Pasca Kerusuhan, Pengawasan Lapas di Papua Diperketat

KUNJUNGI LAPAS: Menteri PUPR Republik Indonesia, Ir. Mochamad Basoeki Hadimoeljono, M.Sc., Ph.D., didampingi Kakanwil Kemenkum HAM Papua, Iwan Santoso  dan Kalapas Abepura, Kornelles Rumboirusi saat berkunjung ke Lapas Abepura, Selasa (3/9).

JAYAPURA- Pasca kerusuhan yang terjadi di Kota Jayapura pada 29 Agustus lalu, penjagaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di seluruh Papua diperketat.

“Kita berkaca dari kejadian di Sorong (Napi) lari 250 orang lebih, kita tidak ingin di Papua terjadi seperti itu,” ucap Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM Papua, Iwan Santoso kepada wartawan di Jayapura, Minggu (8/9)

Menurutnya, pada 29 Agustus sudah ada upaya pembobolan Lapas Abepura, namun beruntung aparat keamanan cepat datang sehingga aksi tersebut berhasil digagalkan.

Ia menjelaskan, Lapas di Papua saat ini berjumlah lima, dari jumlah tersebut terdiri dari dua Lapas di Jayapura, dan masing-masing satu di Mimika, Jayawijaya dan Nabire. Dimana  seluruh Lapas kini dalam kondisi overload, maka penjagaan dibantu oleh kepolisian.

“Dengan kondisi seperti ini, kami minta bantuan aparat keamanan karena kalau sendiri kami tidak mampu karena jumlah tahanan yang  sudah terlalu overload,” ucapnya.

Terkait dengan empat Nara Pidana (Napi) yang kabur pada saat terjadi kerusuhan di Jayapura, Iwan mengakui hingga kini seluruhnya belum berhasil ditangkap, “Mereka semua sekarang masuk dalam Daftar Pencarian Orang,” tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, Sebanyak 4 narapidana Lembaga Pemasyarakatan Abepura kabur saat terjadi kerusuhan massa di Jayapura, Kamis  (29/8).

Kepala Bagian Humas dan Protokol Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Ade Kusmanto mengatakan, para napi tersebut kabur saat terjadi aksi pembakaran beberapa fasilitas di dalam Lapas.

Sementara itu, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Muhammad Igbal menuturkan,  situasi di Kota Jayapura pasca insiden unjuk rasa pada 29 Agustus 2019 lalu telah kondusif.  Situasi keamanan yang kondusif juga terjadi di sejumlah daerah di Papua dan Papua Barat.

“Polri terus menjalin dialog dan silaturahmi dengan berbagai elemen masyarakat. Tujuannya untuk menciptakan situasi keamanan yang kondusif dan harmonis,” tutur Iqbal.

Dari hasil pendataan fasilitas yang dirusak dan dibakar meliputi sebanyak 31 kantor,  15 ruko, 24 kios,  33 unit sepeda motor,  36 mobil dan tujuh pos polisi. Untuk total korban jiwa akibat kerusuhan di Jayapura sebanyak lima korban jiwa.  Sementara itu dua anggota polisi terluka karena terkena lemparan batu dari pengunjuk rasa. (fia/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *