Soal Maklumat, MRP  Berikan Klarifikasi

MRP saat melakukan pertemuan dengan para mahasiswa Papua dan orang tua   terkait dengan  maklumat  yang dikeluarkan MRP serta  untuk memastikan  kondisi  wilayah  adat Animha, di Merauke, Rabu (18/9) (Sulo/Cepos)

MERAUKE-   Majelis  Rakyat Papua    (MRP)   akhirnya turun ke Merauke  terkait dengan  maklumat  yang dikeluarkan  baru-baru ini menyikapi adanya  insiden rasisme yang dialami  mahasiswa  Papua di Surabaya dan Malang yang berakhir  dengan sejumlah  peristiwa di Papua.   Tiga anggota MRP  yang  turun dan melakukan  pertemuan dengan mahasiswa dan masyarakat Papua  tersebut  dipimpin Amatus Ndatipits   berlangsung  di Hotel Nakoro Merauke,   Rabu (18/9).

   Kepada wartawan,  Amatus Ndatipits    mengungkapkan bahwa kedatangan  mereka ke   Merauke  tersebut adalah untuk memastikan  bahwa kondisi  kamtibmas  di wilayah adat Animha yang meliputi  Kabupaten Merauke, Boven Digoel, Asmat, dan Mappi  pasca aksi demo  di sejumlah daerah di Papua   aman.

   ‘’Kedatangan kami  ke sini  adalah  untuk memastikan bahwa di wilayah adat Animha  ini    yang meliputi 4 kabupaten di Selatan Papua   dalam kondisi yang  aman dan kondusif.  Sampai kapanpun   harus  aman,’’ jelasnya.   

   Tujuan  kedua, lanjut  Amatus Ndatipits  adalah untuk mengklarifikasi  terkait  dengan  maklumat  yang dikeluarkan    oleh MRP.  Amatus menegaskan bahwa   pada point  keenam dari maklumat  yang beredar tersebut  tidak benar  atau hoax.   ‘’Kalau    maklumat  sampai point   kelima  itu   yang  dikeluarkan  oleh MRP. Tapi yang nomor   enam  itu   tidak benar atau hoax,’’  tandas   Amatus Ndatipits.   

  Amatus menjelaskan, bahwa   MRP  hanya menyerukan kepada mahasiswa   yang  keamanannya  tidak dijamin dan tidak merasa   aman di kota  studi untuk  kembali ke Papua. Namun  bagi mahasiswa  yang   merasa aman   di   tempat  studinya   maka tidak  perlu  pulang ke Papua.

  ‘’Kalau ada ancaman, tekanan  atau diskriminasi lain segera pulang demi keselamatan   dan kelanjutan   studi. itu  isi  dari point   kelima. Sedangkan   point  keenam,  itu   tambahan di luar  keputusan MRP. Kami tidak tahu siapa yang menambahkan dan    teman-teman   akan segera melaporkan   ini  ke pihak kepolisian   untuk dilakukan   pengusutan,’’ jelasnya.

   Dalam pertemuan    dengan para mahasiswa Papua tersebut, Amatus Ndatipits mengaku bahwa untuk  Merauke  hanya 2 mahasiswa yang pulang. Namun menurutnya, tidak ada kaitannya dengan   perisitiwa yang   dibicarakan saat  ini. ‘’Tapi  dia pulang karena salah pergaulan,’’  terangnya. Sementara  dalam pertemuan  tersebut, MRP melakukan dialog dengan mahasiswa dan orang tua   tersebut. (ulo/tri)    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *