Posko Tongkonan Terkendala Air Bersih dan MCK

Sejumlah anak di pengungsian sedang bermain yang dipandu oleh sejumlah tim trauma healing di Tongkonan Kotaraja, Minggu siang (6/10) kemarin. (Takim/Cepos)

JAYAPURA – Ketua Ikatan Keluarga Toraja (IKT), Elias Paonganan mengakui bahwa pengungsi di Tongkonan semakin bertambah setiap harinya yang didominasi oleh masyarakat Ikatan Keluarga Toraja (IKT).

“Sampai harini (Minggu 6/10) jumlah yang didata di tongkonan sebanyak 2518 orang namun ada 203 orang lainya sudah dipulangkan ke Toraja mengunakan kapal, dan pesawat, baik komersil maupun Hercules,”ujar Elias ke Cenderawasih Pos saat ditemui di Tongkonan, Minggu (6/10).

Kata Elias, dari 2518 orang tersebut hanya 1500 orang yang menetap tetap di Tongkonan sedangkan lainnya terkadang bermalam di rumah keluarga yang ada di Jayapura dan sekitarnya.

Dari pantauan Cenderawasih Pos di Tongkonan terdapat 8 tenda yang disediakan untuk menampung para pengungsi yakni 3 tenda dari BNPB, 4 dari kepolisian, 1 kementerian sosial. Dengan bertambahnya jumlah pengungsi di Tongkonan tersebut Elias mengakui yang menjadi kendala saat ini adalah air PAM dan MCK

“Kalau air PDAM ini kita sangat kewalahan sekali dimana hanya ngalir 2 kali satu minggu, sementara kebutuhan air kita setiap harinya kurang lebih 10 tengki, untuk mengatasi hal tersebut terpaksa kami beli lagi,”jelasnya.

Baginya air PDAM /bersih merupakan salah satu kebutuhan yang seharusnya tidak boleh tersendat di tempat pengungsian, karena berbagai kebutuhan dari para pengungsi tentu mengunakan air tersebut. “Saya harap pemerintah bisa melihat hal ini terutama air PDAM/air bersih biar kami tidak mengeluarkan dana untuk beli tangki dan kami gunakan budjet tersebut untuk kebutuhan lainnya,”paparnya.

Semntara itu juga Elias mengakui bantuan trauma healing di Tonghkonan terus berdatangan baik itu dari gereja-gereja maupun dari organisasi lainya. “Kami sangat senang suupaya anak-anak kami yang saat ini masih trauma dengan situasi yang mereka lihat sendiri di Wamena bisa pulih dan tidak lagi menjadi trauma bagi mereka,”paparnya.(kim/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *