Korban Tewas Kerusuhan di Wamena Bertambah

EVAKUASi: Pesawat CN 295 P-4501 milik Polri saat mengevakuasi korban luka-luka akibat kerusuhan di Bandara Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Selasa (24/9).Denny/Cepos

Korban Alami Luka Bacok dan Terbakar

WAMENA-Korban kerusuhan yang terjadi di Wamena ibukota Kabupaten Jayawijaya terus bertambah. Menurut data yang diperoleh Cenderawasih Pos dari Polda Papua, Selasa (24/9), korban tewas sebanyak 28 orang dan luka-luka sebanyak 69 orang.

Kepala Bidang Humas Polda Papua, Kombes Pol. AM Kamal mengatakan, 28 orang yang ditemukan tewas dalam kerusuhan yang terjadi, Senin (23/9) kebanyakan akibat luka bacok dan terbakar dalam tempat usaha dan tempat tinggal korban.

Dikatakan, sebagian korban luka-luka telah dievakuasi ke Rumah Sakit Yowari Sentani Kabupaten Jayapura dan Rumah Sakit Jayapura. “Sementara untuk korban yang meninggal dunia, dievakuasi ke kampung halamannya masing-masing untuk dimakamkan,” ungkap Kamal kepada wartawan di Media Center Polda Papua, Selasa (24/9).

Kamal menyebutkan, dari hasil pencarian yang dilakukan hingga Selasa (24/9) kemarin, beberapa masyarakat ditemukan tewas terbakar. “Bahkan ada satu keluarga ditemukan tewas terbakar dalam rumah mereka. Korban tidak dapat menyelamatkan diri saat massa membakar rumahnya,” sesalnya.

Selain mengevakuasi korban tewas dan luka-luka dari Wamena, sejumlah warga yang sedang melaksanakan dinas, bersilaturahmi, urusan bisnis dan keperluan lain di Wamena saat terjadi kerusuhan, telah dievakuasi menggunakan pesawat CN 295 P-4501 milik Polri.

Termasuk lima warga negara asing asal Ukraina yang sedang berlibur di Wamena menurut Kamal juga sudah dievakuasi.

Sementara itu, hingga kemarin masih banyak warga yang mengungsi. Korban kerusuhan yang mengungsi menurut Kamal saat ini berada di tempat lokasi yaitu di Mapolres Jayawijaya, gedung DPRD Jayawijaya, Makodim Wamena dan aula gereja.

Disinggung soal kondisi di Wamena, Kamal mengatakan secara umum kondisi di Wamena mulai kondusif pasca aksi demo anarkis.

Menurut Kamal, dalam penanganan aksi unjuk rasa di Papua sejak awal Kapolda sudah perintahkan kepada seluruh angota Polri dan BKO Kesatuan Brimob  maupun  TNI untuk tidak menggunakan peluru tajam. Proses penanganan unjuk rasa harus dengan negosiasi dan komunikasi yang dibangun.

“Jika itu tidak bisa terlaksana dengan baik, langkah-langkah berikutnya sesuai dengan protap kita tidak serta merta langsung menggunakan peluru hampa ataupun peluru karet,” tuturnya.

Terkait dengan penyebar hoax soal rasisme di Wamena, Kamal mengatakan yang bersangkutan masih dikejar. Sementara dari pihak guru yang dituding menyampaikan ucapan berbau rasis juga sudah dimintai keterangan.

Ia menjelaskan, untuk menciptakan rasa aman dan nyaman di Jayawijaya. Sebanyak 350 personel Brimob telah berada di Wamena. Kontak tembakpun tidak lagi terjadi di daerah tersebut, hanya saja  ada ancaman-ancaman dari kelompok tertentu.

“Hingga saat ini TNI-Polri selain melakukan pengamanan di objek vital yang ada di Wamena, anggota juga melakukan patroli, pencarian terhadap korban dan penjagaan di sekitar kota wamena untuk memastikan situasi pulih kembali,” ungkapnya.

Sementara itu, Komandan Korem 172/Praja Wira Yakti, Kolonel inf. Jonathan Binsar Sianipar mengatakan TNI menyediakan satu pesawat hercules untuk mengevakuasi korban yang luka-luka ke Jayapura.

Dikatakan, TNI-Polri telah melakukan tatap muka dengan tokoh agama, tokoh adat, kepala distrik, kepala suku dan ketua Peguyuban  guna membangun komunikasi untuk mengembalikan kondisi aman di Wamena.

“Kita akan mengundang seluruh kepala sekolah, guru, pimpinan perguruan tinggi serta yayasan pendidikan juga OSIS dari semua SMP dan SMA yang ada di Wamena untuk membangun situasi yang damai. Karena  kemarin yang bergerak adalah pelajar SMP dan SMA,” pungkasnya.

Secara terpisah, Kapolres Jayawijaya AKBP. Tonny Ananda Swadaya mengatakan, korban luka-luka dievakuasi ke Jayapura agar bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. “Saat ini ada pesawat hercules untuk mengangkut korban,” jelasnya, Selasa (24/9).

Kapolres Tonny Ananda mengatakan, meskipun situasi sudah mulai kondusif, aparat Kepolisian terus melakukan pemantauan di tempat-tempat dari kelompok-kelompok yang melakukan aksi anarkis.

“Pola yang dipakai melakukan aksi anarkis sama seperti di Jayapura. Untuk itu, kami antisipasi agar tidak terjadi kejadian yang kedua. Apalagi mereka memakai tameng anak sekolah,” jelasnya.

Pasca aksi anarkis lanjut Tonny Ananda, anggotanya telah menandai jika tidak semua yang melakukan aksi kemarin adalah anak sekolah.

Menurutnya ada juga yang sudah tua tapi memakai seragam sekolah. Tonny Ananda memastikan, aksi yang terjadi kemarin di Wamena sudah ditunggangi. Dirinya memastikan kelompok Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menunggangi aksi anarkis ini yang didalamnya juga terdapat mahasiswa yang pulang dari Jawa.

“Mereka melakukan penghasutan dengan menyebarkan hoax yang menyebutkan ada guru yang mengucapkan kalimat rasis. Masal ini yang selalu diangkat dan dijadikan isu untuk melakukan aksi anarkis,” sesalnya.

Untuk akar permasalahan pihaknya masih melakukan penyelidikan. Guna mengungkap aktor intelektual dibalik aksi anarkis ini. Pihaknya juga akan melakukan pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat yang dipimpin Wakapolda Papua untuk menyelesaikan permasalahan ini.

“Kami masih melakukan penyelidikan terkait kasus ini. Kami juga telah melakukan klarifikasi  ujaran rasisme dan memang tidak ada guru yang mengucapkan rasisme,” tegasnya.

Senada dengan itu, Ketua Perhimpunan Guru-guru  Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Papua, DR Nomensen Mambraku yang juga . Dekan FKIP Uncen ini meyakini jika oknum guru yang dituding mengucapkan perkataan rasis tidak bersalah. Bahkan dirinya meyakini bahwa tidak mungkin guru yang dituding itu berkata seperti yang disangkakan kepada muridnya.

Nomensen menduga ada salah persepsi atau kalimat yang justru diplintir oleh oknum murid kemudian disampaikan keluar dan jadilah aksi massa. “Saya sudah mengkroscek ke beberapa guru di Wamena dan mereka sampaikan bahwa tak ada ujaran seperti yang dialamatkan. Yang disampaikan oknum guru tersebut kurang lebih berbunyi, ‘kamu harus rajin belajar yang  keras agar kamu pintar dan jangan sampai dianggap bodoh’. Ini  kemudian diterjemahkan lain oleh oknum anak sekolah hingga situasi pecah,” jelasnya.

Kata Nomensen  para tenaga pengajar yang mengabdi di Papua dalam dunia pendidikan sangat memahami bagaimana membangun peradaban Papua yang bermartabat. Untuk itu menurutnya sulit mempercayai jika ada kalimat yang bersifat diskriminasi seperti itu.

“Saya tak membela tapi itu yang saya dapat dari rekan guru lainnya. Kalimat yang dilontarkan kurang lebih, kamu harus belajar yang keras agar tidak dianggap bodoh. Tapi ini ditanggapi salah. Lalu kalau ada yang merasa ragu apakah betul ada ujaran itu atau tidak seharusnya  ditanyakan ke sekolah. Tapi ini tidak dan kelihatan sekali ini ada moment yang dimanfaatkan untuk memenangkan opini massa untuk melakukan demo anarkis,” imbuhnya.

Nomensen mengungkapkan bahwa bertahun-tahun ia berhadapan dengan peserta didik. Untuk itu,  ia sangat memahami bahwa guru-guru tidak mungkin mengatakan anak didiknya seperti itu. “Saya sangat-sangat percaya itu. Kalau mengatakan belajar dengan keras agar tidak dianggap bodoh ya itu saya percaya. Sekali lagi saya tidak membela para guru tapi saya melihat ada yang memainkan isu ini.,” jelasnya. Guru yang disebutkan ini sendiri kini masih dimintai keterangan di Polres Jayawijaya.

Sementara itu, menanggapi pernyataan Kepolisian yang menuding ada massa dari KNPB yang menyusup dalam aksi demonstrasi pelajar di Wamena, mendapat tanggapan dari Juru Bicara Nasional (Jubir) KNPB Ones Suhuniap.

Ones meminta pihak kepolisian tidak memfitnah organisasi perjuangan dengan mengalihkan isu yang sebenarnya.

Ones bahkan menuding Kapolres Jayawijaya melakukan pembohongan kepada publik. Karena sebelumnya KNPB sudah mengeluarkan imbauan untuk tidak ikut pada aksi tanggal 23, karena tidak mempunyai agenda resmi dari organisasi. “Aparat penegak hukum di negara ini jangan selalu menutupi kesalahannya dengan mengkambinghitamkan KNPB,” ungkapnya kepada Cenderawasih Pos, Selasa (24/9).

“Setiap peristiwa kekerasan selalu tuduh KNPB. Apakah KNPB punya pabrik senjata? KNPB memiliki peluru untuk bunuh orang? Tidak! Yang punya senjata dan peluru adalah aparat kepolisian dan TNl jangan tuduh tanpa ada,” sambungnya.

Ones menyatakan, Polri harus bicara sesuatu sesuai dengan fakta di lapangan. “Jangan hanya asal menuduh KNPB tanpa ada bukti yang jelas. Kami dengan tegas menolak tuduhan Kapolres Jayawijaya bahwa KNPB berpakaian seragam di Wamena. Itu kebohongan. Polisi harus mampu mengungkap siapa yang menembak 16 warga sipil tewas dan 65 lainnya terluka. Jangan selalu tuduh KNPB,” pungkasnya.

(jo/fia/kim//ade/oel/nat)

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *