Kembalikan Jayawijaya Sebagai Penghasil Sayuran

Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua bersama ibu saat melakukan panen sayur kol di Kampung Kosi Hilapok Distrik Hubikosi Jayawijaya (Denny/ Cepos)

WAMENA-Pemda Jayawijaya terus mendorong masyarakat untuk terus mengembangkan sektor pertanian. Selain pangan lokal seperti hipere (ubi), pemerintah juga menginginkan Jayawijaya bisa  kembali menjadi sumber pangan, khususnya pada komoditi sayur–sayuran sehingga bisa dipasok beberapa daerah yang membutuhkan sayuran.

   Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua usai melakukan panen ubi dan sayur di Kampung Kosi Hilapok Distrik Hubikosi mengakui jika potensi pertanian di Jayawijaya sebenarnya sangat bagus dan menjanjika. Apalagi di daerah menuju ke Distrik Musatfak ini dulunya merupakan sebuah akses untuk mendapatkan sayur yang dikirim ke Timika seperti sayur kol, kubis (bunga kol) semuanya dari sini.

  “Saya harap dengan kepemimpinan saya dan wakil, kita harus kembalikan ini. Kita minta OPD terkait lebih banyak turun ke masyarakat agar bisa melihat potensi yang ada dan bagaimana kita bisa mengembalikan kondisi Jayawijaya seperti dulu, sebagai penghasil sayuran di Papua,”ungkapnya Selasa (13/8) kemarin.

  Menurut Bupati , apabila pemerintah memiliki bibit sayuran yang bisa dikembangkan, maka  harus berikan kepada kelompok-kelompok yang mau bekerja. Dalam pemerintahan saat ini bupati ingin meningkatkan kembali sayur dan hipere yang dilihat sudah mulai berkurang agar kembali seperti Wamena yang dahulu yang masyarakatnya dikenal dengan bercocok tanam.

  “Intervensi pemerintah selama ini juga ada dalam dana desa, dimana saya sudah mengeluarkan surat edaran kepada 328 kepala kampung untuk mengalokasikan anggaran kampung kepada masyarakat yang mau bekerja atau membuka lahan pertanian baru,”jelas Jhon Banua.  Pembagian porsi untuk usaha kelompok tani itu, kata Bupati Jhon Banua,  sudah ada di dalam edaran bupati untuk dana kampung. Karena itu, ia  berharap kepala-kepala kampung memberikan bantuan dana kepada kelompok tani yang benar-benar mau bekerja, bukan yang memberikan proposal kepada pemerintah.,

  “Apabila kelompok tani itu bekerja baru kita memberikan bantuan. saya harap begitu dan OPD terkait juga harus benar-benar mengontrol. Apabila ada bibit kita kasih dan kita memantau bagaimana perkembangan ini. Jangan kita cuma mau menerima proposal tetapi kita tidak mau turun ke lapangan untuk melihat langsung.”tegasnya

  Secara terpisah Kepala Dinas Pertanian Hedri Tetelepta mengakui jika upaya agar daerah-daerah yang dulunya potensial untuk pengembangan tanaman horti ini sudah dicoba dihidupkan kembali. Pemda siap mendukung peralatan seperti parang, skop dan ada satu peralatan canggih namanya kultifator atau mesin penggembur tanah sekalian membentuk bedeng,

  “Jadi petani tinggal menanam saja menggunakan mesin itu. Mesinnya kami akan perkenalkan saat penyerahan di sini, kami baru dapat dari kementerian itu sekitar 12 unit untuk dibagi untuk kelompok tani horti yang potensial,”bebernya.

  Untuk daerah yang  potensial dinas Pertanian sudah bagi, untuk kawasan belakang di daerah Asolokobal, Asotipo itu pengembangan keladi, wortel dan sebagainya. Ke wilayah Hubikiak, Hubikosi, Musatfak untuk pengembangan Kol, Sawi, daun bawang.

  “Untuk perkebunan di Jayawijaya kita ada 1.910 hektar, tetapi dibagi lagi dari 1.910 itu ketagori ada 350 lahan baru ditanam, ada sekitar 480 lahan yang sampai saat ini berproduksi, ada juga 1.112 hektar itu dikategorikan lahan yang tidak dirawat, rusak karena banjir dan sebagainya. Sekarang kita fokus di 1.112 hektar lahan yang tidak digarap itu.”bebernya. (jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *