Paguyuban Nusantara Sampaikan Permohonan Maaf

Pimpinan paguyuban nusantara di Kabupaten Biak Numfor ketika menyampaikan permohonan maaf atas terjadinya rasisme dan persekusi mahasiswa asal Papua di Malang, Surabaya dan daerah lainnya, di Aula Gedung Wanita, Kamis (22/8). (Fiktor/Cepos)

Juga Ramai-Ramai Nyatakan Tolak Diskriminasi, Radikalisme dan Rasisme

BIAK-Peristiwa tindakan rasisme terhadap mahasiswa asal Papua di Malang, Surabaya, Makassar dan beberapa daerah lainnya nampaknya juga mendapat perhatian serius dari Paguyuban Nusantara yang ada di Papua, khususnya lagi di Kabupaten Biak Numfor.

  Para Paguyuban Nusantara mengencam tindakan rasisme dan persekusi tersebut. Mereka menyatakan menolak dengan tegas tindakan rasisme, diskriminasi dan radikalisme yang ada di sejumlah daerah di Indonesia.

  Tak hanya itu, atas kejadian itu juga, jajaran Paguyuban Nusantara di Kabupaten Biak Numfor menyampaikan permohonan maaf atas kejadian itu dan menyampaikan sejumlah poin pertanyataan sikap, di Gedung Wanita Biak, Kamis (22/8) kemarin.

  Di depan Bupati Biak Numfor Herry Ario Naap, S.Si.,M.Pd dan Dandim 1708/BN, Koordinator Ormas Bhineka Tunggal Ika, Asep, membacakan sejumlah  pernyataan sikap yang pada dasarnya mengutuk keras dan menyampaikan permohonan maaf atas kejadian rasisme, radikalisme dan diskriminasi di sejumlah wilayah di Indonesia.

   Mereka juga minta  Presiden dan Kapolri menindak tengas oknum-oknum yang melakukan kekerasan dan rasisme dan bakan menjadi provokator rasisme. Gubernur  Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan bahwa harus menjaga dan melindungi mahasiswa Papua.

    “Kami orang Jawa, orang Sumatera, orang Sulawesi, orang Bali, orang NTT, orang Ambon bisa bekerja dan mencari nafkah leluasa bahkan bisa mendapatkan jabatan dan pemerintahan di legislative, artinya orang Papua tidak rasisme jadi jangan hancurkan persatuan dan kesatuan kami,” tegas Asep dengan lantang.

    Semua Tokoh Agama di Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Makassar di Sulawesi Selatan diinta juga harus menghargai agama-agama lain terutama umat Kristen. Sebab,  di Papua   umat islam leluasa beribadah sehingga di Jawa dan Sulawesi jangan melarang umat Kristen beribadah.

        “Walaupun di Papua mayoritas Kristen namun kami yang beragama Islam leluasa beribadah, jadi harus menjaga toleransi umat beragama, dan kami mengutuk intoleran yang terjadi di Indonesia,” tandasnya. (itb/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *