Masyarakat Eksodus Karena Termakan Isu

Denny/Cepos
EKSODUS: Masyarakat yang ingin eksodus dari Wamena, Kabupaten Jayawijaya, saat mendengarkan panggilan untuk turun ke Jayapura menggunakan pesawat Hercules milik TNI di Apron Cargo Bandara Wamena, Sabtu (28/9).

Jumlah Masyarakat Eksodus dari Wamena, Capai 5.000 Orang

WAMENA-Meskipun situasi di Wamena ibukota Kabupaten Jayawijaya, mulai kondusif pasca aksi kerusuhan, Senin (23/9) lalu, namun masyarakat yang ingin meninggalkan Wamena atau eksodus terus bertambah.

Dari data yang diperoleh Cenderawasih Pos, warga yang mendaftar ke Detasemen TNI Angkatan Udara Wamena, hingga Sabtu (28/9) sudah mencapai 5000 orang. Mereka bukan hanya warga Wamena, tetapi warga dari beberapa kabupaten di sekitar Kabupaten Jayawijaya seperti Kabupaten Tolikara, Yalimo dan Lanny Jaya.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Jayawijaya, Pdt, Esmon Walilo mengatakan masalah eksodus ini bukan hanya terjadi pada masyarakat non Papua. Tetapi masyarakat asli Lembah Baliem yang tinggal di kota Wamena juga memilik kembali ke kampungnya yang berada di luar kota.

Warga baik non Papua maupun masyarakat asli menurut Pdt. Esmon Walilo meninggalkan kota karena banyaknya hoaks yang beredar. “Akibat banyaknya informasi yang tidak benar, membuat masyarakat takut dan akhirnya keluar dari Wamena. Bahkan masyarakat dari kampung juga enggan masuk ke kota karena banyaknya hoaks yang beredar,” sesalnya.

Dirinya mencontohkan beberapa hoaks yang beredar dan meresahkan masyarakat seperti isu aparat TNI-Polri membackup masyarakat non Papua untuk lakukan penyerangan.
“Itu informasi yang tidak benar alias hoaks.

Ada juga isu yang beredar bahwa usai sidang PBB, Papua mau merdeka sehingga aparat TNI-Polri yang turun akan menembak masyarakat. Ini semua hoaks,” tegasnya.
“Saya pikir masyarakat ini melakukan eksodus karena termakan isu yang berkemabang saat ini di Wamena.

Masyarakat non Papua beramai-ramai melakukan eksodus karena isu adanya penyerangan dari masyarakat asli. Ini sama sekali tidak benar hanya isu yang terus dikembangkan menjadi ketakutan masyarakat,” ucap Pdt. Esmon Walilo.

Sementara itu, Kepala Detasemen TNI AU Wamena, Mayor (Pnb) Arief Sujadmiko mengakui jika hingga saat ini jumlah masyarakat yang melakukan eksodus sama sekali tidak berkurang. Malah semakin membludak hingga mencapai 5000 orang.

“Kalau bisa kita kalkulasi jumlah pendaftar saat ini dengan yang sudah diterbangkan bukan lagi 5.000 orang tetapi sudah tembus 10.000 orang.”ungkapnya kepada Cenderawasih Pos di Apron Cargo Bandara Wamena, Sabtu (28/9).

Arief memastikan jumlah sebelumnya jumlah 2.589 orang mulai diterbangkan sejak Sabtu (28/9) pagi. Namun 5.000 orang saat ini merupakan pendaftar baru. Dimana sebagian besar pendaftar ini dari kabupaten pemekaran di wilayah Pegunungan Tengah Papua. Seperti Kabupaten Tolikara, Yalimo, Lanny Jaya dan Mamberamo Tengah.

“Kemungkinan masyarakat yang eksodus ini termakan dengan isu yang berkembang. Akhirnya mereka lebih memilih untuk meninggalkan daerah ini ke tempat yang lebih aman seperti Jayapura dan keluar Papua seperti ke Makasar dan Jawa,”jelas Sujadmiko.

Menurut Sujadmiko, saat ini penerbangan Hercules dilakukan pola penerbangan yang berbeda. Dimana penumpang disusun sesuai kelompok keberangkatan setiap penerbangan. Sehingga dalam sehari itu bisa melakukan 4 kali penerbangan dengan kapasitas penumpang 150 sampai dengan 160 orang sekali angkut.

“Mekanisme penerbangan yang saat ini dilakukan memang berbeda dengan kemarin. Ini agar lebih menertibkan para pengungsi yang akan eksodus keluar Wamena. Kita juga menghindari konflik yang terjadi antara sesama pengungsi. Termasuk juga mengamankan Ibu-ibu dan anak-anak sehingga kita membuat daftar untuk setiap kali penerbangan,” tuturnya.

Dengan membuat daftar list menurutnya, masyarakat yang mengungsi bisa melihat daftar list setiap kali penerbangan. Dengan demikian mereka bisa tertib dalam menerima bantuan kemanuasiaan penerbangan Hercules untuk masyarakat.

Secara terpisah, Komandan Lanud Silas Papare, Brigjend TNI Tri Wibowo Budi mengungkapkan bahwa untuk mengakomodir derasnya pengungsi dari Wamena ke Jayapura buntut dari kerusuhan beberapa hari lalu, TNI Angkatan Udara menyiapkan dua pesawat Hercules.

Dua pesawat ini menggantikan satu unit yang ditarik untuk maintenance. Dalam satu flight disebutkan bisa mengangkut sekira 170 orang dan dalam sehari pihaknya hanya mampu melayani maksimal 4 flight.

Hingga Sabtu siang (28/9) kemarin tercatat ada 1.500 pengungsi yang turun dari Wamena menuju Jayapura. Menurutnya masih ada sekitar 7000 orang yang antre untuk keluar dari Wamena.

Sementara untuk bantuan makanan pihaknya telah mengirimkan sebanyak 39 ton bahan makanan termasuk alat masak. Budi menyebut saat ini yang paling dibutuhkan adalah selimut. Mengingat bantuan yang dikirim sukarelawan kebanyakan berbentuk mie instan. “Jadi kami sertakan juga bahan makanan seperti daging, ikan dan sayur-sayuran,” beber Danlanud Tri Wibowo kepada wartawan di lokasi pengungsian di gedung serbaguna Megandara Lanud Silas Papare, Jayapura, Sabtu (28/9).

Untuk di Lanud Silas Papare sendiri telah terkumpul 106 pengungsi. Dimana paginya sudah berangkat 12 orang ke Makassar dan lokasi pengungsian ini sifatnya sementara. “Jika mau pulang atau dijemput keluarga, ya silakan. Apabila lokasi ini penuh maka akan digunakan lokasi Batalyon Raider 751.

Semalam sudah ada 100 orang lebih yang ke sana dan terus bertambah. Jika batalyon penuh akan digeser ke Rindam dan jika penuh akan dicarikan lokasi lain. Masjid Al Aqsa juga meminta,” tambahnya.

Soal pesawat tambahan ini diakuinya masih difokuskan utuk mengangkut warga dari Wamena – Jayapura. Pihaknya belum mengagendakan untuk mendrop ke luar Papua. “Ya karena masih ada sekitar 7.000 orang yang masih menunggu. Untuk setiap kali penerbangan bisa mengangkut 170 orang dan kami siapkan minimal 3 kali penerbangan. Kami optimalkan bisa 4 flight perhari,” sambung Wibowo.

Sementara itu, Ketua DPR Papua, DR Yunus Wonda bersama beberapa anggota DPR Papua lainnya ikut memberikan bantuan berupa uang tunai Rp 100 juta dan bahan makanan. Yunus menyebut yang dilakukan adalah bentuk kepedulian tanpa melihat siapa yang dibantu.

“Intinya ada masalah dan kami coba hadir mendengar dan membantu sebisa kami,” imbuhnya.

DPR Papua juga berharap pihak maskapai ikut membantu dengan memberikan harga tiket tidak full bagi pengungsi. Karena dipastikan jumlahnya akan terus bertambah. “Termasuk pihak TNI AU jika bisa memfasilitasi tentu kami sangat mengapresiasi,” imbuhnya.

Menurut data yang diperoleh Cenderawasih Pos, Lanud Silas Papare menampung pengungsi dari Wamena sebanyak 92 orang yang terdiri dari 32 laki-laki, 37 perempuan (wanita), 18 anak, dan 5 balita. Sementara Batalyon Infanteri 751/Raider menampung 155 pengungsi yang terdiri dari 78 laki-laki, 40 perempuan (wanita), 18 anak-anak, dan 19 balita.

Danyon 751/Raider, Mayor Inf Rofi Irwansyah, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menampung kurang lebih 155 pengungsi yang datang dari Wamena ke Jayapura. Mereka ini sementara ditampung sambil menunggu trbang ke daerahnya masing-masing.

“Ada kurang lebih 8 orang pengungsi yang sudah berangkat kemarin menggunakan pesawat ke Jawa Timur. Mereka kita tampung di GOR Batalyon 751/R,” ungkapnya.
Untuk makan dan minum maupun pakaiani, menurutnya, sudah ada banyak bantuan berupa bahan makanan (bama) dan pakaian yang diberikan warga selama mereka berada di Lanud Silas Papare.

“Mereka baru kami tampung dari Jumat sore. Karena kapasitas di Lanud sudah tidak bisa muat, sehingga dialihkan untuk kami tampung sementara di sini,” pungkasnya.

Sementara itu, warga yang tergabung dalam komunitas Labewa (Lahir Besar Wamena) tergerak memberikan bantuan atas rasa prihatin yang mendalam atas peristiwa kerusuhan di tanah kelahiran mereka di Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Warga yang lahir dan besar di Wamena bersama lulusan IPDN menyerahkan bantuan sembako dan bantuan lainnya.

Koordinator Sumbangan Sukarela Labewa bersama alumni IPDN, Mardonio Baptista Bayak S.stp,.M.Si., mengatakan, sebagai anak-anak Labewa yang lahir dan tali pusarnya ditanam di Wamena, mereka tergerak memberikan bantuan. Sebab Wamena bagi mereka adalah rumah dan kampung.

Komunitas Labewa menurutnya merupakan himpunan anak-anak dari berbagai suku bagsa yang sudah tersebar di seluruh Indonesia. Mereka memiliki perhatian yang luar biasa dengan Wamena.

“Sumbangan ini kebanyakan dari Jayapura. Ada juga dari luar Jayapura. Tuhan bantu kami dari anak- anak IPDN dan masyarakat Papua juga dari luar Papua. Kami juga dapat bantuan dari pesawat kargo Jayawijaya Air ke Wamena untuk membawa bantuan secara gratis,” tuturnya. (jo/bet/ade/oel/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *