Ternyata Banyak yang Bukan Mahasiswa

Syamsunar dan Yonas Nussy ketika memberikan keterangan soal hasil pertemuan dengan mahasiswa  saat ditemui di sela-sela sidang APBD perubahan, Kamis (26/9) (Gamel Cepos)

JAYAPURA – Dua anggota DPR Papua, Yonas Nussy dan Syamsunar mengusulkan kepada pemerintah provinsi Papua dalam hal ini  Dinas P dan P untuk melakukan pendataan ulang terhadap para mahasiswa yang kuliah di luar Papua. Pasalnya disinyalir saat ini ada banyak anak Papua yang berada di kota studi namun tak lagi berstatus mahasiswa. Banyak yang tak lagi kuliah bahkan sudah memiliki anak istri.

Diktawatirkan ada miss yang akhirnya berdampak pada mereka yang berstatus sebagai mahasiswa. Baik Yonas maupun Syamsunar disebut tim lantaran sehari setelah aksi demo damai pada 19 Agustus lalu di Jayapura, ia bersama beberapa anggota DPRP berinisiaif untuk mengecek langsung para mahasiswa  di tiga kota studi. Alhasil diperoleh data bahwa ada banyak sekali anak Papua yang tak lagi kuliah namun tetap bergabung dengan mahasiswa Papua. “Ini yang kami pikir perlu dilakukan pendataan ulang. Caranya adalah mengisi foam yang diberikan. Foam ini berisi nama kampus, semester berapa dan data akademik lainnya.,” kata Yonas kepada Cenderawasih Pos di gedung DPR Papua, Rabu (25/9).

Yang dikhawatirkan adalah mereka yang sudah tidak kuliah ini  kemudian memberi pengaruh negatif pada mereka yang berstatus mahasiswa. Akhirnya muncul sebuah aktifitas yang akhirnya merugikan mahasiswa itu sendiri. Baik Yonas dan Syamsunar telah mendatangi asrama mahasiswa Papua di Lombok, Makassar dan Manado dimana untuk Lombok tim DPR ini menemui sekitar 70 mahasiswa, di Makassar memui 1767 mahasiswa sedangkan di Manado belum terdata. Syamsunar membenarkan bahwa di sejumlah kota studi ditemukan anak-anak Papua yang tak lagi berkuliah. Bahkan sudah berkeluarga dan data lain yang ditemukan adalah mereka yang sudah berkeluarga ini kerap melakukan intimidasi.

“Malah yang tertib adalah anak-anak yang kontrak di luar, yang tinggal di luar asrama sedangkan yang di asrama ini kami dengan sering mendapat tekanan dari mereka yang sudah tidak kuliah. Nah maksud kami melakukan pendataan  tujuannya untuk menertibkan. Ini harus bisa  sebab yang ditempati adalah aset pemerintah dan bukan rumah pribadi,”   imbuhnnya. Syamsunar juga memastikan bahwa keamanan anak-anak Papua yang menempuh studi di tiga daerah di atas akan aman. Pihak keamanan, pemerintah da ormas sudah menyampaikan kepada kami bahwa mereka akan ikut menjaga. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *