Aparat Jangan Teror Wartawan Papua

JAYAPURA – Koordinator JDP Papua Jhon Bunay Pr mengatakan Ia mendapat informasi adanya teror terhadap wartawan Papua yang melakukan kegiatan pemberitaan terkait fakta dan kebenaran di Papua.

“Saya juga yakin dan saya tahu bahwa wartawan Papua saat ini di teror,” katanya pada jumpa pers di Jayapura, Sabtu, (7/9).

Untuk itu, Ia meminta agar teror kepada wartawan tidak boleh dilakukan aparat bagi wartawan yang meliput kejadian yang sebenarnya di Papua.

Selain itu, Ia juga mengkritik media nasional yang terus meliput adanyanya pertikaian antara pemerintah Indonesia dan pejuang Papua meredeka, menurutnya hal ini sangat tidak perlu, tetapi bagaimana mencari solusi untuk damai di Papua terlebih dulu dipikirkan.

“Lalu berita di media itu ada berita saling bakalai-bakali apa yang mau didapat pasti nol koma nol,  tapi kalau kita memberitakan berita yang baik dan menyejukkan hati saya yakin media telah menjadi pembawa damai dalam hati bagi manusia,” paparnya.

Ia pun mengungkapkan bahwa dalam menjalani hidup ini semua yang di kejar pasti akan habis, maka selagi masih ada di dunia ini harus memprioritaskan kedamaian untuk sesama manusia.

“Tidak ada yang dapat kita cari dalam dunia ini uang pasti akan habis jabatan pasti akan berakhir apapun semua pasti ada kadarluarsanya, tapi nama baik lebih berharga dari semuanya,” paparnya.

Sementara Itu, Pimpinan Redaksi Suara Papua, Arnold Belau mengakui bahwa dalam melakukan kegiatan pemberitaan wartawan Papua mengalami diskriminasi dan ancaman.

“Ancaman yang  alami wartawan Papua adalah bagian dari diskriminasi, apa lagi wartawan  yang kerja di media resmi, pasti ada diskriminasi sehingga saat melakukan liputan soal kejadian sebenarnya kita di ancam,” katanya.

“Saat sekarang ini paling parah dituduh SP media OPM dan saya dengan pimpinan, Tabloid Jubi Victor Mambor di doxing dan paling para dorang bilang saya target selanjutnya dan intel datang ke rumah sakit, kejar keluarga saya di PMI RSUD Abepura,” katanya.

Selain itu kasus lain yang di nilai diskriminasi lain yang dilakukan aparat adalah Wartawan Papua alami kesulitan saat mau konfirmasi berita sangat sulit soal persoalan di Papua.

“Sudah sulit kita minta konfirmasi tidak mau nanti berita sudah naik baru bilang kami tidak berimbang ini yang sering,” katanya.(oel/gin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *