Mendengar Cerita Para Pejuang Api yang Jatuh Bangun Merespon Karhutla (Bagian – 1)

Tim rescue bergelut dengan api hingga malam hari di Belakang Perumahan Organda Waena belum lama ini. Upaya pemadaman yang dilakukan selama ini untuk merespon Karhutla ternyata tak gampang karena penuh perjuangan. 

 

Tujuh Jam Bergelut, Kaget Karena Justru Terkepung Api

Sebulan terakhir kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terus terjadi. Ini tak hanya di provinsi Kalimantan, Jambi maupun Sumatera tetapi ada juga di Papua. Cenderawasih Pos mendapatkan banyak cerita menarik dari pejuang api  di Jayapura ini.

Laporan : Abdel Gamel Naser – Jayapura

Belakangan ini negara baik presiden, para menteri, kapolri maupun panglima TN dibuat pusing soal kebakaran yang terjadi di sejumlah daerah. Bukan kebakaran rumah atau pasar melainkan lahan dan hutan.

Jika hanya rumah atau pasar, proses pengendalian atau pemadaman api bisa dilakukan 2 atau 3 jam namun untuk Karhutla secara nasional membutuhkan berbulan-bulan agar api bisa dipadamkan dan  tak lagi muncul titik api. Karhutla juga menjadi pekerjaan tahunan bagi pemerintah terutama provinsi yang memiliki lahan gambut yang  luas.

Kebakaran hutan dan lahan tak hanya bicara api dan lahan yang kosong akibat terbakar tetapi ada hal lain yang juga penting yakni dengan terbakarnya satu lokasi maka dipastikan seluruh tumbuhan baik rumput maupun pohon besar yang berusia belasan hingga puluhan tahun akan ikut mati. Bila pohon mati maka sistem pengakaran tidak berfungsi. “Air akan los terbawa karena tidak tertangkap oleh akar dan peluang longsor sangat besar. Ini yang belum disadari dengan baik,” kata Yohanis Sugeng Huik, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kota Jayapura kepada Cenderawasih Pos belum lama ini.

  Ia melihat peluang longsor sangat besar apalagi Kota Jayapura berada di posisi kemiringan yang cukup terjal. Jika berdiri di Bhayangkara Jayapura Utara ataupun Angkasa terlihat  jelas jika Jayapura berada di bawahnya. Untuk Kota Jayapura dan  Kabupaten Jayapura dalam upaya pemadamannya juga tak bisa dianggap enteng. Dengan jumlah personel yang sangat terbatas ditambah sarana prasarana yang belum sepenuhnya memadai membuat para pejuang api ini harus bersusah payah mempertaruhkan fisik habis-habisan untuk melawan api.

  “Tim rescue kami berjumlah 8 orang dan selama ini menangani Karhutla di wilayah Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura. Dalam menangani kebakaran kami hanya bermodal semangat dan saling percaya. Untungnya tim juga cukup solid karena sering bersama dari berbagai aksi pemadaman,” kata Esron Pakpahan, salah satu instruktur rescue  pramuka Saka Wanabakti yang sering terlibat dalam pemadaman api di bukit dan hutan di Jayapura maupun Kabupaten Jayapura, Selasa (17/9).  Ia menceritakan bahwa dalam memadamkan api terkadang tim masih menemukan kendala. Pasalnya jika tak mendapatkan kendaraan  untuk menuju TKP,  maka mereka harus menyewa mobil pick up termasuk mencari motor untuk bisa sampai ke lokasi kebakaran. Perasaan saat itu tentu sangat khawatir karena api terus membesar.

Esron menyebut bahwa potensi Karhutla di Kota Jayapura dan Kabupaten jangan dibilang tidak ada dan bila tak ditangani serius maka api akan terus membesar dan menyebar mengingat saat ini memasuki musim kemarau panjang. Dengan suhu yang terus meningkat secara otomatis percikan api bisa berefek lahirnya api yang lebih besar dan terus menyebar.  Untuk Jayapura dan Kabupaten Jayapura, satu indikator terjdinya Karhutla adalah pembukaan lahan. Adanya perkebunan disepanjang kaki gunung Cyclop bahkan telah masuk ke kawasan penyangga menjadi penyebab.

Setelah membabat habis, tumpukan ilalang kemudian dibakar dan api akhirnya tak terkendali ditambah tiupan angin.  Kepala BNPB Letjend Doni Monardo juga mengingatkan agar ada perubahan perilaku masyarakat dalam bercocok tanam. Cara pikir manusia yang perlu dirubah. Kebiasaan ladang berpindah atau menggerus hingga ke  kaki gunung masih terus dilakukan. Mirisnya ini dilakukan dengan cara land clearing.  Esron menambahkan bahwa hampir tiap minggu terjadi kebakaran hutan ataupun lahan dan dengan jumlah 8 orang mau tidak mau hitungannya adalah kerja ikhlas dan kepedulian.

  “Mungkin banyak yang tak terpengaruh dengan Karhutla tapi jika tak dipadamkan maka asap bisa saja turun hingga ke kota,” jelasnya. Dari berbagai upaya pemadaman, satu titik yang dianggap sulit adalah memadamkan api di Kampung Sereh Tua, Kabupaten Jayapura. Pria yang berjejaring dengan  organisasi radio RAPI ini  mencatat upaya pemadaman dilakukan mulai pukul 13.00 WIT  dan baru padam pukul 19.00 WIT. Penyebabnya lahan rumput menjadi satu dengan hutan sagu dan hutan sagu ikut terbakar.

“Tidak mudah, kami kadang bingung, panik tapi tujuan sama, api harus padam ketimbang merembet lebih luas,” ucapnya. Dari tujuh jam upaya pemadaman ini akhirnya tim yang dibantu dengan water canon polisi dan pemadam kebakaran berhasil menjinakkan api. Cerita lucunya adalah terkadang saat istirahat ambil nafas mereka kaget karena api justru mengepung. “Tapi Tuhan baik masih mau menjaga saya dan teman-teman,” imbuhnya. (bersambung/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *