Tujuh Orang Jadi Tersangka Kerusuhan di Wamena

Denny/Cepos
RUKO: Tampak deretan ruko yang berjumlah 101 unit di Pasar Wouma, milik pengusaha asli Lembah Baliem yang ikut terbakar saat aksi anarkis, Senin (23/9) lalu.

WEMENA-Kepolisian memastikan situasi di Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya, mulai kondusif pasca pasca kerusuhan 23 September yang menewaskan 33 orang warga sipil dan 82 lainnya luka-luka, serta ribuan orang mengungsi.

Kapolres Jayawijaya, AKBP. Tonny Ananda Swadaya mengatakan, sebagian pedagang mulai beraktivitas seperti biasa. Untuk menjamin keamanan warga, personel keamanan ditempatkan di berbagai pelosok yang ada di Wamena. “Aktivitas masyarakat berjalan sebagaimana biasanya,” ungkap Kapolres Tonny Ananda saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Minggu (29/9).

Terkait dengan kerusuhan yang terjadi Senin (23/9) lalu, Polres Jayawijaya menurutnya telah menetapkan 7 orang tersangka. Saat ini, pihaknya juga masih memburu pelaku lainnya yang diduga sebagai aktor yang mengendalikan massa.

Pihaknya masih terus melakukan pengembangan karena masih ada beberapa oknum warga yang diduga mengendalikan aksi massa yang belum ditemukan. “Untuk 7 orang yang kita amankan sudah ditetapkan sebagai tersangka. Kami juga masih mencari oknum-oknum yang mengendalikan aksi massa. Karena ada beberapa bukti yang telah kami temukan,” jelasnya.

Dalam bukti video yang didapat, Tonny Ananda mengklaim ada keterlibatan kelompok Komite Nasional Papua Barat (KNPB). Menurutnya, oknum ini yang mengimbau massa untuk membawa mesin chainsaw dan ada yang membawa Toa. Bahkan menurutnya ada penggerak yang memerintahkan masa untuk membakar kampus STISIP Yapis Amal Ilmiah.

“Kami memiliki bukti yang menunjukan ada keterlibatan kelompok KNPB yang menunggangi aksi tersebut. Buktinya dalam bentuk video yang kami akan kembangkan dan mencari para pelaku ini,” tegasnya.
Tonny Ananda menyebutkan, pihaknya tinggal menunggu waktu saja. Karena saat ini pemerintah dan semua masyarakat yang menjadi korban masih melakukan pemulihan situasi.

Untuk itu Kepolisian menjamin keamanan kepada masyarakat sehingga pelaku-pelaku ekonomi bisa membuka kembali tempat usahanya.
“Masyarakat tidak perlu takut untuk membuka kembali tempat usahanya. Kita menjamin keamanan di kota Wamena. Kepolisian juga telah menyebarkan seluruh personelnya untuk melakukan pengamanan di pinggiran kota,” tegasnya.

Ia juga memastikan, jika saat ini kepolisian sedang berupaya keras untuk melakukan penangkapan terhadap para pelaku penggerak aksi anarkis. Meskipun belum diketahui keberadaan mereka, namun upaya Kepolisian masih terus dilakukan. Kepolisian menurutnya juga tidak bisa meninggalkan korban yang masih terauma sehingga wajib dilakukan pemulihan.

Dalam kesmepatan itu, Kapolres Tonny Ananda juga mengimbau masyarakat agar tidak terprovokasi dengan informasi via SMS atau WA yang beredar. Karena kelompok-kelompok yang saat ini bermain luar biasa melakukan provokasi.

“Tujuan mereka melumpuhkan dunia pendidikan dan perekonomian di Jayawijaya. Ini sudah mereka targetkan. Kami akan mengungkap siapa yang bermain dalam waktu dekat ini dan saya tidak akan segan –segan untuk mengambil langkah tegas,”tambahnya.

Dari data yang dimiliki Polres Jayawijaya, jumlah kerusakan yakni 460 unit ruko rusak dan terbakar, 165 unit rumah dibakar, 254 unit kendaraan roda enam dan roda empat rusak dan terbakar, 150 unit kendaraan roda dua terbakar, 15 unit fasilitas umum dan 20 unit perkantoran.

Total sementara data masyarakat mengungsi turun dari Wamena ke Jayapura berjumlah 1.922 orang dengan titik pengungsian Lanud Silas Papare 92 orang, Batalyon Yonif RK 751/VJS 155 orang, Paguyuban Batak, Padang, Toraja, Kawanua, NTB, Bima, Fak2 dan Biak, 150 orang. Mushola At-taqwa depan Borobudur 66 orang.

Untuk pengungsi di Wamena berlokasi di Kodim 1702/Jayawijaya sebanyak 3.120 orang, Polres Jayawijaya 800 orang, Koramil 1702-03/Wamena 300 orang, Subdenpom 150 orang, Gereja Betlehem 250 orang. Kantor DPRD 150 orang, Yonif 756/WMS 200 orang dan Gereja Efata 183 orang. Gedung Cipta Jaya 150 orang, Masjid LDII 227 orang, Gereja Advent 157 orang, Gereja El Shaday 240 orang, Masjid Pasar Baru 77 orang, Gedung Ukhumiarek Asso 225 orang.

Sementara itu, berdasarkan data dari Tim Kesehatan Papua, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg. Aloysius Giyai, M.Kes., memaparkan bahwa situasi dan kondisi pasca bencana sosial di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, cenderung kondusif.

Dalam rilis yang disampaikan drg. Giyai kepada Cenderawasih Pos, Minggu (29/9) kondisi yang dinilai mulai kondusif ini ditandai dengan aktivitas ekonomi masyarakat di pasar tradisional dan pertokoan yang mulai beroperasi. Sekalipun jumlahnya diakuinya masih sedikit.

Untuk sekolah menurutnya masih diliburkan dan aktivitas pemerintahan juga belum berjalan normal. Sementara jumlah pengungsi masih fluktuatif. Karena adanya tambahan pengungsi dari kabupaten sekitar Jayawijaya, serta masyarakat yang berniat keluar dari Wamena yang cukup tinggi.

“Untuk sektor kesehatan, korban di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Wamena sudah menurun. Namun, terdapat perubahan pola pada masyarakat yang menjadi korban, yang mana dari kasus trauma fisik beralih ke penyakit berbasis lingkungan. Serta peningkatan post traumatic stress disaster,” ujar drg. Alo panggilan akrabnya.

Lebih lanjut, drg Alo menjelaskan bahwa analisis tim kesehatan terkait dampak yang perlu diwaspadai tidak lain terdapat pergeseran pola kasus. Dari trauma fisik ke penyakit berbasis lingkungan di pengungsian.

Selain itu, terdapat pula post traumatic stress disaster yang diperkirakan semakin meningkat, sehingga diperlukannya tindakan trauma healing. Juga, pelayanan kesehatan dasar di lokasi pengungsi berfokus pada penyakit yang berpotensi KLB (Kejadian Luar Biasa).

“Dengan waktu tanggap darurat selama 14 hari sejak 23 September hingga 6 Oktober nantinya, ada rencana kegiatan penanganan bidang kesehatan menempatkan prioritas pada penanganan korban gawat darurat. Pelayanan kesehatan dasar di area pengungsi, indentifikasi korban meninggal, pelayanan post traumatic stress disorder, serta pengamatan penyakit potensi KLB,” tambahnya.

Aksi pembakaran rumah dan kios milik warga yang terjadi, Senin (23/9) dalam aksi anarkis, nampaknya tak hanya dialami warga non Papua. Warga asli Jayawijaya juga banyak yang menjadi korban dari aksi tersebut. Misalnya Aggu Hubi, warga asli Lembah Baliem yang kehilangan 101 unit ruko di Pasar Wouma, Distrik Wouma.

Aggu Hubi yang merupakan salah satu pengusaha asli Papua asal Lembah Baliem mengatakan, sebagai anak daerah dirinya merasa terpukul dengan adanya kejadian seperti ini. Dirinya menyebutkan sama sekali tidak pernah dibayangkan apa yang terjadi.

Sebab massa yang melakukan aksi ini tidak memperhitungkan sasaran atau targetnya. Mereka melakukan aksi brutal tersebut yang membuat dirinya sebagai anak asli Lembah Baliem juga menjadi korban.(jo/fia/gr/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *