Swasembada  Beras Tercapai, Petani Harus  Sejahtera

Bupati Merauke Frederikus Gebze, SE, M.Si saat meninjau salah satu  gudang Bulog   di Gudang Arang  yang sudah  penuh  dengan  beras, Sabtu (12/10).   (Sulo/Cepos)

MERAUKE-Sejatinya,  saat  target-target  pemerintah telah  tercapai   yakni swasembada beras  tercapai, maka   sudah seharusnya    petani  sejahtera. Namun  yang   dialami  petani  padi di Merauke saat ini   berteriak  terkait dengan   harga beras yang  dirasa  relatif murah dan  tidak ada  pembeli.    Bulog   sebagai sarana  pemerintah  dalam menyerap sebanyak-banyaknya   beras petani  tersebut  tidak mampu akibat  gudang mereka terbatas hanya  mampu menampung 14.000 ton  beras.   

   Kepala Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Merauke  Eddy  Santoso  mengungkapkan,  beras   yang sudah digiling,  namun  belum terserap saat ini antara 5.000-6.000  ton.  ‘’Ini tidak termasuk   gabah yang belum digiling,’’   kata Eddy Santoso   pada dialog  secara nasional  Pro 3 LPP RRI Merauke di Gudang Bulog Merauke, Sabtu (12/10).

    Karena  beras yang  sudah digiling tersebut  belum terserap, sehingga sebagian besar    penggilingan  di Merauke  tidak membeli  beras, sebab gudang mereka masih penuh. Eddy mengakui bahwa  tahun ini  produksi  petani   meningkat. Selain karena dibarengi   dengan  luasan   tanam juga karena adanya  hasil panen  petani bagus.   

  Ketua  Komisi B DPRD Berman Pasaribu  menjelaskan bahwa terkait dengan   masalah   pemasaran  beras yang  dialami petani saat ini  pihaknya sudah  menemui  Devisi Bulog  Papua dan Papua Barat di Jayapura  serta  Perum Bulog  Pusat terkait  dengan  permintaan  dari  Bulog Merauke  untuk pengiriman beras sebanyak 5.000  ton ke  Jayapura. Hanya    yang menjadi kendala soal biaya pengiriman  beras  dari Merauke yang  menjadi  persoalan. Sebab,    jika beras dari Merauke dikirim ke Jayapura  maka biaya  krimnya lebih  tinggi sekitar Rp 1.600-1.800 perliter.

   Sementara   jika  beras dari Surabaya atau Makassar hanya sekitar  Rp 600-800 perliter. Ini karena  beras dari Merauke  yang akan dikirim ke   Jayapura tersebut  harus  ke Surabaya  terlebih dahulu baru ke Jayapura.   Karena itu, kata Berman, pihaknya    dari Komisi  B DPRD  Kabupaten  Merauke  menemui pihak PT  SPIL dan mempertemukan dengan bulog, sehingga    disepakati  harga.

    ‘’Tapi   terakhir, PT SPIL   merubah  harga yang  telah disepakati dengan Bulog tersebut,’’ jelasnya. Karena itu,     Berman Pasaribu meminta  bupati  Merauke sebagai  orang nomor  satu  di Merauke  untuk membicakan kembali persoalan  ini, sehingga petani di Merauke    dapat  dibantu. ‘’Karena   untuk  bisa membantu petani, beras    petani tersebut harus keluar  dari   Merauke,’’ katanya.   

   Bupati  Merauke Frederikus Gebze mengungkapkan  pada pihaknya  akan segera memanggil   perusahaan  peti kemas yang beroperasi di Merauke     perusahaan mana yang bisa membantu. Namun begitu, lanjut    bupati, dengan adanya Tol Laut  masuk ke Merauke, seharusnya   ini dapat dimanfaatkan    untuk mengirim  beras  keluar   Merauke  tersebut. (ulo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *