Diduga Ditembak dan Dikubur Massal

Tim Pemerhati HAM bersama warga saat menemukan lima jenazah warga yang diduga korban penembakan di Distrik Iniye-Mbuwa Kabupaten Nduga.

Terkait Lima Jenazah Warga Nduga yang Ditemukan

JAYAPURA-Tim Pemerhati HAM Pegunungan Tengah bersama masyarakat Kabupaten Nduga mengklaim menemukan lima jenazah yang terdisi dari 4 ibu-ibu dan satu pemuda.

Jenazah yang diduga korban penembakan pada tanggal 20 September 2019 lalu tersebut, ditemukan dikubur secara massal ditutupi semak belukar.

Penemuan lima jenazah yang diduga korban penembakan tersebut disampaikan keluarga korban yang diwakili Samuel Tabuni, Kamis (10/10).

Kepada wartawan, Samuel Tabuni mengatakan, saat itu masyarakat ingin mengambil bahan makanan yang didrop keluarga mereka di jalan. Warga yang mengambil bahan makanan tersebut terdiri dari dua tim. Dimana tim pertama berjumlah lima orang dan diduga ditembak saat hendak mengambil bahan makanan.

“Tim yang menyusul mendengar bunyi tembakan, sehingga balik dan menunggu tim yang pertama. Namun tim pertama yang ditunggu tidak kembali, akhirnya diinformasikan kepada keluarga bahwa lima orang tim pertama sudah meninggal,” jelasnya.

“Mereka mendengarkan  bunyi tembakan jadi mereka curiga, rombongan 5 orang yang pertama ini ditembak di atas. Untuk itu, mereka menyampaikan itu ketika sampai di kampung,” sambungnya.

Samuel Tabuni mengaku saat itu mendapat telepon dari warga yang menginformasikan adanya masyarakat yang ditembak. Infor tersebut kemudian disampaikan ke Pangdam agar memberikan akses untuk mengambil mayat tersebut.

“Pangdam kemudian mengecek ke jajaranya namun dilaporkan tidak ada kejadian. Saya melihat

Oknum apara menipu atasan mereka sendiri. Karena laporan yang disampaikan ke pimpinan mereka tidak ada kematian, namun tim dari Pak Theo Hesegem bersama masyarakat yang menemukan langsung di lokasi kejadian. Mereka (lima jenazah, Red) dikubur dan ditutupi semak-semak dalam satu tempat hingga sudah membusuk,” bebernya.

Dikatakan, lima jenazah yang ditemukan ini diduga korban penembakan oknum aparat TNI. Samuel Tabuni menduga, kelima korban dihadang oknum TNI saat hendak mengambil bahan makanan.

Sebagai keluarga dekat, Samuel Tabuni menyayangkan sikap oknum TNI tidak mengakui tindakan itu tetapi malah menyembunyikan kasusnya.

“Saya menyampaikann terima kasih kepada  tim Pemerhati HAM Pegunungan Tengah, Theo Hesegem bersama warga yang menemukan lima jenazah warga dalam kondisi membusuk. Seharusnya, TNI profesional umumkan korban ditembak pihak OPM atau tembak yang salah sasaran. Ini harus dibuka. Tapi mereka setelah bunuh menggali kubur dan mengubur mereka di situ dalam satu tempat. Kemudian  lalu menutupnya dengan semak-semak. Ini merupakan kejahatan berat,” sesalnya.

Dari pihak keluarga menurutnya menduga hal seperti ini sering terjadi. Namun belum diketahui pasti keberadaan masyarakat yang korban. Karena sampai saat ini belum ada tim independen yang mendata kerugian dan jumlah korban jiwa yang terjadi pasca operasi militer.

“Sampai saat ini belum ada tim independen yang mendata berapa rumah yang rusak. Berapa korban jiwa, berapa hewan yang dibunuh dan berapa gereja dirusak dan lainnya. Bahkan pemerintah daerah pun tidak ada akses di sana,” tambahnya.

Samuel yang juga Direktur Umum Papua Language Institute (PLI) mengaku sebelumnya di Jakarta sudah sempat bertemu dengan Menkopolhukam dan Panglima TNI untuk membicarakan agar pasukan di Nduga dapat ditarik. Namun hal itu tidak diindahkan sampai saat ini.

“Serahkanlah kepada pemerintah daerah bersama tokoh agama dan tokoh adat untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi selama ini tidak ada. Justru yang ada  adalah penembakan terus terjadi. Untuk itu kami sudah tidak percaya lagi kepada Presiden Joko Widodo untuk komitmennya melihat masalah penembakan oleh oknum aparat di Papua khususnya Nduga,” tegasnya.

“Saya kira masalah ini sudah sangat serius tapi Indonesia menganggap biasa. Maka kami merasa penting untuk menyampaikan masalah ini kepada lembaga internasional. Karena Indonesia menganggap membunuh bagi masyarakat asli Papua adalah hal yang biasa. Terutama kampung saya di Nduga. Dimana masyarakat saya sudah berantakan. Karena kita hanya tahu yang ditembak, tetapi yang mati karena sakit dan lapar saat mengungsi dengan jalan ribuan kilometer dan dampak sosial lain kita belum tahu. Anak-anak tidak sekolah ini tidak dilihat,” katanya.

Untuk itu,  dirinya menilai jika pemerintah  tidak memberikan solusi dalam penegakan hukum dan keadilan bagi masyarakat, bisa saja masyarakat berpikir untuk meminta suaka di negara lain.

“Rasa memiliki jika itu tidak ada, maka kami macamnya harus bersuara ke negara agar biaa perhatikan kami. Ini sudah melanggar hukum perang. Dimana ketika melakukan perang, anak-anak dan ibu-ibu tidak harus menjadi target operasi. Tetapi hari ini, negara kita tidak tegas hal ini dan negara ini semakin brutal melihat orang Papua,” tambahnya.

Sebagai satu keluarga yang sangat dekat, para korban yang diduga ditembak menurutnya,  seharusnya bisa dipulangkan dengan baik ke rumahnya.

“Saya benar-benar terpukul, mereka ini keluarga saya. Mereka ini karena kelaparan sehingga harus keluar cari makan dari kampung, daripada mati tapi malah mereka dibunuh. Kenapa kami dibunuh di tanah kami sendiri, di tempat kami cari makan. Jadi saya minta aparat harus segera ditarik,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Kol Cpl Eko Daryanto mengaku pihaknya belum menerima informasi terkait adanya lima warga sipil yang meninggal dunia dan mayatnya ditutup dengan ranting.

“Saya belum terima updatenya atau pun laporannya. Nanti kami cek,” ucap Kapendam saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Kamis (10/10)

Terkait benar tidaknya informasi tersebut, menurut Kapendam perlu dicek informasi tersebut. Sebab pihaknya belum menerima laporan terkait kejadian tersebut, bagaimana dan seperti apa. (oel/fia/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *