Noken Sepanjang 30 Meter Masuk Rekor MURI

REKOR MURI: Bupati Jayawijaya, Jhon Richard Banua didampingi Wabup Marthin Yogobi menerima piagam Rekor MURI atas Noken asli sepanjang 30 meter yang diserahkan pada pembukaan FBLB di Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya, Rabu (7/8). (Denny/ Cepos)

Perempuan, Anak, dan Warisan Budaya, Pemersatu Bangsa

WAMENA-Perempuan, anak dan budaya sebagai salah satu pemersatu bangsa. Itulah yang ditunjukkan dalam Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) yang resmi dibuka selama 3 hari.

Kegiatan FBLB tahun ini diwarnai dengan pemecahan rekor MURI atas pencapaian pembuatan Noken sepanjang 30 meter yang diarak oleh 500 penari kolosal. Noken ini akan menjadi warisan budaya.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise dalam pembukaan FBLB ke 30 menegaskan bahwa perempuan harus menjadi sosok terdepan yang mampu menjaga warisan budaya Indonesia. Jangan sampai keasliannya terpengaruh unsur dan budaya negara lain di era globalisasi. Sementara anak sebagai penentu masa depan bangsa juga harus ditanamkan kecintaanya terhadap warisan budaya Indonesia sejak dini.

“Perempuan dan anak harus dijaga serta dilibatkan dalam pembangunan. Termasuk juga pelestarian budaya Indonesia khususnya di Papua ,”ungkapnya saat  membuka Festival Lembah Baliem yang ke-30 Tahun 2019 yang mengusung tema Warisan Budaya Sebagai Jejak Peradaban di Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya, Rabu (7/8).

Menteri Yohana mengatakan eksistensi FBLB ke-30 Tahun 2019 menjadi pembuktian kepedulian pemerintah dan masyarakat Indonesia terhadap pelestarian warisan budaya lokal.

“Saya sangat bangga dapat membuka acara Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) yang ke-30 tahun ini. Melihat keragaman warisan budaya tanah Papua membuat saya semakin bangga menjadi orang asli Papua. Perempuan, anak, dan warisan budaya tidak dapat dipisahkan. Sebab mereka berperan sebagai unsur pemersatu dan penentu masa depan bangsa,”bebernya

Sementara itu, Bupati Jayawijaya, Jhon Richard Banua menyebutkan, FBLB merupakan festival seni dan budaya tertua di tanah Papua yang terus hadir untuk melestarikan warisan budaya Papua. Festival ini terinspirasi dari kehidupan masyarakat Papua di masa lampau khususnya perang suku Papua.

“Sepanjang masa jabatan saya sebagai bupati, Menteri Yohana merupakan menteri pertama yang hadir dan membuka FBLB di Wamena. Saya sangat bangga dan berterima kasih kepada beliau yang telah berkenan datang ke Wamena,”kata Bupati Jhon Banua.

Jhon Banua menambahkan selama 30 tahun berlangsung, FBLB telah memberikan banyak dampak positif dalam membentuk pola pikir masyarakat lokal di Jayawijaya, untuk semakin mengerti bahwa perang suku sesungguhnya sangat merugikan sosial masyarakat lokal. Perang suku seharusnya dapat dilestarikan dengan cara yang memiliki nilai edukasi salah satunya melalui FBLB ini.

“FBLB juga menjadi sarana melindungi nilai-nilai seni, budaya, dan adat Papua serta mendorong peningkatan sektor pariwisata, pembangunan, dan ekonomi masyarakat lokal.”jelasnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Pengembangan dan Pemasaran I Kementerian Pariwisata, Rizki Handayani menuturkan FBLB yang sudah mencapai tahun ke-30 menjadi bukti komitmen pemerintah dalam upaya pelestarian warisan budaya Papua.

Diakuinya, 30 tahun berjalan, FBLB tetap eksis berada dalam Top 100 Calendar of Events Wonderful Kementerian Pariwisata.

“Beberapa faktor pendukungnya ialah sebuah festival tersebut memiliki nilai budaya dan kreativitas, memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat lokal, dan komitmen pemerintah daerahnya dalam menyelenggarakan festival budaya,” tambah Rizki.

Rizki Handayani menyatakan jika besar harapan agar festival budaya seperti ini akan terus ada setiap tahunnya baik di tanah Papua maupun di daerah lain di Indonesia. Budaya menurutnya merupakan salah satu identitas sebuah bangsa, oleh karena itu harus dilestarikan. (jo/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *