Empat Jenazah Pendulang Ditemukan

JAYAPURA-Tim Kepolisian Resor Asmat berhasil menemukan empat jenazah pendulang dalam kondisi hangus terbakar di dua lokasi di pedalaman Distrik Seredala,  Kabupaten Yahukimo, Jumat (6/9). Pihak kepolisian telah membawa jenazah TERSEBUT ke Asmat, Sabtu (7/9).

Kapolres Asmat, AKBP. Andi Yoseph Enoch memaparkan,  timnya yang berjumlah 15 orang menemukan empat jenazah di dua lokasi kamp pekerja yakni Kelapa Tujuh dan Rumah Empat sekira pukul 12.00 WIT.

Dimana dari hasil temuan tim,  kondisi tiga jenazah hanya tersisa tulang belulang dan satu jenazah sudah menjadi abu karena hangus terbakar.

“Kami berhasil menemukan jenazah empat korban berdasarkan laporan dari pendulang yang dievakuasi ke daerah Mabul di Asmat. Dari penuturan para korban selamat,  mereka diserang sekira 100 orang, pada pukul 16.30 WIT,” tuturnya.

Dikatakan, pihaknya berhasil mengevakuasi 148 warga dari lokasi kejadian ke Mabul. Adapun enam dari 148 orang ini adalah wanita dan anak-anak.

“Empat jenazah ini baru ditemukan di dua lokasi saja yang bukan areal tambang.  Sementara lokasi tambang diperkirakan jumlahnya di atas 10 titik.  Jaraknya sangat jauh dari Asmat, ” tutur Kapolres.

Dari data yang dihimpun Cenderawasih Pos, total sebanyak 555 pendulang dari Distrik Seredala yang menyelamatkan diri ke Kabupaten Boven Digoel hingga Sabtu (7/9).

Diketahui lokasi tambang berada di daerah Yahukimo yang berbatasan dengan tiga kabupaten,  yakni Boven Digoel, Pegunungan Bintang dan Kabupaten Asmat.

Sebanyak 493 pengungsi telah diserahkan kepada pihak keluarga atau paguyuban dari kampung halaman masing-masing pengungsi. Sementara 62 orang masih berada di posko pengungsi di Tanah Merah, ibukota Kabupaten Boven Digoel.

Adapun sembilan pendulang emas yang mengalami luka-luka akibat serangan dari sekelompok warga tersebut, rata-rata mengalami luka bacok senjata tajam dan terkena panah.

Sementara diperkirakan sekira 700-an warga yang masih bersembunyi di Kampung Kawe,  Kabupaten Pegunungan Bintang.

Sebelumnya, 471 penambang emas berhasil selamat dari penyerangan sekelompok warga di kawasan Pendulangan Mining 1, Distrik Seredala yang terletak di Perbatasan Boven Digoel, Asmat dan Yahukimo, pada Minggu (1/9) lalu.

Secara terpisah, Kepala Perwakilan Komnas HAM Wilayah Papua Frits Ramandey mengaku sudah mendapatkan pengaduan terkait dengan kejadian di Yahukimo. Namun, pihaknya tidak berani  menyatakan sesuatu terkait hal tersebut, karena  Komnas HAM sendiri belum mengirimkan tim ke lokasi.

“Sudah ada orang yang memberitahukan itu kepada Komnas HAM. Dia tidak menyebutkan jumlahnya namun dia memberitahu ada puluhan orang yang meninggal namun kita tidak bisa  pegang kata-kata itu,” pungkasnya.

Kasus penyerangan di lokasi penambangan di Distrik Seradala yang  dekat dengan lokasi perbatasan Kabupaten Yahukimo,  Boven Digoel dan Asmat hingga kini kasusnya tak begitu terungkap. Padahal informasi yang  beredar ada banyak penambang yang tewas di saat penyerangan tersebut. Bahkan disebutkan ada ratusan orang yang mengungsi. Pihak DPRD Kabupaten Yahukimo juga masih mencari informasi akurat terkait berapa jumlah korban.

“Saya pikir pihak kepolisian sudah tahu. Tapi soal lokasi penambangan ini kami sudah lakukan pelarangan. Kami sudah lakukan peringatan bahwa pendatang tak oleh masuk sebab kami punya Perda. Ada juga penelitian yang dilakukan komisi II dan semua sudah kami sampaikan,” kata Ketua DPRD Yahukimo Mary Mirin, SH., melalui ponselnya, Minggu (8/9).

Berbagai peringatan dan penyampaian sudah diteruskan pemerintah namun dikatakan karena penambang tak mau mendengar akhirnya musibah terjadi.

“Saya pikir ini jelas kami sudah berkali-kali sampaikan imbauan. Kami sudah keluarkan aturan tapi karena  daerahnya luas sekali sehingga orang masuk seenaknya tanpa memberitahu kami. Sebenarnya pemerintah dirugikan,  sebab mereka masuk ilegal dan itu namanya pencuri. Kalau ada apa-apa ya tanggung sendiri sebab sebab masuk juga tidak bicara,” ujar Mary.

Ia juga menduga jika pelakunya adalah masyarakat lokal namun belum diketahui apa motifnya. “Untuk jumlah korban kami masih  menunggu dari berbagai sumber sebab saya sendiri belum mengetahui jumlah pastinya,” ungkapnya.

Sementara terkait berbagai persoalan konflik sosial di Yahukimo, seorang warga Zakeus mengeluh karena kepala daerah jarang ditempat. Kejadian tanggal 29 Agustus termasuk penyeangan warga di Seradala ternyata dalam posisi  tak ada bupati.

“Saat kejadian itu tegang sekali, subuh-subuh Polisi  membunyikan lonceng darurat dan masyarakat semua melarikan diri ke gereja masjid maupun ke kantor Polisi. Yahukimo hari itu benar-benar tidak tenang. Disaat kami seperti itu ternyata kepala daerah juga tidak ditempat,” kata Zakeus melalui ponselnya, Minggu (8/9) kemarin.

Ia menyebut ada dua sekolah yang dibakar, satu   bangunan SMA dan satu lagi SMP. Selain itu ada banyak  rumah warga yang ikut dibakar.

Alhasil kata dia banyak warga yang mengatakan akan lebih bagus kantor  bupati yang terbakar ketimbang sekolah.

Namun terkait ini Ketua DPR Mary Mirin memberi informasi bahwa saat kejadian kemungkinan saat itu bupati dipanggil presiden. Sebab hampir semua kepala daerah dipanggil. “Kami selalu berkoordinasi dan saya pikir saat itu ada tugas di luar daerah yang harus dijalankan sehingga beliau (bupati) tidak di tempat,” jawabnya. (fia/ade/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *