Mayor Marlop Hutapea Pimpin Yonif 756/WS

Sertijab Danyon 765/Wimane Sili dari Mayor Inf Arief Budi Situmeang kepada Mayor Inf Marlop Edison Bala Hutapea yang dipimpin oleh Danrem 172/ PWY Kolonel Inf. Yonathan Binsar Sianipar, Jumat (20/9). (Denny/ Cepos)

WAMENA-Mayor Inf Marlop Edison Bala Hutapea resmi memimpin Yonif 576/ Wimane Sili usai menggantikan Mayor Inf Arief Budi Situmeang dalam Sertijab yang dipimpin oleh Danrem 172/ Praja Wira Yakti (PWY) Kolonel Inf. Yonathan Binsar Sianipar di  lapangan Upacara Batalyon 756/ WMS, Jumat (20/9)

  Kepada pejabat yang baru,  Danrem 172/ PWY Kolonel Inf. Yonathan Binsar Sianipar   berpesan agar melanjutkan hal –hal yang selama ini sudah berjalan dengan baik yang dilakukan pejabat yang lama.

  “Sebagai Danyon yang baru, harus mau untuk turun ke bawah bersama –sama dengan prajurit kemudian mau berkomunikasi dengan masyarakat yang ada di pegunungan tengah Papua karena seperti tokoh adat dan agama, karena kita tak bisa bekerja maksimal tanpa bantuan masyarakat,”ungkapnya jumat (20/9) kemarin.

  Di tempat yang sama, Danyon 756 / Wimane Sili yang baru  Mayor Inf. Marlop Edison Bala Hutapea mengaku bersyukur dan siap melaksanakan tanggungjawab untuk memimpin Batalyon 756/WS.

    “Seperti yang ditekankan Danrem jika Batalyon ini adalah satuan tempur, tetapi kita berada di Pegunungan tengah Papua, dimana hubungan erat dengan masyarakat, Pemda , Satuan TNI/ Polri lainnya harus benar –benar disinergikan agar benar –benar melaksanakan tugas pokok menghormati kebudayaan didaerah ini,”jelasnya.

   Sementara pejabat lama Mayor Inf. Arif Budi Situmeang mengaku selama bertugas di Wamena kurang lebih  1 tahun, 9 bulan  dan 13 hari bersama –sama dengan seluruh prajurit dan masyarakat yang ada disini, seluruh dinamika yang terjadi dapat dilewati dengan baik, dan bisa memberikan rasa aman kepada masyarakat yang ada khususnya di Wamena.

   Untuk kesan yang paling menantang, kata Situmeang, bisa dikatakan berat tetapi karena dilakukan bersama dengan  prajurit, sehingga bisa berjalan baik cantoh seperti kasus pembantaian karyawan PT Istaka Karya tahun lalu, sebagai batalyon terdepan pihaknya harus melakukan evakuasi kepada jenazah korban yang dikuasai kelompok KKSB selama 3 hari.

  “Puji Tuhan kami berhasil evakuasi dan mengantarkan jenazah korban pembantaian sampai kepada keluarganya masing –masing, itu mungkin yang paling berkesan,”katanya. (jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *