Noken Asli  30 Meter Siap Masuk Rekor Muri

Ketua Kelompok perajin noken Kampung Waga–waga Distrik Kurulu Maria Logo Saat menyerahkan Noken yang akan masuk dalam rekor Muri sepanjang 30 meter Kepada Bupati Jayawijaya di Distrik Welesi, Senin (5/8). (Denny/Cepos)

WAMENA-Noken asli dari serat kulit kayu yang berukuran raksasa untuk masuk dalam rekor Muri Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) ke-30 diserahkan oleh masyarakat Kampung Waga-waga Distrik Kurulu kepada Pemkab Jayawijaya. Dengan diserahkannya noken itu, masyarakat meminta kepada Pemda untuk membangun asrama bagi anak –anak yatim piatu di distrik tersebut nanti.

   Menurut Ketua Kelompok Perajut Noken Distrik Kurulu Maria Logo,  noken  dibuat sejak tiga tahun lalu, tepatnya  22 Desember tahun 2016 oleh 4 orang perajin. Untuk membuat noken sebesar ini, mereka harus mencari bahan bakunya   di gunung.

  “Di daerah ini memang jauh dari tempat tinggal kami, namun disanalah kita bisa mendapatkan bahan baku untuk membuat noken ini, dan noken ini kami rawat seperti anak sendiri sehingga terhindar dari api maupun air ini merupakan noken kepala,”ungkapnya senin (5/8) kemarin usai diserahkan kepada Bupati Jayawijaya.

  Awalnya, Maria Logo dan Kawan –kawannya ini membuat noken dasar atau yang sering digantung didada, namun karena banyak yang membuat seperti itu akhirnya mereka merubah bentuk noken itu menjadi Noken kepala, sehingga untuk noken ini mendapat 30 Meter sehingga dapat 600 IL, dimana 1 Meter itu mendapat 20 IL.

  “Noken ini awalnya dibuat berkelompok sekitar 40 orang lebih,  tapi karena tak ada bantuan dari pemda 3 tahun lalu akhirnya ibu –ibu ini keluar dan hanya 4 orang yang bertahan dan bisa menyelesaikan noken ini,”jelasnya.

  Usai menyerahkan noken ini, Maria Logo, meminta langsung kepada Bupati sebuah bangunan asrama yang diperuntukan untuk anak –anak yatim piatu di Distrik Kurulu khususnya kampung waga –waga, karena ia melihat yang membuat noken ini adalah mama-mama yang sudah janda, dan ia melihat disekelilingnya banyak anak yatim piatu yang ingin hidup seperti anak lain, mama –mama membuat noken ini agar bisa dilihat oleh pemerintah dan akhirnya doa mereka terjawab ditahun 2019 ini.

  “Karena tidak mempunyai ibu dan ayah, anak –anak ini terlantar sehingga kami sebagai mama sangat prihatin sehingga bagaimana caranya bisa mengumpulkan anak –anak yatim piatu ini untuk memberikan kasih sayang kepada mereka dimana ada 84 anak yatim piatu di Kampung waga –waga sehingga kami ingin pemerintah membangun fasilitas asrama bagi mereka,” kata Maria.

  Secara terpisah Bupati Jayawijaya, Jhon Richard Banua mengakui jika panitia tetap memberikan biaya untuk pembuatan noken itu, namun tadi permintaan dari mama –mama yang buat noken itu untuk meminta asrama anak –anak yatim bisa sekolah.

  “Sebenarnya mama –mama perajin ini tidak mau menjual noken itu, mereka meminta untuk mendirikan asrama, tapi kami dari pemerintah tetap memberikan kompensasi pembuatan noken itu dan untuk asrama kami tetap akan melihat itu bagaimana bisa membuat satu asrama untuk anak –anak yatim piatu ini,”tutur Bupati Jhon Banua.(jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *