Prihatin dengan Merosotnya Nilai-nilai Kemanusiaan

Jajaran STFT GKI.I.S Kijne dan STFT Fajar Timur berpose dengan menunjukan pamflet di Aula STFT Fajar Timur Abepura Jayapura, Sabtu (28/9) lalu. Takim/Cepos

Segera Buka Dialog dengan Semua Elemen Masyarakat dan Pemerintah

JAYAPURA – Badan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur dan Sekolah Tinggi Filsafat Teologi GKI I.S Kijne  menggelar jumpa pers tentang aksi yang terjadi akhir-akhir ini.

Jumpa pers  tersebut dihadiri Ketua Senat STFT GKI.I.S Kijne, Erik Aliknoe, ketua Senat STFT Fajar Timur, Aris Yemu, Wakil senat STFT Fajar Timur, Henbertus Meak, wakil ketua Senat STFT GKI.I.S Kijne, Agus Ardiansyah.

Dama pernyataan sikapnya mereka sangat perihatian dengan merosotnya nilai-nilai kemanusiaan pasca anti rasisme di Papua, jelas bahwa realita tersebut tidak sesuai dengan hakikat nilai kebijakan hidup beragama.

Atas keperihatinan tersebut pihaknya meminta tuntutan yakni, hentikan seluruh pendekatan militer terhadap mahasiswa eksodus dan semua orang yang hidup di Papua serta mengedepankan pendekatan humanistik.

Selain itu juga hentikan segala bentuk diskriminasi terhadap mahasiwa Papua di seluruh Indonesia dan negara harus menertibkan ormas-ormas reaksioner dan menjadi rasa aman bagi semua orang yang hidup di Papua.

Pihaknya juga menuntut untuk tidak mengatasnamakan orang Papua untuk membawa aspirasi masyarakat Papua secara parsial ke pemerintah pusat, dan pemerintah provinsi dan kabupaten/Kota harus membuka ruang dialog dengan mahasiswa eksodus dan para rektor PTN/PTS se Tanah Papua serta mengakomodir aspirasi mahasiswa eksodus.

Selain itu juga negara harus membuka ruang dialog secara lintas sektoral seperti dengan orang asli Papua,  semua Paguyuban di Papua, pemerintah daerah, TNI/Polri, semua perusahaan swasta, pemerintah pusat, TPN/OPM-ULMWP, dan orang Papua diaspora

Sementara itu di tempat terpisah Ketua Forum Pembauran Kebangsaan Provinsi Papua, Malaikat Alfius Tabuni, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya, atas terciptanya situasi yang makin aman dan dan kondusif pasca aksi anarkis yang terjadi di Papua belakangan ini.

Hal tersebut terlihat dengan aktifitas seluruh kalangan masyarakat di seluruh Kota Jayapura dan sekitarnya yang sudah membaik hal ini juga atas upaya yang dilakukan aparat TNI/Polri, terutama personel Brimob yang didatangkan untuk berjaga-jaga di berbagai sudut Kota Jayapura dan sekitarnya.

“Harapan kami sebagai orang tua yang mewakili seluruh orang tua di 29 kabupaten/kota, bahwa pendidikan itu penting, pendidikan itu hak dasar setiap orang di seluruh dunia Dan kalau hak dasar itu tergores, tergeser nilainya, akan fatal akibatnya bagi masa depan Papua,” tuturnya.

Sementara itu Sekertaris Persekutuan Gereja-Gereja Papua (PGGP), Pdt. Mathan Ayorbaba mengatakan pihaknya berharap terjalin kerja sama antara pemerintah, TNI/Polri serta Forkopimda yang ada untuk tetap menjaga kedamaian yang ada di Papua. “Mari kita bersama-sama untuk menjaga hubungan dan lingkungan masing-masing agar hidup saling berdampingan dan toleran yang terjalin lama kita jaga bersama,”ujar Mathan.

Dirinya juga berharap kepada seluruh pemimpin gereja atau umat untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat berdasarkan kepercayaan umat agar saling menghargai, menghormati dan mengasihi hidup dalam lingkungan masing-masing..(kim/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *