Dampak Kerusuhan di Wamena, Pengungsi Masih Sangat Ketakutan

TRAUMA HEALING:Sejumlah anak-anak pengungsi sedang bermain mengikuti program trauma healing yang dilaksanakan Kemensos RI di Makodim 1702/Jayawijaya, Jumat (4/10). (Denny/Cepos)

WAMENA-Kementerian Sosial (Kemensos) RI menurunkan tim layanan sosial untuk menghilangkan trauma pasca kerusuhan di Wamena ibukota Kabupaten Jayawijaya, Senin (23/9) lalu.

Untuk menghilangkan trauma yang dialami warga, Kemensos RI mengadakan program trauma healing. Progrm ini diberikan kepada anak-anak dan orang tua yang ada di lokasi pengungsian. Termasuk kepada para guru sebelum kembali melakukan aktivitas belajar mengajar di sekolah.

Dirjen  Perlindungan dan Jaminan Sosial, Kemensos RI Harry Hikmat mengakui pasca kerusuhan memang ada masalah yang namanya ketakutan. Bahkan saat pihaknya menurunkan tim layanan sosial, masih banyak di antara pengungsi yang sangat ketakutan. Baik yang ada di Wamena maupun yang telah eksodus ke Jayapura.

“Kemensos menurunkan tim layanan social. Dimana 3 orang tim inti dan 4 orang dari tenaga lokal  plus pendamping PKH juga diturunkan. Kita sudah mulai dari dua hari yang lalu melakukan asesment, dimana banyak diantara pengungsi ini masih sangat ketakutan. Termasuk para pengungsi yang ada di Jayapura dan sedang menunggu pengangkutan untuk kembali ke kampung halaman mereka,”jelas Harry, Jumat (4/10) kemarin.

Kemensos sendiri mengharapkan peran pemerintah kabupaten untuk menahan lebih jauh pengungsi di Wamena untuk keluar atau yang ingin kembali ke kampung halamannya.

“Sejauh mereka  masih bisa pulih psikologis sosialnya atau traumanya, masih bisa diatasi. Mungkin mereka bisa kembali ke Wamena untuk membangun Wamena,” ujarnya.

Harry mengaku telah menemui pengungsi yang ada di Lanud Silas Papare, Sentani, Kabupaten Jayapura. Pengungsi yang merupakan ASN akan kembali. Khususnya para guru karena mendengar sekolah akan diaktifkan. “Berarti guru juga terpanggil untuk kembali ke wamena,” tuturnya.

Di tempat yang sama Dandim 1702/ Jayawijaya, Letkol Inf. Candra Dianto mengatakan, Kodim 1702/Jayawijaya telah melaksanakan trauma healing dengan sasaran utama anak-anak yang dibantu dari Kemensos. Selain itu, ada juga tim psikologi dari Polda Papua serta relawan yang memberikan motivasi dan suport bagi anak-anak.

“Program trauma healing masih terus berlangsung. Dimana ada beberapa bentuk  permainan yang diberikan. Selain itu juga kegiatan belajar seperti menggambar, bernyanyi dan menulis. Mereka juga diberikan materi soal ringan yang bisa diselesaikan anak-anak,” ujarnya.

Dikatakan, trauma healing ini diberikan agar anak-anak yang ada di pengungsian tidak mati dalam kreativitas.  “Meskipun mereka saat ini masih berada di pengungsian tetapi mereka bisa melakukan inovasi dan berkreasi. Ini akan dilakukan terus secara berkeliling baik di Kodim, Polres dan beberapa titik pengungsian yang lain,” tambahnya.

Selain anak-anak, orang tua dan para guru menurutnya juga akan diikutkan dalam program trauma healing. Bahkan tim dari Kemensos RI dan relawan dari Jayawijaya, sudah dikerahkan untuk memberikan trauma hiling kepada guru-guru baik yang ada di pengungsian maupun yang ada di sekolah-sekolah.

“Untuk di pengungsian, trauma hiling diberikan juga kepada orang tua. Agar antara anak dan orang tua bisa saling memberikan suport,” pungkasnya.

Sementara itu, terhitung sejak dilakukannya evakuasi menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU hingga Jumat (4/1) kemarin yaitu 12 hari, Komandan Lanud Silas Papare, Marsekal Pertama (Marsma) TNI, Tri Bowo Budi Santoso mengungkapkan selain mengangkut pengungsi, pihaknya juga mengangkut bahan makanan (Bama) yang merupakan bantuan dari Presiden. Termasuk bantuan dari berbagai pihaknya yang ditampung di Lanud Silas Papare, untuk dibawakan ke Wamena.

“Ini merupakan hari kedua belas kita melakukan evakuasi terhadap pengungsi dari Wamena ke Jayapura. Terhitung sudah ada 61 sorti penerbangan dengan mengangkut kurang lebih 10.080 orang. Untuk Bansos yang diangkut dari Jayapura, sebanyak 154.975 Kilogram,” ungkapnya kepada wartawan di Base OPS Lanud Silas Papare, Jumat (4/10).

Untuk penerbangan, Jumat (4/10) kemarin, menurut Danlanud mengatakan ada dua pesawat Hercules dari Jayapura dan ada satu pesawat Hercules dari Biak yang mengangkut para pengungsi dan bantuan logistik dari presiden dan juga dari berbagai pihak yang berada di Base OPS  Lanud Silas Papare.

“Hari ini (kemarin-red) ada 6 sorti penerbangan dari Lanud Silas Papare dan 2 sorti dari Biak dan Timika,” ucap Tri Bowo.

Tri Bowo, berharap kondisi di Wamena bisa segera kembali pulih dan aktivitas masyarakat bisa berjalan normal. Sehingga para pengungsi yang telah pulang ke Jayapura dan juga ada yang ke kampung halamannya bisa segera kembali ke Wamena.

“Kami harapkan, aktivitas di Wamena bisa segera pulih dan para pengungsi bisa kembali lagi ke Wamena, untuk melaksanakan aktivitas pembangunan seperti sedia kala,” harapnya. (jo/bet/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *