Warga Nyaris Ditabrak Truk, Picu Penyerangan Camp

Pekerjaan jembatan di KM 55 Distrik Abenaho Kabupaten Yalimo

WAMENA – Direktur CV Sirindu –rindu Paris Tampubolon selaku Kontraktor yang mengerjakan pekerjaan jembatan yang ada di Kilometer 58 Distrik Abenaho Kabupaten Yalimo memastikan jika masalah penyerangan terhadap karyawannya yang terjadi Rabu (18/9)  malam dikarenakan adanya kendaraan truk yang tidak diketahui pemiliknya, yang nyaris menabarak masyarakat yang berada di pinggir jalan.

   Menurutnya, masyarakat yang hampir tertabrak ini merasa penasaran dan mencari truk yang melaju dengan kencang itu. Mereka mengira truk tersebut milik kontraktor yang bekerja di KM 64, KM 58 dan KM 55, sehingga emosi warga diluapkan dengan menyerang dan merusak camp karyawan yang ada di KM 64, 58, dan 55 Arah Wamena.

  “Masalah ini bukan timbul dari ketidakpuasan pembagian proyek yang dilakukan oleh Pelaksana Jalan Nasional (PJN) Wilayah IV Jayawijaya, tetapi untuk penyerangan dan pengerusakan memang benar terjadi kemarin malam,”ungkapnya saat ditemui di Polres Jayawijaya jumat (20/9) kemarin.

   Pekerjaan pembangunan jembatan ini, kata Paris Tampubolon, sudah berjalan sejak Mei lalu dan diharapkan selesai Desember 2019. Masalah ini ditimbulkan karena rasa penasaran dan kesal terhadap truk yang hampir menabrak mereka di pinggir jalan, dan sebelumnya memang ada 3 masyarakat yang datang ke camp 58 untuk meminta uang dan rokok, itu diberikan oleh karyawan.

  “Berselang beberapa jam datang sekelompok orang dengan menggunakan mobil melakukan penyerangan terhadap camp tersebut, sehingga membuat karyawannya melarikan diri dari camp 58 tersebut,” katanya.

   Paris memastikan kejadian penyerangan dan pasca truk yang hampir menabrak masyarakat itu dilakukan pada hari yang sama. Untuk saat ini,  pihaknya mengusahakan untuk tetap berjalan, sehingga pihaknya telah menyampaikan masalah ini kepada sekretaris Distrik Abenaho untuk memberitahukan jika kejadian penyerangan itu jangan terjadi lagi.

  “Untuk jaminannya, kami tidak tahu seperti apa, tapi masyarakat disana menginginkan pembangunan itu bisa cepat diselesaikan,” beber Paris.

  Ia menambahkan dengan adanya kejadian ini memicu masyarakat yang melakukan penyerangan itu melakukan tindakan –tindakan anarkis, seperti ingin membakar camp, melakukan pengancaman kepada karyawan untuk dibunuh, sehingga pekerja jembatan itu juga menyelamatkan diri dengan meningalkan camp tersebut dan masuk ke hutan.

  “Untuk sementara pekerja atau karyawan yang ada di KM 58 belum bekerja, yang sudah bekerja kembali hanya karyawan yang ada di KM 55 ,”tambahnya.

  Paris melanjutkan jika aksi penyerangan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat ini membuat pihaknya hanya sebagai korban pelampiasan saja, tidak ada hubungannya dengan masalah lainnya seperti pembagian proyek atau apapun, ini hanya kekesalah masyarakat yang hampir ditabrak dipinggir jalan yang dilampiaskan kepada camp karyawannya.

  “Kita selalu melakukan koordinasi dengan masyarakat, pihak keamanan dan pegusaha lokal yang ada disana guna membacup untuk memberikan sub kontrak dari pekerjaan disana juga,”tuturnya.(jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *