Mabes Polri Tangkap Provokator Jaringan Luar Negeri

Kapolri Jenderal  Tito Karnavian dan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto foto bersama para lintas tokoh agama di Hotel Sahid, Jumat (6/9). (Elfira/Cepos)

JAYAPURA- Mabes Polri menangkap salah satu oknum mahasiwa berinsial FBK. Dirinya diduga sebagai provokator kerusuhan Papua. FBK  juga diduga terlibat dalam jaringan internasional dalam kerusuhan di Papua. FBK ditangkap di Bandara Sentani, Jumat (6/9)

Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol Muhammad Iqbal saat dikonfirmasi membenarkan diamankannya oknum yang diduga sebagai provokator kerusuhan Papua itu. “Sudah satu yang diamankan. Dia berinisial FBK,” jelas Iqbal kepada wartawan, kemarin.

Dirinya mengungkapkan, FBK dalam perannya diduga ikut memprovokasi terjadinya kerusuhan Papua. FBK masuk dalam jaringam luar negeri maupun dalam negeri. “Yang bersangkutan masuk dalam jaringan-jaringan di luar negeri ataupun dalam negeri,” tegasnya.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkap dua organisasi pendukung referendum yang memicu kerusuhan di Papua dan Papua Barat, serta beberapa kota lain di wilayah Indonesia.

Dimana kedua organisasi itu yakni United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) dan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dituding bertanggung jawab atas serangkaian kerusuhan dalam unjuk rasa tolak rasisme.

Kapolri memandang, organisasi tersebut berafiliasi dalam mendesain kekacauan dalam serangkaian unjuk rasa tolak rasisme di beberapa kota di tanah air, terkhusus Papua dan Papua Barat. Bahkan Benny Wenda disebut-sebut sebagai dalang dibalik rangkaian aksi unjuk rasa ini.

Tito berjanji akan mengejar orang-orang yang ada dalam organisasi KNPB maupun ULMWP.  “Jika kita tidak tegas menegakkan hukum kepada mereka maka situasi di Papua akan berulang lagi,” katanya.

Sebelumnya, Polda Papua juga telah menetapkan sebanyak 33 orang sebagai tersangka atas kasus aksi unjuk rasa yang berakhir anarkis di Jayapura pada Kamis (29/8).

Sementara itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua Pdt. Lipiyus Biniluk meminta kepada pemerintah untuk segera membuka akses jaringan internet data yang diblokir pemerintah pasca aksi demo masa terjadi di Papua, Senin (19/8) lalu.

“Tolong buka jaringan internet data. Ini bangsa yang besar tidak usah seperi ini. Kalau ada penyebar hoax, harus tangkap orangnya. Kan ada datanya siapa-siapa saja yang menyebarkan hoax, jangan seperti inilah,” pintanya.

Pdt. Lipiyus Biniluk mengapresiasi kehadiran pasukan  TNI-Polri di tanah untuk menjaga keamanan pasca aksi demo yang berakhir anarkis pada Kamis (29/8) lalu.

Dirinya berharap, kedatangan TNI-Polri di Papua situasi Papua secara keseluruhan membaik khususnya Kota Jayapura. Dan masyarakat satu dan lainnya harus hidup aman dan rukun di tanah papua.

Namun lanjut Lipiyus, peranan tokoh agama itu sangat penting di lingkungan masyarakat terutama bagi masyarakat Papua itu sendiri. Dimana tokoh agama membawa kedamaian dan kerukunan.

“Yang terpenting, tokoh agama jangan menjadi provokator,” tegas Pdt. Lipiyus usai acara tatap muka Panglima  TNI dan Kapolri bersama tokoh-tokoh lintas agama dalam rangka menjaga Papua Tanah Damai di Hotel Sahid, Jumat (6/9).

Disinggung soal masih ada masyarakat yang takut dengan kehadiran TNI-Polri, Pdt. Lipuyus menerangkan bahwa masyarakat Papua pada dasarnya kalau melihat pakaian dinas TNI-Polri akan merasa ketakutan. Hal ini disebabkan masyarakat memiliki trauma sejak dulu.

Namun, dirinya meminta masyarakat tidak perlu takut. Sebab, aparat yang datang untuk melindungi sehingga tidak ada  lagi anarkisme, demo dan lain-lain, “Masyarakat tidak  usah takut, kalau ada apa-apa  langsung hubungi tokoh agama  ataupun pihak keamanan,” pintanya.

Menurut Pdt Lipiyus, pihaknya sudah meminta tokoh agama untuk turun langsung mengimbau umatnya yang ada di daerah-daerah.

Sementara itu, Kapolri Jenderal  Tito Karnavian mengatakan pentingnya peran tokoh agama dalam struktur kehidupan masyarakat papua.

“Peran tokoh agama nomor satu di Papua. Saya mengharapkan peran tokoh agama sebagai faktor pendingin. Tapi dibalik itu agama juga memiliki kekuatan lain,” ucap mantan Kapolda Papua ini.

Ia mengharapkan masing-masing orang menjaga kedamaian. Kalau semua tokoh agama kompak maka tanah Papua akan aman dan damai.

“Sebanyak 6 ribu pasukan TNI-Polri besok bisa saja saya dan Panglima TNI tarik. Kalau semua tokoh agama mengambil peran kami untuk mendinginkan hati masyarakat. Kalau  para tokoh agama turun dan memegang umatnya masing masing, maka kelompok provokasi gigit jari  dan tidak perlu ada pasukan di Papua,” tuturnya.

Menurutnya, TNI-Polri tidak bisa bekerja sendiri. Namun peran tokoh agama jauh lebih penting  daripada anggota TNI-Polri di lapangan.

Di tempat yang sama, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengaku dalam mengatasi masalah Papua harus menggunakan bahasa kalbu. Kehadiran satuan pengamanan  untuk memberikan kedamaian.

“Tokoh agama adalah  komponen bangsa untuk membentuk karakter dan menjaga kerukunan di bumi nusantara,” tegasnya. (fia/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *