Pemasaran Beras Sulit, Pemkab Merauke  Diminta  Cari Solusi

Sidang  ketiga Paripurna DPRD   Kabupaten Merauke  terhadap APBD Perubahan 2019, jumat (4/10).  (Sulo/Cepos)

MERAUKE-  Pemerintah   Kabupaten Merauke  diminta  segera mencari solusi   bagi permasalahan  yang  dihadapi  oleh para petani  saat ini  yang kesulitan memasarkan  beras  hasil  panen   rendengan dan  gadu tahun 2019.   Permintaan  ini disampaikan   langsung   Ketua Komisi B DPRD  Kabupaten Merauke  Berman Pasaribu  di sela-sela sidang  ketiga paripurna DPRD   Kabupaten Merauke  terhadap APBD Perubahan 2019.

     Berman  Pasaribu  langsung  menyampaikan keberatan   setelah mendengarkan    jawaban  bupati atas pendapat gabungan   komisi-komisi DPRD Merauke. Berman menilai bahwa   jawaban yang disampaikan  tersebut sangat normatif.   ‘’Saya melihat  bahwa jawaban yang   tadi disampaikan  terlalu  normatif.   Belum  ada  ada  solusi  yang  bisa   dilakukan pemerintah   untuk membantu  petani   yang saat ini mengalami   kesulitan   pemasaran  hasil  panen  padi mereka,’’ katanya. Berman menjelaskan, bahwa   sekitar 5.000-6.000  ton beras petani yang sudah digiling  yang ada   di  gudang-gudang pengilingan   tidak  bisa  terserap  oleh bulog  karena  masalah gudang.

   ‘’Kalau   ini tidak ada  jalan keluar dalam waktu  dekat maka  ini akan merugikan  para petani kita. Karena mereka   memiliki  kewajiban membayar   kredit perbankan,’’ tandasnya.

   Pihaknya, lanjut   Berman sudah menemui  PT SPIL dan pihak Bulog  Jayapura. ‘’Hari ini   kepala bulog  Merauke  akan ke Jayapura  hari Minggu. Kalau   sudah ada izin prinsip   dari pusat untuk  pengiriman 5.000  ton  beras  ke Jayapura, maka     beras sebanyak 5.000 ton akan langsung jalan,’’ katanya.

   Pihak Bulog, sebut Berman Pasaribu,  tidak mengirim   beras dari Merauke ke  Jayapura, meski  jatah untuk PNS dan  TNI-Polri  sangat membutuhkan, namun   belum  dikirim karena masalah biaya  pengiriman yang lebih besar dibanding  dari Surabaya –Jayapura. Sebab,     beras yang  dikirim dari  Merauke  harus ke Surabaya  terlebih dahulu  kemudian  menuju Jayapura sehingga biayanya menjadi   tinggi.       

   Sementara  itu, Wakil Bupati  Sularso, mengungkapkan bahwa  kesulitan  pemasaran yang dialami  petani saat ini   menjadi perhatian serius pemerintah  Kabupaten Merauke sekarang ini.  ‘’Pak Bupati dan saya sendiri sudah melakukan  komunikasi sendiri terutama Bulog itu  sendiori bagaimana mengatasi  pasca  panen kita yang begitu besar,’’ jelasnya.

   Menurut     Sularso, salah satu  yang dilakukan adalah, dirinya bersama Kabag Perekonomian melakukan   koordinasi ke  provinsi  terkait degan pemanfaatkan  2 gudang yang sudah dibangun  provinsi dengan kapasitas kurang lebih 5.000   ton.  ‘’Itu bisa  dimanfaatkan.  Tapi yang belum siap adalah pelatarannya,   yang saat ini sedang dalam pengerjaan tahun  ini,’’  jelasnya.   Upaya kedua,  dengan mendorong  Bulog  untuk segera mengirim beras   keluar dari Merauke  terutama  untuk kebutuhan PNS, TNI-Polri  dan Rastra   untuk segera dibagi. ‘’Kalau ini   dapat segera dibagi, maka terjadi pengosongan gudang dan dapat diisi   oleh beras baru lagi,’’ terangnya.

   Tak hanya itu, lanjutnya, ada beberapa pesanan seperti  dari bupati Yahukimo sebanyak 4.000 ton,  bupati Jayapura   dan sejumlah daerah lainnya yang  belum diakomadasi. ‘’Memang   masalah angkutan yang menjadi  persoalan.   Karena PT   SPIL tidak mungkin mau rugi sehingga kita perlu  negosiasi  dan bicara bersama sehingga ada   spesialis ret yang   bisa diberikan kepada kita untuk membantu. ini yang sedang kita lakukan,’’ tandas    Wabup Sularso.  (ulo/tri)   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *