Waterpauw: Langkah Pertama, Saya Melayani dengan Hati

LEPAS SAMBUT: Gubernur Papua, Lukas Enembe, SIP., MH., bersama Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Herman Asaribab dan Forkopimda Provinsi Papua saat menghadiri lepas sambut Kapolda Papua, Irjen Pol. Paulus Waterpauw dengan pejabat lama Irjen Pol. Rudolf A. Rodja di Hotel Horison, Kotaraja, Rabu (2/10) malam. (Noel/Cepos)

JAYAPURA- Usai penyerahan pataka Polda Papua dari Irjen Pol Rudolf A. Rodja, Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw  mengatakan akan meneruskan apa yang telah menjadi kebijakan Polri.

“Satu kata yang mau saya bijaki saat ini adalah melayani dengan hati,” ucap Paulus Waterpauw kepada wartawan usai upacara pedang pora di Mapolda Papua, Rabu (2/10).

Dari sisi keamanan, Polda Papua menurutnya akan menempatkan personel yang sudah dikirimkan Kapolri ke Papua untuk  bersatu padu dengan TNI dalam rangka  menciptakan situasi yang aman, kondusif dan terkendali.

“Dengan catatan kita hadir di mana-mana. Kita membangun komunikasi dengan semua pihak tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan dan semua komponen masyarakat. Untuk bagaimana kembali lagi ke situasi yang baik  dalam rangka membangun kehidupan yang baik ke depan,” ucap Kapolda.

Dirinya memastikan situasi Provinsi Papua saat ini dalam keadaan aman. Meski beberapa waktu lalu ada kejadian di Ilaga Kabupaten Puncak namun sudah bisa ditangani.

Dikatakan, pihaknya akan melihat mahasiswa yang eksodus dilanjutkan dengan sinergi bersama pemerintah provinsi ataupun kabupaten dan kota untuk melihat rehabilitasi dan rekonstruksi terkait dengan insiden Wamena.

“Eksodus Wamena sebanyak 4.468 orangitu catatan Danlanud, sementara yang tertinggal di Wamena saat ini kurang lebih 900 orang,” ucap Paulus Waterpauw yang baru saja dilantik menjadi Kapolda Papua menggantikan pejabat sebelumnya Irjen Pol Rudolf Albert Rodja, Rabu (2/10).

Dikatakan, untuk pengungsi Wamena ini beberapa diantara mereka akan kembali ke kampung halamannya masing-masing.

“Kemarin kami sudah lakukan pendekatan kepada mereka (korban rusuh Wamena-red), nampaknya mereka masih trauma. Sehingga kita beri kesempatan untuk mereka menenangkan diri,” ucap Kapolda.

Terkait rusuh Wamena, Kapolda menyebut sebanyak 7 orang pelaku sudah diamankan dan prosesnya sembari berjalan.

Secara terpisah, Kepala Perwakilan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)  RI di Papua Frits Ramandey meminta agar mahasiswa yang eksodus dari pulau jawa untuk tidak lagi menjadi bagian yang mengembangkan dialog-dialog yang berpotensi untuk menggerakan orang melakukan demonstrrasi yang bisa disusupi oleh pihak lain.

“Sikap gubernur sudah benar, dimana gubernur telah bertemu dengan para mahasiswa dan  meminta mereka untuk kembali studi di kota studi asal mereka semula. Itu disampaikan Gubernur di depan 735 mahasiswa eksodus yang diamankan di Brimob pada 23 September lalu. Gubernur juga bersedia memulangkan mahasiswa ini ke kota studi mereka masing-masing,” tutur Frits kepada Cenderawasih Pos.

Dikatakan, selama  mahasiswa ini ada di Papua. Pemerintah Provinsi Papua bersama Komnas HAM akan melakukan pemantauan untuk memastikan keamanan semua mahasiswa eksodus yang ada di Papua.

“Kita minta kepada seluruh organisasi kemasyarakatan maupuan organisasi pergerakan sosial di papua, tidak lagi melakukan aksi-aksi demonstrasi untuk beberapa waktu ke depan. Hal ini untuk pemulihan kembali situasi di Papua,” pinta Frits.

Pasalnya lanjut Frits, di papua  saat ini telah terjadi trauma sosial pasca insiden di Jayapura dan Wamena. Orang mendengar demo menjadi trauma, pelayanan pubik  terganggu menyebabkan hak atas rasa aman di papua menjadi terganggu.

“Kewajiban negara untuk hadir memastikan hak atas rasa  aman dan pelayanan public kembali terjadi seperti semula,” pungkasnya.

Sementara itu dalam acara pisah sambut Kapolda Papua di Hotel Horison, Kotaraja, kemarin malam, Kapolda Paulus Waterpauw berharap masyarakat Papua, tokoh gereja, adat, pemuda, perempuan dan pemerintah, untuk dapat mendoakan dan saling menjaga keamanan Papua.

“Kami mohon Hamba-hamba Tuhan, kita harus bertangung jawab dengan masalah di tanah kita Papua. nanti kota buat pra Natal di Jayapura, Wamena, Nabire dan daerah lain. Perlu hadirnya Hamba-hamba Tuhan di masyarakat agar masyarakat asli dan non Papua bisa menikmati hidup yang baik sesuai visi misi Gubernur di Papua,” tuturnya.

Persoalan yang terjadi saat ini, telah berdampak negatif besar bagi orang Papua  dan non Papua. “Akibat dari pengungsian, maka tenaga guru dan kesehatan yang sudah pergi, kita harus bersama kembalikan mereka dengan memberikan rasa aman. Persoalan kita saat ini karena kaum muda Papua menghadapi hal  yang berbeda denga  generasi sebelumnya. Kaum muda sekarang mereka punya pikiran yang sangat kritis. Maka kita harus bersama mereka dan menjadikan mereka sebagai keluarga untuk maju bersama,” ujarnya.

“Gubernur berulang-ulang dengan bupati berbicara dengan mahasiswa, tapi yang terjadi mereka tidak ikuti. Untuk itu, kita perlu buka ruang untuk mendengar mereka. Saya sebagai pejabat baru dan sebagai Kapolda juga anak Papua yang paling senior, kami berharap ada dukungan dari semua pihak agar masalah di Papua diselesaikan bersama. Kehadiran kami di sini agar bisa menyelesaikan masalah di Papua bersama Gubernur,” pungkasnya.

Di tempat yang sama Irjen Pol. Drs. Rudolf A. Rodja  mengatakan, bukan satu kebetulan bila dirinya sudah 5 bulan bersama masyarakat Papua setelah dilantik bulan Mei lalu. “Saya yakin ini rancangan Tuhan. Saya merasa bersyukur bisa melayani masyarakat Papua dan angota saya 11 ribu personel Polda Papua dan Bhayangkari. Saya juga menyampaikan terima kasih banyak selama 5 bulan di tanah ini kami sangat menikmati pekerjaan yang dibebenkan kepada kami. Walau dengan masalah Papua yang cukup berat,” tandasnya.

Terkait dengan kejadian-kejadian selama ini, Albert Rodja menyampaikan terima kasih kepada semua pihak terutama Gubernur Papua yang telah memberikan dukungan. Dengan menyampaikan imbauan agar masalah ini tidak perlu diperpanjang lagi.

Dalam kesempatan itu, Alberth Rodja menyampaikan selamat bertugas kepada Kapolda yang baru. Dirinya berharap, beberapa pekerjaan yang ditinggalkan dapat diselesaikan oleh Kapolda yang merupakan anak asli Papua.

Hal senada disampaikan Gubernur Papua, Lukas Enembe, SIP., MH., yang hadir dalam acara lepas sambut.

Orang nomor satu di Provinsi Papua ini menyampaikam selamat bertugas kepada Kapolda yang baru dan selamat melaksanakan tugas di tempat yang baru kepada pejabat yang lama.

“Pak Paulus sebagai anak Papua pasti sudah tahu keinginam anak – anak Papua itu seperti apa. Anak muda saat ini mereka lebih keras dan lebih radikal maka ini menjadi tangung jawab kita bersama,” ucapnya.

Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab, Gubernur Enembe berharap kerja sama dalam menjlankan amanat negara.

Sementara itu, kembalinya Irjen Pol. Paulus Waterpauw memimpin Polda Papua banyak yang mengamini. Namun penilaian salah satu anggota DPR Papua, Jhon Gobay justru berbeda.

Ia berpendapat bahwa seharusnya Paulus Waterpaw justru dipromosikan dengan posisi atau gelar yang juga mengimbangi. “Jadi harapan saya justru beliau tak kembali ke Papua dulu. Biarkan Pak Waterpauw   fokus pada karir untuk menciptakan sejarah. Kalau bisa sampai bintang tiga. Beliau harus dipromosikan seperti itu,” kata Jhon Gobay saat ditemui di Abepura, Selasa (2/10).

Ia menyebut jika ingin menyelesaikan persoalan Papua  dengan cara  sosial kultur maka tidak harus Waterpauw. melainkan bisa sosok lain semisal Brigjen Pol. Petrus Wayne. Sementara Irjen Pol. Paulus Waterpauw bisa mencari gelar yang lebih tinggi. “Saya katakan seperti ini (promosi, red) sebab beliau (Kapolda) sudah empat kali menjabat sebagai pimpinan Polda. Pertama di Papua kemudian  ke Papua Barat menjadi Kapolda di Sumatera Utara dan kini kembali  lagi ke Papua,” kata Gobay.

“Pikiran saya pak Petrus atau sosok siapa saja bisa dengan tetap melakukan pendekatan sosial kultur. Jadi Pak Waterpauw fokus pada gelar. Apalagi dia sudah tiga kali menjadi Kapolda dan sudah senior. Jadi seharusnya dia dipromosikan menjadi Komjen, bukan kembali ke Papua,” imbuhnya.

Namun Jhon enggan menanggapi lebih jauh soal apa saja yang perlu dilakukan dari jabatan yang sudah diterima ini. “Kalau itu saya tak mau komentar, saya hanya bicara sebatas pendapat saya bahwa ia harusnya dipromosikan,” tangkisnya.

“Jadi pendekatan sosial kultur itu benar namun saya pikir siapa saja bisa termasuk bukan orang Papua juga bisa yang penting mengedepankan nilai kemanusiaan,” imbuhnya.(fia/oel/ade/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *