Pulihkan Wamena, Pemkab Komitmen Jaga Keamanan Masyarakat

Penandatanganan Petisi Komitmen menolak dengan tegas Aksi Anarkis, Menjaga Keamanan Bersama  dan memproses pelaku secara hukum di halaman Kantor DPRD Jayawijaya bersama dengan Paguyuban. (Denny/ Cepos)

WAMENA-Upaya Pemerintah Kabupaten Jayawijaya untuk memulihkan Kota Wamena terus dilakukan, salah satunya dengan mengumpulkan tokoh –tokoh Paguyuban dan suku asli yang mendiami Kota Wamena Mukoko yang diikat dalam bentuk pernyataan komitmen bersama antara masyarakat, Forkopimda dan Pemerintah.

   Dalam Komitmen bersama ini,  Pemkab Jayawijaya, Forkopimda dan Masyarakat sepakat untuk menandatangani sebuah petisi untuk menolak dengan tegas Aksi Anarkis, Menjaga Keamanan Bersama  dan memproses pelaku secara hukum, serta permintaan maaf dari Suku Mukoko (yang mendiami Kota Wamena) kepada masyarakat Non Papua karena apa yang terjadi kemarin sama –sama tidak diketahui.

  Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua mengaku   upaya ini merupakan salah satu langkah   untuk mennjaga keamanan di wilayah masing –masing, dan pemerintah juga tidak mencari –cari kesalahan orang lain dari suku ini dan itu, pemerintah ingin agar wilayah Jayawijaya ini kembali aman seperti biasa.

  “Kami serahkan penyelesaian masalah ini khususnya para pelaku atau aktor di balik aksi anarkis ini semuanya kepada aparat keamanan yang ada, kami pemerintah dan tokoh merupakan kaki tangan pemerintah sehingga penandatanganan petisi ini menjadi satu komitmen menjaga keamanan di Jayawijaya,”ungkapnya Sabtu (28/9) kemarin.

  Sementara untuk penyelesaian masalah ini, kata Bupati, nantinya akan dibicarakan dan diatur waktunya. Sebab,  bicara perdamaian dari kasus tahun 2000 saja belum ada perdamaian sampai saat ini, sehingga apabila melakukan perdamaian, maka harus dilakukan sejak peristiwa tahun 2000 Wamena Berdarah sampai dengan kejadian 23 September kemarin aksi anarkis.

  “Pemerintah harus bisa memulihkan ini kembali di Kabupaten Jayawijaya, sehingga untuk masalah perdamaian nanti akan dilakukan secara kolektif dari tragedi demi tragedi yang terjadi di Jayawijaya,”katanya

   Secara terpisah Perwakilan Suku Mukoko Jayawijaya, Freed Hubi mengakui jika aksi anarkis yang terjadi kemarin semua di luar dari pantauan dan tidak diduga sama sekali. Menurutnya,  masalah ini terjadi dalam wilayah adat mukoko, sehingga ia merasa terpanggil untuk menyelesaikan masalah ini dengan menyampaikan permintaan maaf dan belasungkawa yang dalam terhadap para korban yang meninggal maupun harta bendanya dibakar.

  “Sama sekali kita juga tidak tahu bisa terjadi masalah ini, sekarang kita inginkan bagaimana daerah ini aman kembali, warga asli Papua dan Non Papua yang ada di Jayawijaya ini kita semua bersaudara kejadian ini di luar dari kemauan kita semua,”bebernya

  Freed juga menyampaikan bahwa masyarakat adat Mukoko telah meminta   Bupati untuk memfasilitasi mereka untuk korban –korban, baik korban yang meninggal dunia dan korban materil yang dibakar kemarin, dan masyarakat Adat Mukoko ingin menyampaikan permintaan maaf karena masalah ini d iluar dari apa yang direncanakan semua.

“Kami dari suku Mukoko yanng memiliki lembah Baliem ini, kami datang untuk memperbaiki daerah ini yang telah hancur berantakan ini membuat hati kita menangis sehingga kita harus memperbaiki dan menjalin hubungan yang baik kembali,”bebernya. (jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *