Aparat Tambahan Jangan Malah Bikin Takut Masyarakat

Aksi terjun payung   yang dilakukan Prajurit TNI di Bandara Wamena, Jumat (6/9). Karena kurang sosialisasi, latihan ini sempat membuat takut warga di Kota Wamena. (Denny/ Cepos)

WAMENA-Ketua DPRD Kabupaten Jayawijaya Taufik Petrus Latuihamallo menilai banyaknya pasukan yang datang untuk pengamanan Wamena dan latihan terjun payung pasukan di Kota Wamena, Jumat (6/9) lalu, justru membawa ketakutan bagi masyarakat. Sebab, tak ada pemberitahuan sebelumnya maksud dan tujuan yang jelas dari kegiatan ini.

   Bahkan, pihaknya dari DPRD Jayawijaya tak mendapat pemberitahuan maksud tujuannya seperti apa dilakukan kegiatan itu. “Kami DPRD berharap kehadiran aparat jangan untuk memberikan rasa takut kepada masyarakat, tetapi bagaimana bisa memberikan rasa aman kepada masyarakat,”ungkap Taufik saat ditemui di Kantor Bupati Jayawijaya, Sabtu (7/9).

   Ia berharap kepada pimpinan TNI/ Polri yang ada di Jayawijaya untuk dapat mengendalikan anggotanya agar tidak memberikan rasa takut kepada masyarakat. Seperti halnya pada latihan terjun payung kemarin banyak masyarakat yang berpikir tidak rasional sehingga muncul rasa takut tersendiri pada mereka.

  “Ini masalahnya hanya ketidaktahuan masyarakat saja tentang maksud dan tujuan dari  kegiatan itu, sehingga timbul rasa ketakutan saat situasi Wamena yang diterpa beberapa isu yang juga membuat masyarakat khawatir,”jelas Ketua DPRD.

   Secara terpisah Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Jayawijaya Pdt. Esmond Walilo menyatakan jika latihan terjun payung yang dilakukan kemarin mengingatkan masyarakat pada kejadian Pepera dulu. Bahkan, saat kegiatan  kemarin beberapa masyarakat dari Lanny Jaya itu mau lari. Karena itu, ia sudah menyampaikan pada forum pertemuan dengan Panglima TNI jika latihan seperti itu memang didukung, tetapi harus ada pengumuman awal agar masyarakat tidak takut.

  “Sebenarnya latihan itu bagus tetapi tolong harus ada pengumuman awal, masyarakat awam ini tidak tahu apa –apa ketika ada anggota yang terjun maka mereka berpikir yang tidak –tidak dan timbul rasa ketakutan sendiri,”kata Esmon kemarin.

   Ia menilai, sebenarnya pasukan yang ada ini tidak perlu ditambah, karena pasukan yang sudah ada atau yang organic di Jayawijaya ini sudah sangat mengerti karakter masyarakat, seperti kearifan budaya lokal dari pada pasukan yang dari luar datang karena tidak tahu dengan budaya orang disini.

  “Kalau mereka yang sudah lama di sini berpikir bagaimana untuk membangun sama –sama , itu yang saat ini kita butuhkan, bukan adanya penambahan pasukan lagi dan ini sudah disampaikan ke Panglima TNI karena banyaknya pasukan membuat masyarakat lokal ini terhimpit dan mereka susah untuk bekerja,”tuturnya.

   Ia menambahkan, khusus untuk Jayawijaya cukup kondusif   sehingga untuk penambahan pasukan tidak dibutuhkan. “Kalau situasi kondusif seperti ini maka kita tidak membutuhkan tambahan pasukan lagi, kita sudah sampaikan ini dan nantinya akan menjadi bahan pertimbangan dari Panglima TNI,”tambahnya.(jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *