Giliran Kantor Bupati Biak Numfor Didatangi Massa

DEMO: Bupati Herry Ario Naap, S.Si.,M.Pd ketika menerima massa yang melakukan protes terhadap aksi rasisme dan kekerasan terhadap mahasiswa asal Papua di Malang dan Surabaya, di depan Kantor Bupati Biak Numfor, Rabu (21/8). (Fiktor Palembangan/Cenderawasih Pos)

BIAK-Aksi unjuk rasa yang mengecam tindakan rasisme dan persekusi mahasiswa asal Papua di Malang dan Surabaya berlanjut di Kabupaten Biak Numfor, Rabu (21/8) kemarin.

Setelah sehari sebelumnya Kantor DPRD Biak Numfor yang didatangi massa, giliran Kantor Bupati Biak Numfor didatangi massa.

Massa melakukan long march ke Kantor Bupati Biak Numfor diterima Bupati Herry Ario Naap, S.Si.,M.Pd dan Dandim 1708/BN Letkol. Inf. Ricardo Siregar. Massa yang dipimpin oleh Willem K Rumpaidus, S.Sos., juga dihadiri langsung oleh Ketua Kankain Karkara Byak Apolos Sroyer dan sejumlah unsus masyarakat yang tergabung dalam Forum Aliansi Peduli Keadilan Masyarakat Asli Papua.

Kedatangan pengunjuk rasa itu, kembali menegaskan kecaman terhadap tindakan rasisme dan kekerasan terhadap mahasiswa asal Papua di Malang, Surabaya dan beberapa daerah lainnya.  Terkait dengan itu, maka massa meminta supaya aspirasi yang mereka sampaikan ditindaklanjuti ke Gubernur Papua dan selanjutnya ke Presiden Joko Widodo.

Selain itu, juga meminta bahwa tuntutan aspirasi tidak hanya sampai ditingkat bupati namun dilanjutkan dan mendapat pengawalan tim. Hal tersebut dinilai penting menurut Willem K Rumpaidus sebagai bentuk protes keras terhadap kejadian rasisme dan persekusi tidak lagi terulang.

“Kejadian ini harus menjadi perhatian serius, ini menghina harkat dan martabat kami orang Papua. Kami akan mendorong berbagai aspirasi ini, harus ada tindakan tegas dan sikap tegas pula terhadap kejadian ini,” paparnya.

Hal yang hampir sama dikatakan oleh Ketua Kankain Karkara Byak, Apolos Sroyer.  Dengan tegas menyatakan bahwa kejadian Malang dan Surabaya bukan kejadian biasa-biasa. Namun sudah merupakan penghinaan terhadap masyarakat asli Papua. Pernyataan rasisme dinilai sudah melukai masyarakat Papua.

“Kami tidak terima kejadian di Malang dan Surabaya, ini sudah keterlaluan. Kalau begitu kami juga bisa menyatakan hak politik, kami juga punya harga diri,” tegasnya.

“Saya mengajak semua supaya tidak melakukan aksi-aksi yang berlebihan, kita jaga kota ini dengan baik. Kita tetap berjuang namun dengan cara-cara damai, sampaikan aspirasi dengan baik dan  kita juga memiliki hak politik,” sambungnya.

Sementara itu, Bupati Herry A Naap yang menanggapi sejumlah aspirasi para pengunjuk rasa juga mengaku merasa terhina dengan kata-kata rasisme itu. Bahkan dia menyatakan, mengecam keras kekerasan tindakan rasisme terhadap mahasiswa asal Papua di Surabaya dan Malang dan ke depan tidak boleh terjadi lagi.

“Saya anak asli Biak, rasisme memang telah melukai kita semua. Kita mengecam kejadian ini dan saya akan lanjutnya aspirasi bapak ibu. Namun tentu aspirasi ini disampaikan secara baik, aspirasi ini akan disampaikan ke Bapak Gubernur dan Presiden Indonesia. Saya berharap kita semua tetap menjaga suasana aman dan damai. Saya tidak melarang menyampaikan aspirasi tapi tetap dilakukan dengan benar supaya tidak merugikan kita sendiri,” paparnya.

Setelah unjuk rasa dilanjutkan dengan kegiatan konferensi pers di Gedung Wanita. Dalam konferensi pers itu dihadiri langsung oleh Bupati, Dandim 1708/BN, Kajari, perwakilan pengunjuk rasa, perwakilan pemuda, perwakilan perempuan, perwakilan adat dan perwakilan intelektual Kabupaaten Biak Numfor.

Pada dasarnya konferensi pers kembali menegaskan tentang perlunya menindaklanjuti sejumlah tuntutan yang disampaikan massa menyikapi kejadian rasisme dan persekusi itu.(itb/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *