran Jayawijaya tak bisa menaikan barang mereka. Pasalnya,  daya beli masyarakat sangat menurun atau kurang. Hal ini disebabkan banyak masyarakat yang mengungsi baik yang keluar Jayawijaya maupun masyarakat yang mengungsi ke Kampung –kampung.

  “Saya berharap dalam bulan November ini sudah mulai kembali normal lagi sampai dengan bulan Desember, memang ada beberapa pedagang yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan angkutan untuk menaikan barangnya dari Sentani, namun kita akan lakukan koordinasi agar bisa barang mereka terangkut,”ungkapnya Kamis (17/10) kemarin

  Kata Sem Munua,  jelang Desember biasanya  permintaan terhadap barang terutama sembako ini akan kembali meningkat, apalagi masyarakat dari kampung jika kembali lagi ke kota atau masyarakat yang mengungsi di Jayapura atau keluar Papua ini kembali, pastinya stok untuk pemenuhan kebutuhan harus ada dipasaran.

  “Sejak hari ketiga pasca kerusuhan, saya sudah melakukan koordinasi dengan aviasi penerbangan cargo Trigana, dan dipastikan penerbangan cargo harus tetap berjalan karena kalau tidak berjalan maka dalam kurun waktu 1,2 hari saja sudah kelihatan ada kekosongan stok bapok di Jayawijaya,”katanya.

   Kondisi kurangnyaa daya beli masyarakat ini, membuat banyak pedagang takut   merugi. Artinya mereka takut jika menaikkan barang dalam jumlah besar dan situasi pembeli masih kurang, maka dikhawatirkan barang yang dinaikan itu bisa masuk dalam masa ekspire  atau kedaluwarsa dan tak bisa digunakan lagi.

  “ Para pedagang di Jayawijaya ini merasa khawatir apabila menaikan barang yang banyak bisa rusak atau masa berlakunya habis sebelum dibeli, ini yang menjadi kendala juga,”beber Sem Munua

   Kadis Nakerindag memastikan jika hingga saat ini stok bahan pokok di pasaran Jayawijaya masih terjamin dan tak ada masalah, sementara untuk masalah harga juga masih normal, mungkin hanya ayam saja yang biasanya Rp 48 ribu per kilo naik menjadi Rp 50 ribu per kilo, sedangkan bahan pokok yang lain masih biasa.

  “Saat ini memang pertokoan di Jayawijaya ini memilih tutup lebih awal, ini merupakan hal yang manusiawi , mungkin karena dengan keadaan seperti ini mereka masih takut, Gelisah sehingga perekenomian belum berjalan 100 persen,” kata Sem Munua. (jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *