Tingkatkan Akses Pendidikan dan Kesehatan di Papua

PERESMIAN: Menteri PPN Bambang Brodjonegoro (keempat dari kanan)saat melakukan peluncuran Sekolah Terintegrasi Berpola Asrama dan Demonstrasi Telemedicine di Provinsi Papua, di SMAN 3 Jayapura, Rabu (7/8) lalu.

Sekolah Terintegrasi Berpola Asrama dan Telemedicine Diluncurkan

JAYAPURA-Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang menjadi fokus Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, seluruh penjuru Indonesia, termasuk Papua, menjadikan kesejahteraan manusia sebagai fokus pembangunan utama.

Untuk itu, Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo, telah menerbitkan Inpres No. 9 Tahun 2017 tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Papua dan Papua Barat, dengan perhatian utama pada pembangunan pendidikan dan kesehatan.

Dalam dunia pendidikan dan kesehatan, kehadiran teknologi digital dapat mendorong perubahan lebih inovatif dan kreatif di dalam pola belajar-mengajar, konten kurikulum dan pengetahuan terbaru, serta pemerataan pelayanan kesehatan.

“Ini merupakan wujud terobosan pemerintah Indonesia dalam pendidikan dan kesehatan. Kita bersyukur dan berterima kasih, atas komitmen kuat dari IASA (Indonesia American Society of Academics) yang telah menaruh perhatian yang tinggi untuk Papua,” ucap Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro usai meresmikan Peluncuran Sekolah Terintegrasi Berpola Asrama dan Demonstrasi Telemedicine di Provinsi Papua, di SMAN 3 Jayapura, Rabu (7/8) lalu.

“Kita saksikan ada upaya terobosan yang sangat berarti dalam pola pendidikan terintegrasi, khususnya di SMAN 3 Jayapura ini. Keberhasilan pola integrated class akan menjadi model baru dalam kebijakan pendidikan di tanah air. Kita wujudkan dari Papua untuk Indonesia Maju,” sambungnya.

Inovasi pendidikan berupa sekolah terintegrasi berpola asrama merupakan salah satu kebijakan yang sangat tepat untuk Papua. Terlebih mengingat sangat luasnya Bumi Cenderawasih dan sulitnya kondisi geografis yang acap kali berujung pada minimnya akses pendidikan.

Makanya, di sekolah terintegrasi berpola asrama, siswa diajarkan mata pelajaran yang saling terintegrasi, misalnya penulisan laporan praktikum kimia dengan tata bahasa yang baik dan benar, sehingga siswa akan mendapatkan dua nilai sekaligus untuk pelajaran Kimia dan Bahasa Indonesia.

“Tim IASA telah mengembangkan MOODLE (Modular Object-Oriented Dynamic Learning Environment) System, serta memberikan pendampingan secara rutin melalui pembelajaran jarak jauh (e-learning) di kedua sekolah,” terangnya.

Selain itu, Kementerian PPN/Bappenas juga telah memasukkan kebijakan dan program telemedicine ke dalam RPJMN 2020-2024. Menteri Bambang menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kesehatan yang telah memasukkan perencanaan telemedicine ke dalam Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan.

“Kami mengapresiasi setiap kementerian dan lembaga yang terlibat. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memperbaiki sarana-prasarana yang ada di sekolah dan asrama, juga menyelenggarakan pelatihan untuk guru,” ungkapnya.

Sementara itu Kementerian Kesehatan berperan dalam uji coba lokus sejak 2017, pengadaan peralatan telemedicine, serta kegiatan bimbingan teknis sistem telemedicine. Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Informatika berperan meningkatkan aksesibilitas internet untuk menunjang sarana prasana

“Pemprov Papua melakukan seleksi direktur dan pengelola asrama, serta mengalokasikan biaya operasional asrama melalui APBD. Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan HAM menginisiasi kerja sama para profesor IASA dengan Pemerintah Indonesia. Kementerian Luar Negeri juga telah menjadi wadah bagi profesor diaspora untuk berkontribusi dalam pembangunan di Indonesia,” bebernya.

Dalam kunjungan kerja ke Puskesmas Harapan untuk meninjau peragaan model telemedicine, Menteri Bambang menyebutkan bahwa peran IASA dalam mengembangkan metode terintegrasi yang memacu pola pikir komprehensif sehingga pencapaian SDM unggul di masa depan dapat lebih cepat diperoleh.

“Telemedicine sangat penting, mengingat sebanyak 210 dari 294 Puskesmas di Papua belum memiliki lima jenis tenaga kesehatan dasar. Selain itu, tidak semua rumah sakit memiliki pelayanan spesialis lengkap sehingga membutuhkan dukungan tenaga dari rumah sakit lain. Integrasi sistem telemedicine yang sedang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan nantinya akan memangkas hambatan jarak, terutama daerah yang sulit dijangkau seperti Maluku, Maluku Utara, dan daerah 3T lainnya. Telemedicine merupakan salah satu terobosan mengurangi kesenjangan pelayanan kesehatan melalui penerapan teknologi komunikasi,” tambahnya.

“Saya sekali lagi turut mengapresiasi dukungan yang telah diberikan dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan IASA. Saya berharap, apa yang telah dilakukan Kementerian PPN/Bappenas bersama IASA serta Pemprov Papua dengan didukung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, dalam upaya penerapan Sekolah Terintegrasi Berpola Asrama dan Telemedicine dapat terlaksana,” pungkasnya. (gr/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *