Pastikan Pemasaran Untuk Tingkatkan Ekonomi Petani Kopi

Petani, Pengepul Kopi di Wamena Maximus Lanny Secara Simbolis menyerahkan anggaran untuk pembelian Kopi dari produksi Masyarakat dari Lanny Jaya yang disaksikan oleh tim Ekonomi hijau, kedubes Inggris dan Kemendes RI di Kampung Yagara. (Denny/Cepos)

WAMENA – Untuk meningkatkan perekonomian petani kopi di wilayah Pegunungan Tengah Papua, Kementrian Desa dan Pemerintah Inggirs bekerjasama mengembangkan Program Ekonomi hijau di Papua dan Papua Barat.

  Pemimpin Program Pertumbuhan Ekonomi Hijau Anthony Toren mengaku ada 12 distrik di Papua dan Papua Barat yang dikembangkan sebagai sentra produksi kopi.  “Papua pernah menghasilkan kopi yang banyak, tetapi sejak tahun 2005   menurun drastis karena isu pasar dan manipulasi harga, sekarang kami fokus kepada dua hal yang pertama produksi  dan rantai nilai,”ungkapnya jumat (23/8) saat ditemui dikampung Yagara

  Untuk meningkatkan prosesnya, Kata Anthony, petani harus dibujuk untuk kembali ke kebunnya untuk menghasilkan kopi. Namun, rantai nilai dan pasar juga harus diperkuat sehingga pembeli juga dilibatkan agar jaminan pasar untuk gabah kopi ini selalu ada, sering terjadi petani dibikin sibuk mendongkrak produksi tetapi tidak ada prasaran.

  “Jadi fungsi program kami ini melengkapi rantai hulu ke hilir, dimana dari kebun sampai ke cafe, sehingga petani bisa menerima harga untuk kopi gabah mereka ini adil dan terbaik, sementara di Jayawijaya, Lanny Jaya dan Yahukimo hanya Petani dan pengepul kopi di Kampung Yagara Maximus Lanny yang berani membayar dengan harga yang tinggi,”katanya.

  Di tingkat hulu, tim dari ekomoni hijau ini membantu petani pasca panen supaya mutu kopi tetap digaja seperti memperhatikan kadar air, memperatkank kop todak pecah, sehingga pihaknya juga memberikan mesin kupas dan rumah penjemuran anti UV yang bisa sangat membantu petani dalam proses pengeringan.

  “Di Pegunungan Tengah Papua cuacanya tidak bisa di prediksi, kalau petani mengeringkan kopi dan pergi ke kebun tiba –tiba hujan kopi mereka rusak, sehingga kita coba untuk menghalangi masalah ini dengan menyebar luaskan rumah penjemuran kopi,”bebernya.

  Di tempat yang sama perwakilan pemerintah Inggris Tiago de Valladarks mengaku mendukung program Kementrian Desa dan juga Provinsi Papua dan Papua barat dalam meningkatkan produksi petani kopi dan juga kepastian harga di pasar.

   Sementara kepala Sub direktorat Sumber daya hayati Kementrian Desa Sigit Satiarso mengatakan bahwa, tugas kemendes ini hanya evaluasi dan monitoring program ini sejauh mana program ini bisa berjalan dilapangan dan berpengaruh pada petani kopi, dari kemendes sendiri hanya menfasilitasi sejauh mana bisa membantu petani.

   Salah satu pengusaha Humbolt Café di Jayapura Yan Frits mengaku kopi Papua saat ini harganya memang tinggi di pasaran, karena jumlahnya sangat terbatas di pasaran. Padahal ia mengerti kopi di Papua merupakan kopi unggulan sehingga kalau dilihat dari harga sama dengan kulitas dan rasa kopi itu sendiri.

  “Mungkin banyak yang berpikir kalau harga kopi di Papua itu tinggi tapi saya melihat harga Kopi Papua masih tergolong harga yang wajar, yang perlu dipikirkan itu bagaimana teman –teman pengusaha kopi menjual produknya dari komoditi yang ada di Papua,”bebernya.(jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *