Dokter di Papua Difasilitasi untuk Evakuasi

YASINAN: Suasana yasinan almarhum dr. Soeko Marsetiyo di Kantor Dinkes Papua Abepura, Kamis (26/9) malam. (Takim/Cepos)

TNI Kirim Tim Kesehatan Gabungan

JAKARTA, Jawa Pos-Kerusuhan di Papua sudah membuat korban berjatuhan. Salah satunya adalah Dokter Soeko yang sudah mengabdi di pedalaman Papua, selama 15 tahun. Pasca kejadian itu, beberapa dokter meminta untuk dipulangkan.

Ketua Umum Pengurus Besar (PB) IDI Daeng M Faqih kemarin menyatakan bahwa ada beberapa dokter yang dinas di Papua meminta untuk dipulangkan. Ada juga yang masih mau bertahan dengan alasan mengabdi. ”Kami sedang melakukan pendataan,” ungkapnya saat dihubungi Jawa Pos  kemarin (27/9). Saat ini belum ada jumlah pasti berapa dokter yang ada di provinsi tersebut.

PB IDI melakukan pemantauan melalui IDI Papua. Menurutnya bagi dokter yang meminta dievakuasi akan dibantu. ”Proses tersebut sedang berjalan. Kami koordinasi dengan TNI,” ungkapnya.

Yang pertama ditarik adalah dokter intensif atau yang sedang melakukan tugas mengajar. Sementara itu dokter yang berstatus pegawai tidak tetap (PTT) dan PNS ada yang sebagian ditarik dan ada yang meminta tinggal.  Daeng menyatakan bahwa IDI tidak memaksa sikap dokter di Papua.

Untuk yang menyatakan masih mau mengabdi, maka dimintai nomor yang bisa dihubungi. Tujuannya agar bisa  memantau dan berkoordinasi. PB IDI juga telah bersurat kepada pemda dan petugas keamanan untuk menjaga dokter yang masih mengabdi di Papua. ”Kami mempertimbangkan keamanan,” katanya.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek kemarin menyatakan sudah menghubungi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua untuk berkoordinasi. Dia menyatakan bahwa dokter yang bertugas dikawal oleh TNI maupun Polri. ”Kami pikirkan tenaga kesehatan di sana,” ujarnya.

Kemenkes juga mengimbau agar dokter yang bertugas agar merapat ke daerah yang aman. Salah satu daerah yang dianggap aman adalah Jayapura. Namun perpindahan tersebut tak bisa serempak dilakukan. Harus ada perhitungan.

Lalu bagaimana dengan layanan kesehatan di sana? Menurutnya, dengan beberapa dokter yang meminta evakuasi tidak mengurangi layanan.

Di sisi lain pasca kerusuhan terjadi di Wamena, TNI mengirimkan Tim Kesehatan Gabungan. Mereka bertolak dari Base Ops Lanud Silas Papare kemarin. Menurut Kepala Rumah Sakit Marthen Indey Kolonel Ckm FX Budi Setiawan, total ada 24 personel yang ikut andil dalam tim tersebut. ”Empat di antaranya merupakan dokter dari berbagai instansi kesehatan di Jayapura,” terangnya.

Dalam tim kesehatan itu juga disertakan dokter spesialis untuk membantu masyarakat yang butuh penanganan khusus. Budi berharap, Tim Kesehatan Gabungan TNI bisa membantu pemerintah daerah di Wamena. ”Di mana banyak korban yang mengakibatkan beberapa mengalami luka-luka berat akibat benda tumpul dan tajam,” imbuhnya.

Selain itu, mereka juga diminta cepat menangani masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan.

Berdasar laporan yang diterima oleh Budi, banyak masyarakat terkena gangguan pernapasan karena asap yang muncul dari bangunan-bangunan terbakar. Saat kerusuhan terjadi, memang tidak sedikit bangunan dibakar. Senada dengan Budi, Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Letkol Cpl Eko Daryanto menyebutkan bahwa Tim Gabungan Kesehatan TNI diminta bekerja cepat.

Menurut Eko, tim tersebut sengaja dikirimkan langsung dari Jayapura. ”Ini merupakan bentuk respons cepat pangdam cendarawasih,” ungkap Eko kemarin.

Sebelumnya, lanjut dia, Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Herman Asaribab memang sudah meninjau langsung lokasi kerusuhan di Wamena. Orang nomor satu di Kodam XVII/Cenderawasih itu juga sudah menjenguk para korban. Karena itu, dikirimkan tim khusus ke Wamena. (syn/lyn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *