Pengungsi Nduga Tolak Bantuan Kementerian PPPA

TATAP MUKA: Menteri PPPA Yohana Yembise saat melakukan tatap muka dengan pengungsi Nduga di halaman gereja Wene Roma, Kampung Ilekma, Distrik Sinakma, Kabupaten Jayawijaya, Kamis (8/8). (Denny/ Cepos)

Tolak Bantuan Karena Tidak Punya Fasilitas Memasak

WAMENA-Masyarakat pengungsi dari Kabupaten Nduga yang ada di Elekma, Kabupaten Jayawijaya kembali menolak bantuan yang nantinya dikirim  oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).

Penolakan ini langsung disampaikan kepada Menteri PPPA Yohana Yembise Saat melakukan tatap muka dengan mama-mama dan anak-anak pengungsi Nduga di halaman Gereja Wene Roma, Kampung Ilekma, Distrik Sinakma, Kabupaten Jayawijaya, Kamis (8/8).

  Salah satu pengungsi yang tak mau disebutkan namanya menyatakan jika pihaknya dari pengungsi tak akan menerima bantuan yang diberikan. Alasanya bahan baku yang diberikan ini tidak bisa dimasak karena tidak memiliki fasilitas untuk memasak,

  “Kami tidak mungkin makan dalam keadaan mentah, fasilitas untuk memasak kami tidak ada, Selain itu, kami orang berbudaya kami tidak akan memakan makanan yang diberikan lewat aparat keamanan. Kami nilai mereka lawan yang ingin membunuh kita,”tegasnya di depan mentri kemarin

  Salah seorang pengungsi Nduga yang berusia lanjut Mama Kinminiklilbid Gwijangge menyampaikan jika hingga saat ini ia dalam keadaan bingung. Bahkan hingga sampai ke Wamena ia juga seperti mimpi dan sadar. Karena selama ini ia tidak pernah ke Wamena dan hanya melakukan aktivitas pertanian di kampungnya di Kabupaten Nduga.

  “Saya hanya tahu menggali tanah dan menanam, tapi saya bingung mengapa saya berada di sini. Saya hanya ingin kembali ke daerah saya dan kembali berkebun seperti dulu. Saya tidak mengerti apa yang terjadi di daerah saya selama ini hingga saya harus berlari ke hutan dan akhirnya ada di Wamena,”ungkapnya di depan Menteri Yohana Yembise.

  Ia juga meminta kepada Menteri PPA untuk bisa membawanya kembali pulang ke Kabupaten Nduga guna melanjutkan aktivitas yang sering dilakukan sejak turun temurun dari leluhurnya. Karena ia tidak tahu dengan apa yang sedang terjadi saat ini.

  Apina Gwijangge mengakui jika ada beberapa mama-mama yang dalam pengungsiannya ke hutan itu melahirkan di dalam hutan. Selain itu sampai saat ini belum ada yang melihat kesehatan dari anak-anak ini, Dimana saat mereka melarikan diri terkena beberapa asap yang diturunkan dari helikopter hingga mengenai kulit bayi itu seperti terkena penyakit cacar air.

  “Sekarang ini saya memiliki keluarga di Wamena, namun juga harus menampung warga yang mengungsi sehingga saya sudah tidak sanggup lagi untuk memberikan makan dan minum. Untuk itu, saya minta ibu menteri agar bisa sampaikan kepada presiden untuk menarik pasukan agar kami bisa pulang,”tuturnya.

  Menanggapi semua keluhan yang dikeluarkan oleh pengungsi Nduga, Menteri PPPA Yohana Yembisa mengakui jika kedatangannya karena diundang Pemkab Jayawijaya dalam rangka Festival Budaya Lembah Baliem. Ia tidak datang secara khusus untuk melihat masalah ini, sesuai dengan tupoksinya. Ia hanya datang untuk melihat kesulitan dari perempuan dan anak –anak dari Kabupaten Nduga di Wamena.

  “Kalau menolak bantuan tidak masalah. Kami bisa arahkan kepada masyarakat yang lain lewat Dinas Pemberdayaan Kabupaten Nduga. Namun yang pasti saya tidak datang untuk melihat masalah ini. Itu ada menteri lain yang memiliki kewenangan. Saya di sini hanya melihat perempuan dan anak –anak,” jelasnya.

  Menteri Yohana juga menegaskan jika, kesulitan yang saat ini dialami perempuan dan anak –anak menjadi fokusnya untuk disampaikan langsung pada presiden. Dimana saat ini anak –anak tidak bersekolah. Kondisi kesehatan wanita juga tidak bisa dilihat dengan baik apalagi yang masih baru melahirkan, sehingga ini yang perlu didorong kepada presiden.

  “Kedatangan saya fokusnya untuk melihat anak –anak dan wanita. Untuk masalah lainnya ada kementerian lain yang memiliki tupoksi untuk melanjutkan itu kepada presiden,” tambahnya.(jo/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *