Sudah 16.500 Pengungsi Eksodus ke Jayapura

Umat Kristiani melaksanakan ibadah di Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua, Wamena, Jayawijaya, Papua, Minggu (6/10/19). Sedikit demi sedikit aktivitas masyarakat berangsur normal di Wamena usai peristiwa kerusuhan 23 September 2019 yang menewaskan 33 orang dan menhanguskan ratusan rumah dan toko. FOTO: HENDRA EKA FOTO: HENDRA EKA

Panglima TNI dan Kapolri Agendakan Peninjauan di Wamena

WAMENA, Jawa Pos – Antrean pengungsi di Bandara Wamena, Jayawijaya, Papua sudah tidak tampak. Sampai Sabtu sore (5/10) kurang dari seratus orang terdata mendaftar untuk terbang ke Jayapura menggunakan pesawat Hercules TNI AU. Sedangkan jumlah pengungsi terangkut dari Wamena ke Jayapura mencapi 16.500 jiwa. Selain melanjutkan perjalan ke daerah asal, sebagian di antara mereka kini tinggal di empat lokasi pengungsian di sana.

Komandan Lanud Silas Papare Marsekal Pertama TNI Tri Bowo Budi Santoso menyampaikan bahwa mulai Minggu (6/10) hanya ada dua Hercules stand by di Jayapura. ”Kalau ada seratus orang pengungsi kami terbang, kalau nggak ada kami tunggu,” kata dia kepada Jawa Pos. Di Bandara Wamena kemarin sore memang sudah tidak ada lagi antrean pengungsi serupa beberapa hari lalu. Tinggal gelombang terakhir eksodus pengungsi saja yang kelihatan.

Tri menuturkan, secara keseluruhan jumlah pengungsi yang diangkut oleh Hercules kemarin sebanyak 855 orang. ”Dengan enam sortie,” terangnya. Dia pun menyampaikan, 16.500 orang yang eksodus dari Wamena ke Jayapura tidak hanya naik Hercules. Sebagian kecil di antaranya bertolak naik Wings Air dan Trigana Air. Meski sudah tidak banyak pengungsi antre di Bandara Wamena, dia memastikan pendaftaran tetap dibuka.

Apabila ada yang mendaftar, Detasemen TNI Wamena pasti mencatat. Mereka akan menerbangkan pengungsi jika jumlah pendaftar memenuhi kuota satu sortie penerbangan. Tri membantah informasi yang menyatakan bahwa pihaknya akan menarik uang kepada pengungsi untuk terbang naik Hercules besok (7/10). ”Nggak ada itu,” tegasnya. Yang ada, TNI AU lebih hati-hati supaya fasilitas yang mereka sediakan tidak dimanfaatkan.

Mereka menduga ada yang mencoba memanfaatkan angkutan gratis itu untuk kepentingan pribadi. ”Jangan sampai dimanfaatkan oleh orang yang bukan pengungsi, penumpang yang mau gratis saja,” ucap jenderal bintang satu TNI AU tersebut.

Berkaitan dengan maraknya pengungsi eksodus keluar dari  Wamena, Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua tidak mengelak.

Selain ke Jayapura, ada juga pengungsi yang bertolak ke daerah lain di Papua. Seperti Timika, Biak, dan Manokwari. Namun demikian, orang nomor satu di Jayawijaya itu menyebutkan, dirinya sudah mendapat laporan dari pengungsi yang meminta kembali ke Wamena. ”Pengungsi yang di Jayapura juga sudah minta kembali ke Wamena. Karena mungkin melihat situasi yang kondusif di Wamena, mereka minta kembali ke Wamena,” kata dia.

Hanya, Jhon belum mendapat data pasti berapa banyak yang meminta dipulangkan ke Wamena. Yang pasti, banyak alasan melatari kepergian mereka dari ibu kota Jayawijaya itu. Selain trauma pasca kerusuhan Senin (23/10), informasi hoaks terkait libur sekolah juga ikut memengaruhi mereka. ”Ada isu yang beredar bahwa sekolah akan mulai di Januari 2020. Itu isu yang tidak benar,” dia menegaskan.

Sesuai rencana dan kesepakatan, sekolah kembali buka Senin (7/10) hari ini. Mengingat situasi dan kondisi di Wamena secara khusus dan Jajawijaya secara umum sudah mulai membaik. Meski begitu, masyarakat meminta pemerintah dan aparat keamanan lebih siaga. Sebab, persebaran aparat saat ini dinilai masih kurang. Kemarin siang, seorang warga bernama Eko Purnomo jadi korban pembacokan.

Saat diwawancarai Jawa Pos, dia menyampaikan bahwa insiden tersebut terjadi sekira pukul 13.30 WIT. Lokasi kejadian berada di Jalan Irian tidak jauh dari pusat keramaian. ”Ada yang minta tolong, saya keluar tolong, malah saya dikejar,” imbuhnya. Tidak hanya dikejar, Eko juga disabet parang. Akibatnya bagian belakang kepalanya terluka dan harus dijahit.

Meski bisa melihat jelas wajah pelaku, dia tidak berniat melapor kepada aparat kepolisian. ”Percuma juga melapor. Tidak tahu siapa pelakunya,” kata dia. Eko hanya meminta supaya pemerintah dan aparat keamanan tidak asal bicara situasi dan kondisi sudah aman. Menurut dia, kejadian yang dia alami merupakan bukti bahwa masih ada kerawanan. ”Untung nyawa saya selamat,” imbuhnya.

Terpisah, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menuturkan, dirinya akan meninjau situasi di Papua bersama sejumlah pejabat dari Jakarta. Di antaranya Menteri Kordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, serta perwakilan BUM.

”Akan langsung ke lapangan, ke Wamena,” ujarnya di sela-sela perayaan HUT TNI ke-74 di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, kemarin. Hadi menambahkan, kunjungan tersebut diharapkan bisa memberi kepercayaan kepada masyarakat bahwa situasi keamanan di Wamena terus dijaga. Sehingga masyarakat bisa kembali dan menjalankan rutinitas keseharian secara normal.

Selain itu, pejabat kementerian atau BUMN lainnya yang berkunjung Senin nanti akan mempercepat recovery. Misalnya PUPR yang mendata perbaikan fasilitas bangunan, BUMN memperbaiki jaringan listrik, hingga mensos memantau kondisi pengungsian. Berdasarkan data yang dia peroleh, lanjutnya, situasi terkini sudah stabil. Bahkan, penduduk asli Papua menyampaikan keinginan agar para pendatang kembali.

Kemudian, lanjut Hadi, masyarakat juga berharap kegiatan pendidikan bisa kembali normal seperti biasa. ”Kami peroleh informasi mulai Senin minggu depan pendidikan normal,” imbuhnya. Disinggung soal kapan situasi ditargetkan bisa sepenuhnya normal, Hadi belum bisa memastikan. ”Kita ke lapangan dulu, baru bikin target waktu,” tutur mantan Kepala Staf Angkatan Udara itu.

Sementara itu PLN berangsur memulihkan jaringan kelistrikan di Wamena paska kerusuhan. Saat ini beban puncak di wilayah tersebut masih di bawah rata-rata sebelum adanya kerusuhan.

General Manager PLN UIWP2B, J. A. Ari Dartomo mengatakan kendala PLN dalam melakukan pemulihan lantaran ada beberapa lokasi belum kondusif untuk dilakukan pekerjaan. “Sementara kami terus berkoordinasi dengan pihak keamanan dalam hal ini TNI dan Polri”, katanya. Per akhir pekan, PLN telah memulihkan jaringan sepanjang 142 kms dari 180 kms atau 78 persen.

PLN juga berhasil menormalkan 114 gardu dari 142 gardu 80 persen yang sebelumnya terganggu. Sehingga, masih ada sekitar 28 gardu listrik padam dan belum bisa beroperasi. Material yang mengalami kerusakan dan persediaannya minim di lokasi pun didatangkan penggantinya dari Jayapura. Begitu juga dengan peralatan penunjang pemulihan.

Pemulihan akan difokuskan pada penyisiran daerah-daerah yang belum teraliri listrik pasca aksi massa. Berangsur pulihnya jaringan listrik di Wamena membuat beban puncak pun meningkat menjadi 4,15 MW dengan daya mampu pembangkit sebesar 6,5 MW. Jumlah tersebut masih di bawah rata-rata beban puncak Wamena dalam kondisi normal sebelum kerusuhan terjadi yakni sekitar 6 MW.

Saat ini lebih dari 17.500 pelanggan telah kembali mendapat pasokan listrik. PLN akan terus berupaya memulihkan sistem kelistrikan di Wamena secepat mungkin. Apabila ada masyarakat Wamena yang hingga kini belum teraliri listrik kembali, dapat melapor ke Posko Pelayanan PLN di Jl. Yos Sudarso, Wamena. PLN juga menyalurkan bantuan dengan total Rp 160 juta berupa bahan makanan dan pakaian kepada masyarakat korban kerusuhan Wamena di Posko Pengungsian Kodim 1702 Jayawijaya dan Posko Tongkonan Jayapura.

Bantuan sosial tersebut diberikan masing-masing senilai 97 juta untuk Posko Kodim 1702 Jayawijaya dan 66 juta untuk Posko Tongkonan Jayapura. “Selain kami fokus memulihkan kelistrikan di Wamena, kami rasa PLN juga perlu membantu masyarakat yang terdampak atas aksi massa itu. Semoga bantuan ini dapat bermanfaat bagi mereka”, ujar Ari.  (far/syn/vir/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *