Pengungsi Anak Masih Banyak, Sekolah Darurat Diaktifkan Lagi 

Anak-anak di pengungsian kembali menempati sekolah darurat untuk melakukan aktifitas belajar mengajar. (Denny/Cepos)

WAMENA-Sekolah darurat yang ada di halaman Gereja Weneroma, Elekma Jayawijaya dikabarkan akan kembali aktif lagi. Sebab, anak –anak pengungsi Nduga di Jayawijaya saat ini masih banyak dan tidak bersekolah, sehingga relawan mengambil inisiatif  untuk kembali membuka sekolah yang telah ditutup oleh Pemda Nduga.

  Salah satu relawan pengungsi Nduga, Raga Kogoya mengungkapkan bahwa sekolah sebenarnya sudah aktif  Juli lalu, tetapi sekolah darurat untuk pengungsi ini baru 5 Agustus mulai daftar sampai 19 Agustus 2019 ini sudah harus belajar, tetapi kondisi bangunan belum selesai lalu guru-guru tidak ada saat ini.

  “Saat ini untuk siswa yang ada dari  31 distrik yang terbagi untuk TK 28 anak, SD kelas 2 sampai dengan kelas  6 ada 506 siswa, SMP 120 siswa, SMA 19 siswa dan SD kelas 1 yang baru masuk baik yang pernah sekolah disana kelas 1 dan hari ini masih kelas 1 sebanyak 161 anak, jumlah total 834 siswa.” ungkapnya Selasa (20/8) kemarin.

   Raga Kogoya mengaku telah berkoordinasi dengan Sekda Nduga untuk memberitahukan jika siswa semua ada di Jayawijaya, sehingga relawan meminta kepada pemda Nduga untuk kirim guru-guru kembali yang ada di Keneyam, tetapi jawabannya nantiakan dibicarakan lagi,

  “Minggu kemarin sebenarnya guru-guru sudah harus ada di sini, tetapi tidak ada, Hari ini kami mau belajar tetapi guru-guru tidak ada, guru yang ada sama kami guru pegawai 1 dan honorer 1 itu pun bukan diperintah oleh sekda maupun kepala dinas hanya inisiatif mereka sendiri.”beber Raga

   Koordinator Tim Relawan, Ence Geong mengaku pihaknya tidak punya hak apapun untuk memutuskan apakah anak-anak berkeinginan pindah atau tidak, tetapi otoritas tertinggi ada pada anak-anak, mereka yang menentukan mereka ingin bersekolah dimana.

  “Kalau mereka putuskan mau sekolah di sekolah darurat kami dukung, dan kami siap fasilitasi karena itu hak mereka. Entah mereka pilih dimana saja kami dukung, namun faktanya anak-anak semuanya memilih di sekolah darurat bukan ke sekolah yang ditawarkan di Jayawijaya,”bebernya

   Kata Ence, ada tiga pertimbangan yang selalu disampaikan anak-anak pertama masalah bahasa, kedua soal perbedaan kualitas pendidikan yang selama ini diterima, dimana mereka di kampung yang gurunya jarang ada, sementara di kota sudah banyak guru dan lancar belajarnya, ketiga adalah masalah trauma.

   Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Nduga, Jennes Sampoue mengatakan jika ia telah diintruksikan oleh pemerintah daerah melalui sekda untuk menutup sekolah darurat Wamena. Anak-anak diberi pilihan mau pindah ke Wamena dan yang mau ke pos ke tempat aman silahkan dan yang mau pindah ke Kenyam silahkan.

  “Saya sudah sampaikan ke tim relawan, dimana sekolah darurat di Wamena sudah ditutup dan jika ada sekolah darurat disana lagi bukan menjadi tanggungjawab dinas lagi,” katanya saat dihubungi, Selasa (20/8).

    Ia juga mengaku jika sejauh ini ada sekitar 1.000 anak sekolah baik SD, SMP dan SMA telah bersekolah kembali di Kenyam di tahun ajaran baru ini. “Sedangkan SD di Mbua juga sudah berjalan baik dan di daerah Giarek, Wosak dan daerah yang aman sudah berjalan. Untuk SMA Mbua, sebenarnya para guru dan siswa sudah siap berangkat untuk kembali kesana, tetapi adanya kejadian kemarin di Habema, sehingga mereka laporkan belum siap mengajar,”tutupnya. (jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *