Mendengar Cerita Para Pejuang Api yang Jatuh Bangun Merespon Karhutla (Bagian – 2)

BERJIBAKU - Para personil Brigade SWB berjibaku dengan asap dalam upaya pemadaman di bukit Angkasa Distrik Jayapura Utara belum lama ini.

Beberapa Kali Minum Air Got, Saat Istirahat Ngigau Ingin Jadi Pejabat

Indonesia sedang berperang melawan asap. Presiden Jokowi sempat kecewa karena menganggap ada kelalaian. Sebanyak 9.072 personil diturunkan untuk menangani 162.273 hektar lahan di enam provinsi. Sementara untuk Kabupaten dan Kota Jayapura hanya beberapa orang saja.

Laporan : Abdel Gamel Naser – Jayapura

Data 162.273 hektar merupakan luasan lahan yang terbakar hingga Agustus 2019. Jumlah ini dipastikan terus meluas karena api terus bergerak akibat tiupan angin sementara personil juga terbatas dengan energi yang pasti terkuras.  Sedikit berbeda dengan kasus Karhutla di beberapa provinsi seperti Kalimantan, Sumatera Selatan dan Jambi dimana ada bentuk praktek land clearing dengan cara yang mudah serta murah. Murah dengan memanfaatkan musim kemarau yakni membakar. Cukup sekali memantik maka api akan meluas seiring tiupan angin. Ini juga didukung dengan suhu panas yang memang meningkat sehingga mudah terbakar.

Pemerintah menduga ada mafia terutama perusahaan perkebunan yang bermain dibalik Karhutla dengan tujuan pembukaan lahan yang minim budget. Dan sekali lagi, jika di daerah dataran, masalah yang dihadapi adalah dampak asap, namun untuk Jayapura dan Kabupaten Jayapura, dampak asap mungkin tak seberapa namun yang justru menyimpan potensi masalah adalah  kedepannya. Dari beberapa kali kejadian kebakaran di Jayapura Utara hingga Distrik Sentani Timur terlihat lokasi lahan yang terbakar berada di ketinggian dengan kemiringan yang curam. Mencapai 80 derajat.

Di lokasi yang curam ini juga banyak pohon-pohon besar yang mati akibat ikut terbakar. Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kota Jayapura, Yohanis Sugeng Huik menjelaskan bahwa musim kemarau tahun 2019 diprediksi akan lebih kering dan terasa panas dibanding tahun sebelumnya. Satu faktor penyebabnya adalah akibat fenomena “El Nino”, yaitu fenomena memanasnya suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur. Dampak dari El Nino yang terjadi di sejumlah daerah Indonesia adalah kondisi kering dan berkurangnya curah hujan, termasuk di Papua khususnya di Jayapura

Sementara Esron Pakpahan salah satu anggota tim pemadaman. Esron menceritakan sulitnya berjuang melawan api dengan jumlah personil yang sangat terbatas. Bila di provinsi lain dibackup dengan 1.512 orang maka untuk Jayapura dan Kabupaten Jayapura hanya sekitar 20 an orang. Jumlah ini tentunya tak sebanding dengan medan yang sulit karena kemiringan tadi. Mirisnya dalam bekerja terkadang Esron Cs tidak didukung dengan sumber dana yang cukup sehingga berdampak pada upaya pemadaman di lapangan.

“Tim tidak memiliki sumber dana yang cukup, selama ini dana yang digunakan menunjang operasional adalah sumbangan sukarela pembina Saka Wanabhakti termasuk patungan (sumbang-sumbang) anggota rescue Saka Wana Bhakti yang merupakan anggota Brigade Dalkarhutla,” kata Esron. Alhasil Esron mengaku ketika stok air habis dengan posisi masih melakukan pemadaman api, ia terpaksa meminum air got karena kehausan. Beberapa temannya juga kadang memilih meminum  dari genangan air untuk membasahi kerongkongan. Ini tentunya harus ikut dipikirkan oleh seorang kepala daerah yang notabene paling bertanggungjawab di daerahnya jika terjadi Karhutla.

“Ia beberapa kali kami harus meminum air genangan, bahkan saya sendiri ikut minum air got. Itu karena terlalu haus,” cerita Esron.   Tak hanya itu untuk konsumsi makan, pria yang sering muncul saat terjadi kebakaran di Jayapura ini menyampaikan bahwa timnya juga sering membawa goreng yang kemudian dimakan bersama. “Itu yang sering, kami makan nasi kosong (tanpa lauk) karena keterbatasan dana tadi,” bebernya.

Esron menambahkan kadang ketika api berhasil dipadamkan tim kemudian duduk dan beristirahat sambil melihat lampu kota dari ketinggian. Disini beberapa diskusi kecil namun intelek bermumculan. Ada yang berbicara seandainya menjadi pejabat tentunya ia akan sangat memperhatikan soal Kahutla dan membantu tim rescue agar kondisinya tidak sepayah ini. “Jadi ini bahasa teman-teman yang nyeleneh. Seperti ngigau karena kecapean. Kadang kami bermimpi ingin menjadi pejabat agar bisa membantu teman-teman di lapangan tapi lamunan ini kadang pecah kalau radio sudah bunyi dan menyebut ada titik lain. Disitu kami langsung bongkar barisan di tengah ilalang,” cerita Esron sambil terkekeh. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *