Hoaks Harus Dilawan Dengan Konten Positif

Aldo Moy (kanan) (Gamel Cepos)

JAYAPURA – Awal mula konflik di Wamena sempat disebut muncul karena isu Hoaks. Meski hingga kini masih diselidiki namun sedikit kronogisnya adalah ada penyampaian dari seorang anak sekolah yang mengabarkan bahwa ada seorang guru berujar rasis kepadanya dan ini diketahui orang di luar sekolah dan terjadilah aksi massa. Kondisi seperti ini sangat berpeluang terjadi dimana saja sehingga penting untuk dicermati.

Ada banyak contoh lainnya yang  cukup konkrit salah satunya perang teluk. Nah terkait ini  publik di Jayapura juga perlu lebih awas dan berhati-hati dengan jari. Jangan karena satu sentuhan akhirnya muncul persoalan yang melahirkan krisis keamanan apalagi berbau sara. Salah satu relawan TIK Jayapura, Aldo Moy mengakui bahwa hingga kini konten – konten keberagaman itu sangat kurang, konten budaya lokal juga minim alhasil publik hanya dicekoki dengan konten Hoaks dan informasi yang provokatif.

“Kita hanya tahu di media sosial itu soal konten yang sifatnya nasional, dan konten lokal tentang Papua sangat minim dan ketika Hoaks menyerang, kita akhirnya terpapar,” jelas Aldo saat ditemui di Abepura, Rabu (2/10). Ia menegaskan bahwa konten Hoaks harus lawan dengan konten positif sebab sulit melawan hanya dengan membatasi atau menghapus. “Jadi konten lawan dengan konten, bukan yang lain. Terkadang kita terkooptasi dengan sosmed dan sumber berita kita itu dari Hoaks sedangkan konten lokal bisa dipertanggungjawabkan jadi jangan terus terpapar,” jelasnya.

Apalagi jka melihat kondisi sebelumnya dimana di Papua jaringan internet sempat dibatasi dan semuanya mengeluh. Harusnya momentum tersebut bisa menjadi pembelajaran berguna tentang bagaimana upaya pemerintah menghalau Hoaks. “Jadi bukan setelah akses dibuka, dinormalkan malah penyebaran Hoaks tetap berlanjut. Saya ingin katakan orang yang membuat konten negatif itu tim dan terstruktur. Jadi untuk melawan konten tidak bisa menghapus, ini internet tetapi bagaimana menyebar konten positif,” imbuhnya.

Lainnya lanjut   alumni Stikom ini internet memang tempat untuk berekspresi tapi ini negara hukum dan tetap harus sesuai aturan. Ia menyarankan sebelum mengudate status sebaiknya berfikir lebih dulu termasuk ketika mau membagikan (share). “Saya berpendapat undang-undang ITE penting  untuk disosialisasikan namun jangan melihat sebagai penjara tetapi bagaimana menjaga privasi kita,” imbuhnya.  (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *