DPR Khawatir Pembangunan Wamena Jadi Terhambat

 

Yunus Wonda Berharap Warga Tetap Bertahan

JAYAPURA – Pasca kerusuhan di Wamena Kabupaten Jayawijaya ribuan warga pendatang atau non orang asli Papua memilih mengungsi keluar dari Wamena. Arus pengungsi sendiri jumlahnya terus bertambah bahkan disebutkan bisa mencapai 8000 orang lebih. Kebanyakan pengungsi bekerja membuka usaha baik kios ataupun berjualan lainnya dan dari keluarnya para warga ini dikhawatirkan akan mempengaruhi sektor ekonomi termasuk pembangunan di Wamena.

“Kalau melihat dari jumlahnya dan mendengar cerita bahwa memang ada banyak yang ingin pulang kampung karena kejadian itu. Ribuan orang merasa trauma  akibat kekerasan yang terjadi di depan mata bahkan tak sedikit yang menjadi korban.

Terkait ini Ketua DPR Papua, DR Yunus Wonda meyakini rasa trauma ini tidak akan hilang dalam sehari seminggu dua minggu sehingga aktifitas perekonomian di Wamena dipastikan akan terganggu. “Saya malah menduga mereka di kabupaten lain yang lebih aman. Ini berkaitan dengan trauma tadi,” kata Yunus Wonda kepada wartawan di Sentani pekan kemarin.

Yunus menyebut bahwa namun kalaupun memang harus ketakutan tinggal di Wamena ia berharap warga nusantara ini bisa tetap bekerja dan membuka usaha di Papua. “T\idak harus pulang tapi mari tetap di Papua sebab semua warga negara punya hak untuk tinggal dimana saja. Namun jangan lagi terjadi hal-hal speerti ini sebab kekerasan tak pernah selesaikan masalah. Kita adalah bagian dari NKRI dan punya hak yang sama,” jelasnya.

Sementara terkait dengan kelompok yang hingga kini masih berseberangan, DPR Papua lanjut Yunus memastikan terus berupaya untuk memberikan pemahaman bahwa tak bisa dengan cara-cara seperti ini (kekerasan). “Kami terus mencoba memberikan pemahaman termasuk dengan mahasiswa untuk  memikirkan masa depannya. Bukan siapa-siapa yang menentukan tapi diri sendiri,” jelasnya. Sementara Kepala Dinas Sosial Provinsi Papua, Ribka Haluk menyampaikan bahwa pihaknya telah merespon dengan mendirikan sejumlah dapur umum.

Selain itu karena kondisi kota belum 100 persen pulih, pihaknya masih melakukan droping bahan makanan meski jumlah terbatas. “Kami sudah siapkan sejumlah dapur umum  baik di Polres, Kodim, gedung Pemda, gereja dan paguyuban-paguyuban termasuk ada juga yang meminta bahan mentah. Ini karena kondisi kota yang memang masih berantakan dan banyak yang tak  berfungsi,” jelasnya. Terkait trauma healing diakui banyak anak-anak pengungsi membutuhkan namun pihaknya belum menangani sejauh itu. “Biasa kami bekerjasama dengan Kemensos,” imbuh Ribka. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *