Penggunaan Bahasa Indonesia di Ruang Publik Diminta Ditertibkan

Para peserta  penyuluhan  Bahasa Indonesia  pada Media Luar   yang dilakukan oleh  Balai Penyuluhan  Bahasa Papua, di aula SMKN 3 Merauke,   Jumat (11/10) (Sulo/Cepos)

MERAUKE-   Pemerintah  Kabupaten  Merauke diminta untuk bisa menertibkan  penggunaan   Bahasa Indonesia di ruang publik. ‘’Dengan adanya pemartabatan dan penyuluhan  Bahasa Indonesia  pada media luar di Kabupaten   Merauke  diharapkan ada  aksi dan tindakan dari semua instansi terkait dan pemangku kepentingan  untuk menertibkan Bahasa Indonesia  di ruang publik,’’ kata  Yulius Pangapong, S.Pd, Ketua Panitia   penyuluhan Penggunaan  Bahasa Indonesia   pada media luar  dari  Balai Bahasa Papua  di Merauke,    Jumat (11/10).

     Yulius  Pangapong mengungkapkan bahwa kegiatan ini di laksanakan di Merauke dilatarbelakangi oleh kenyataan  kebahasaan yang ada di Indonesia  khususnya di Kabupaten Merauke. Dimana jika diamati,  banyak pemakaian  Bahasa di ruang publik    baik papan nama maupun papan petunjuk  yang menggunakan Bahasa asing  atau campuran Bahasa  Indonesia dan  bahasa asing.

‘’Seperti contoh di Kabupaten    Merauke, beberapa tempat usaha  dinamai megaria hotel, swissbel hotel, corainn hotel, O Mart,  Newton Knowledge  center,  dan lain-lain. Papan petunjuk umumnya di  mal digunakan  in dan out  dan jarang sekali digunakan   keluar masuk.  contoh lainnya adalah sering kita temukan  meetingroom dan welcome  dari pada  ruang pertemuan  dan selamat datang di beberapa hotel,’’ katanya. Bahkan lanjutnya,     lebih banyak  kata didapat man dan women daripada  pria dan wanita ketika sedang memasuki kamar  kecil di beberapa tempat umum.

‘’Hal ini membuat kita miris dan kita patut   renungkan. sebenarnya kita berada di Indonesia atau negara yang berbahasa Inggris? dimana rasa bangga kita   sebagai bangsa Indonesia  yang mempunyai Bahasa negara  dan Bahasa nasional  yaitu Bahasa Indonesia. Tentu saja, kenyataan kebahasaan  tersebut    tidak sesuai dengan  peraturan  perundang-undangan  yang berlaku di Indonesia   karena peraturan Indonesia mengharuskan  pengutamaan penggunaan Bahasa Indonesia dalam rana public,’’ jelasnya.

  Menurutnya, kita tidak dapat membiarkan  kenyataan berbahasa seperti ini secara terus menerus   karena jati diri kita serta bangsa dan negara ini  kita sendirilah yang menentukan. ‘’Salah satu  penentu jati diri kita adalah bahasa kita  yaitu Bahasa Indonesia,’’  jelasnya. Harus dibandingkan dengan negara   lain yang mengutamakan Bahasa negaranya  masing-masing  di ruang public  seperti Jepang, China, Korea Selatan dan  Arab Saudi.   Penyuluhan yang  dibuka  Sekertaris  Kesbangpol  Kabupaten  Merauke   Gabriel Laiyan, S.Sos, MM   ini diikuti  sekitar 40  orang dari berbagai  SKPD termasuk dari   swasta. (ulo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *