Festival Budaya Lembah Baliem: Keaslian Budaya TetapTerjaga

Semua Informasi Disampaikan Dalam 4 Bahasa

Festival Budaya Lembah Baliem menjadi ikon pariwisata Papua dimata dunia. Keunikan dan keanekaragaman budaya benar-benar menjadi daya tarik yang selalu dinantikan oleh wisatawan manca Negara tiap tahun. Ratusan hingga ribuan turis rela datang jauh-jauh dari berbagai belahan dunia ke Wamena untuk menyaksikan dari dekat pesona budaya yang ditampilkan di festival ini.

Laporan: Lucky Ireeuw – Wamena

Udara dingin menyapa kami ketika turun dari pesawat di Bandar Udara Wamena. Dinginnya sangat terasa di kulit. Di ruang tunggu kedatangan bandara yang baru diresmikan 4 tahun lalu itu, sangat sejuk tanpa AC. Di sekeliling bandara terpampang informasi tentang Festival Budaya Lembah Baliem. Semaraknya sudah terasa sejak di bandara.
Festival Budaya Lembah Baliem ( FBLB) tahun ini diadakan di Distrik Walesi. Tidak jauh dari bandara Wamena, kira-kira 30 menit menggunakan kendaraan, sudah tiba di lokasi festival.
Tiga tahun belakangan, sejak 2017, lokasi festival berturut-turut diadakan di Distrik Walesi. Tahun-tahun sebelumnya, perhelatan festival ini digelar di Distrik Kurulu.
Dari Bandara, ada banyak kendaraan yang menawarkan jasa untuk mengantar ke lokasi festival. Selain mobil, ada juga ojek dengan tarif yang bisa ditawar.
Lokasi festival berlokasi di perbukitan yang lebih tinggi. Luasnya seukuran lapangan sepak bola. Cukup luas untuk berbagai atraksi budaya. Terutama atraksi perang-perangan yang menjadi sajian utama festival ini.
Disisi arena, dibangun tribun utama dan tribun kayu untuk tamu undangan, pengujung, terutama turis untuk menyaksikan dari dekat rangkaian kegiatan yang disajikan.
Setiap tamu yang masuk melalui pintu utama disambut dengan ucapan selamat datang oleh panitia dari panggung utama. Yang menarik, seluruh informasi, agenda, maupun keterangan dari tiap atraksi yang ditampilkan disampaikan dengan jelas menggunakan 4 bahasa. Bahasa lokal ( bahasa Wamena), Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin, sehingga para pengunjung warga asli Jayawijaya dan pegunungan Tengah Papua pada umumnya, warga Kota Wamena dan turis lokal, dan turis manca negara dapat mengikuti dengan jelas setiap rangkaian acara dan informasi.
Berada di festival ini, benar-benar bisa merasakan keunikan dan keaslian budaya masyarakat Lapago, yakni kebudayaan penduduk asli Papua yang di wilayah pegunungan tengah Papua, khususnya yang mendiami lembah baliem yang indah. Pakaian adat, tari-tarian, nyanyian dan atraksi budaya, makanan lokal dan keramahan warga menyatu disana.
Atraksi kolosal perang-perangan, tari-tarian tradisional yang disebut Ethai dalam bahasa setempat, seni merias tubuh dengan berbagai macam assesoris dari suku Hubla, permainan alat musik tradisional pikon (alat music tradisional Suku Dani) dan witawo, lempar sege (tombak tradisional), karapan babi, memasak tradisional bakar batu menjadi sajian tetap yang ditampilkan dalam festival ini.
Ribuan orang menghadiri lapangan terbuka di Kampung Welesi, sebagai pusat penyelenggaraan festival. Berbagai atraksi budaya menarik perhatian pengunjung. Wisatawan asing dan nusantara, warga lokal dan daerah daerah lain di Papua, juga para traveler bercampur baur berburu foto dan merasakan sensasi budaya asli Papua.
Wisatawan juga bisa ikut merasakan dan menikmati tradisi dan kebudayaan setempat. Mereka diberi kesempatan mengenakan pakaian adat seperti koteka dan holim. Ikut bersama warga dalam acara bakar batu, turut serta menari dalam atraksi perang-perangan, ikut lomba melempar Sege, bermain alat music tiup pikon atau tinggal dalam honai, rumah asli warga pegunungan tengah.
Tidak heran, jika festival budaya yang sudah masuk dalam 100 destinasi pariwisata unggulan di Indonesia ini mempunyai daya pikat bagi wisatawan lokal dan manca negara.
Seperti pengakuan, George, turis asal Jerman. Tahun lalu, pertama kali dia datang ke Wamena mengikuti festival ini. Baginya, kekayaan budaya yang dia temui di Wamena merupakan warisan dunia yang sulit didapati di belahan dunia lain. “ Sangat original, kebudayaan ini nilainya lebih dari emas,” ujarnya.
Tahun ini dia kembali ke Wamena dengan membawa 3 temannya. “ Kami excited, dan sangat terkesan,” tambah George yang mengaku bekerja di kapal pesiar di negaranya.
Karena keunikannya, Festival Budaya Lembah Baliem memang sudah mendunia dan menjadi agenda wisatawan asing. Tiap tahun menyedot ribuan wisatawan lokal dan manca Negara. Tahun 2018 lalu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jayawijaya mencatat, 1380 wisatawan asing dan 6000 Wisatawan Nusantara hadir pada pelaksanan FBLB. Wisatawan asing berasal dari China, Amerika, Prancis dan beberapa negara di Eropa serat wisatawan dari Australia. Tahun ini jumlah kunjungan wisatawan manca negara targetkan meningkat dari jumlah kunjungan tahun lalu.
Festival ini juga punya nilai edukasi. Seperti yang saya jumpai, beberapa siswa SMA di Wamena ditugasi dari sekolahnya untuk berdialog dengan turis asing menggunakan bahasa Inggris. “ Kami mencoba kemampuan Bahasa Inggris dengan dialog langsung dengan Turis asing, mereka malah senang, dan banyak bertanya kepada kami tentang hobi, dan macam-macam hal, “ ujar Yafet, siswa SMK di Wamena.
Nampak para wisatawan pun berbaur dengan masyarakat, berdialog sebisanya dengan anak-anak dan warga lokal.
Festival ini juga turut membuat perekonomian di Wamena berdenyut. Flight penerbangan ditambah dari normal. Hotel-hotel dan penginapan sudah dibooking penuh jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan festival. Mobil rental dan motor sewaan laris manis. Begitu juga kerajinan masyarakat seperti noken, patung, gelang dan aksesoris, yang menjadi ciri khas Wamena diburu wisatawan sehingga meningkat penjualannya. Tak ketinggalan makanan lokal, Kopi Wamena yang sedap, dan lainnya ikut laris.
Hal yang menjadi daya Tarik festival tahun ini juga, yakni terjadi pemecahan rekor MURI noken (tas tradisional orang Papua) terpanjang yakni sepanjang 30 meter. Noken ini dipajang di pinggir lapangan tempat dilaksanakan festival.
Selain atraksi-aktrasi di lokaksi festival, ada pula kampung festival, kampus festival dan pasar festival.
Sambil menikmati Kopi Wamena yang harum, mata dimanjakan dengan berbagai corak budaya asli, dan keindahan alam lembah Baliem, serta barisan Pegunungan Trikora yang kokoh diselimuti awan di sejauh mata memandang dari bukit Walesi
Berburu foto hingga memori kamera penuh. Puas menikmati keindahan ciptaan Tuhan dan warisan budaya yang berumur ratusan tahun dan pastinya harus terus dilestarikan.
Tahun ini, FBLB mengambil tema ‘warisan budaya sebagai jejak peradaban’, diikuti 40 distrik yang ada di Kabupaten Jayawijaya.
Kekurangan pasti ada, namun sesungguhnya berbagai festival lain di Papua tentu bisa belajar dari Festival Budaya Lembah Baliem yang sudah mencapai usia 30 tahun pelaksanaannya sejak 1989 sebagai festival budaya tertua di bumi Cenderawasih yang kepopulerannya sudah mendunia. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *