Abisai Rollo : Kami Ingatkan Jangan Buat Rusuh di Jayapura

Abisai Rollo

JAYAPURA – Bentuk penolakan dan kecaman terhadap aksi rasisme di Malang, Jawa Timur juga terlontar dari Ketua DPRD Kota Jayapura, Abisai Rollo SH. Ia secara tegas mengecam sikap yang tak bersahabat yang akhirnya menimbulkan persoalan baru. Dari usia 74 tahun harusnya sikap intoleran dan rasisme seperti itu sudah tak ada lagi. Ia meminta para pelaku diusut dan diproses hukum, tak boleh dibiarkan.

“Berikan kewenangan penuh kepada aparat keamanan, biarkan ini diselesaikan. Jangan semua mau terlibat menyelesaikan apalagi dibalas dengan sikap anarkis. Kami tolak itu,” kata Rollo melalui ponselnya, Jumat (23/8). Namun ia juga berpendapat bahwa bila informasi ada bendera yang dibuang ke got ternyata betul maka hal tersebut juga perlu diungkap dan diproses. “Apakah betul  mahasiswa Papua pelakunya maka silahkan proses secara hukum. Ingat bendera Indonesia itu hanya 1 tak ada bendera lain. Ini NKRI jadi hanya ada merah putih,” tegasnya.

Rollo kembali mengulang bahwa bila betul ada anak asrama mahasiswa Papua yang membuang bendera maka anak tersebut harus proses sebab itu penghinaan terhadap negara, tak ada cerita lain. Ia menyatakan Indonesia tak lengkap tanpa Papua dan bila ingin memprotes diyakini ada banyak yang sepakat untuk memprotes sikap rasisme, termasuk jika orang Papua mengatai orang-orang Jawa atau suku tertentu di luar Papua. “Jangan rasis dibalas rasis, itu juga salah. Ingat Papua itu penuh kasih, jangan membalas kekerasan dengan kekerasan, biarkan Tuhan yang membalas dan kita mendukung proses hukum untuk pelakunya tapi ingat jangan dilakukan dengan cara anakhis. Kami ingatkan jangan buat rusuh di Jayapura,” wantinya.

Ia menyatakan semua harus jalan dengan aturan dan tak ada yang kebal hukum sehingga jangan berteriak hentikan rasis tapi berlaku anarkis karena itu juga salah. “Perlu dipahami bagaimana menolak rasisme tanpa anarkis. Saat ini sudah teduh karena gubernur Jawa Timur sudah meminta maaf dan ibu wali kota Risma juga sudah meminta maaf,” tambah Rollo. Dikatakan dari sikap anarkis yang akhirnya menghancurkan, bangunan yang dirusak dipastikan akan kembali dibangun lebih bagus. Akan tetapi bila dibangun lalu dibongkar lagi itu tak mencerminkan manusia yang memiliki kasih.

“Apakah itu ada dalam ajaran agama? Merusak dan melukai orang yang tak bersalah. Persoalannya ada di surabaya lalu mengapa marahnya kepada orang di Papua,” ungkap anak pejuang Herman K Rollo ini. “Ayah saya seorang pejuang Irian Barat sehingga saya menentang semua tindakan yang mengganggu kedaulatan. Kalau soal rasisme saya sepakat bahwa itu harus dilawan dan tak boleh ada tapi jangan sampai bentuk protes malah ditunggangi kelompok tertentu dan sekali lagi jika betul ada yang membuang bendera di got saya juga mengutuk itu. Sekalipun itu anak Papua silahkan proses, dibuat sama seperti yang berkata rasis,” tegasnya. (ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *