MRP: Tidak Ada Tempat untuk Kekerasan di Tanah Papua

Ketua MRP dan anggotanya memberikan keterangan pers di Hotel Horison, Selasa (10/9) kemarin. (Elfira/Cepos)

Juga Rekomendasikan Pihak Berwenang untuk Berdialog dengan Rakyat Papua

JAYAPURA-  Majelis Rakyat Papua (MRP) sebagai lembaga representasi  kultural Orang Asli Papua prihatin atas masalah rasisme dan pelanggaran hak asasi manusia dan yang telah terjadi dan sedang berlangsun terhadap OAP, khususnya terhadap para mahasiswa-mahasiswi OAP.

Ketua MRP Timotius Murib mengatakan perbuatan rasisme tersebut terakhir terjadi terhadap 43 mahasiswa/mahasiswi asli papua yang tinggal di Asrama Mahasiswa Kalasan Papua, Kota Surabaya pada Agustus lalu. Tindakan kekerasan tersebut secara nyata telah meningkat dalam lima tahun terakhir terhadap OAP di tanah Papua dan wilayah lain  dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kenyataan ini menunjukan bahwa  OAP sedang menghadapi Rasisme, kekerasan dan terancam masa depan. Faktanya ada 8 warga sipil, seorang anggota TNI meninggal serta 32 warga sipil dan beberapa aparat keamanan terluka ketika demonstrasi di Whagete, Ibu Kota Deiyai pada (28/8),” jelas Timotius Murib.

Selain itu, telah terjadi pengerusakan dan pembakaran fasilitas pemerintah dan rumah-rumah warga  ketika aksi demonstrasi yang terjadi di Kota Jayapura pada (29/8). Tak hanya itu, pada (30/8). Sembilan warga Papua yang dalam perjalanan pulang dari Kota Jayapura ke Sentani diserang dan dipukul oleh beberapa orang warga di Pertigaan Hamadi Argapura.

Akibat kejadian itu, menyebabkan delapan orang warga Papua luka-luka dan sempat dirawat di RSUD Dok II  dan seorang mahasiswa bernama Mikael Kareth (21) tewas. “Kasus rasisme dan pelanggaran HAM yang dialami oleh 43 mahasiswa/i di Kota surabaya pasca peristiwa  rasisme adalah bagian dari trend yang telah diamati dalam lima tahun terakhir ini, dan menjadi keprihatinan bersama,” ungkapnya.

MRP juga menyatakan keprihatinan  yang tertuang dalam 4 poin yakni, MRP telah mengeluarkan maklumat MRP nomor 05/MRP/2019 sebagai upaya dari MRP dalam rangka menyikapi dan menyelesaikan masalah rasisme, persekusi dan pelanggaran HAM yang dialami oleh mahasiswa Papua sedang studi di beberapa kota di luar Papua.

MRP menyesalkan beredarnya sebuah maklumat nomor 06/MRP/2019 yang dikeluarkan oleh pihak lain yang mengatasnamakan MRP.

MRP mengutuk dengan tegas berbagai bentuk rasisme, persekusi dan kekerasan terhadap HAM OAP, tidak ada tempat untuk kekerasan di tanah Papua yang masyarakatnya punya jiwa demokratis dan beragam.

MRP merekomendasikan pihak berwenang untuk terlibat dalam dialog dengan rakyat papua dan papua barat mengenai aspirasi dan keprihatinan mereka, serta berdampak pada pelanggaran HAM seperti penggunaan kekuatan berlebihan.

“MRP menilai bahwa penutupan akses internet bertentangan dengan kebebasan berekspresi dan membatasi komunikasi dapat yang berdampak pada memperburuk ketegangan situasi di tanah Papua, para pembela HAM, para Mahasiswa, dan jurnalis telah menghadapi intimidasi dan ancaman. Karena itu, mereka harus dilindungi,” tegasnya. (fia/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *