Rekor Muri FBLB Terancam Batal

Mama –mama Pembuat noken saat menunjukan rajutan noken raksasa yang akan masuk dalam rekor muri saat pelaksanaan FBLB ke 30 Agustur mendatang. (Denny/Cepos)

WAMENA-Rencana  Pemda Jayawijaya untuk membuat mencatatkan rekor Noken Raksasa di Museum Rekor Indonesia (Muri) pada pelaksanaan Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) ke 30, terancam batal.

Pasalnya mama-mama pembuat noken meminta tambahan biaya pembuatan noken yang sudah dikerjakan selama 5 bulan oleh 20 orang. Jika hal ini tak ditanggapi Noken itu tak akan diserahkan dan itu artinya tak ada rekor Muri.

   Salah satu pembuat Noken Rike Asso mengaku sejak awal tak permah ada kesepakatan dengan Dinas Kabudayaan dan Pariwisata Jayawijaya tentang berapa nilai anggaran yang diberikan dalam pembuatan noken raksasa  di Distrik Asotipo, sehingga mereka baru mengetahui nilai anggaran yang disiapkan oleh pemerintah untuk pembuatan noken tersebut.

  “Kemarin pada saat kunjungan Kepala Dinas Kebudayaan  dan Pariwisata untuk melihat hasil noken dengan EO (Event Organizer) kami baru tahu jika anggaran yang disiapkan untuk 20 orang pembuat noken ini Rp 100 juta, kami minta kepada panitia untuk tambah sedikit kalau tidak kami tidak serahkan hasil rajutan noken ini,” ungkapnya kepada wartawan saat ditemui di rumahnya, Sabtu (27/7) kemarin.

   Menurut mereka, anggaran Rp100 juta yang disiapkan untuk 20 orang pembuat noken ini jika dibagi per orangnya mendapatkan Rp 5 juta, ini tidak sesuai dengan hasil pekerjaan rajutan noken yang  ukuranya totalnya panjang 60 meter dan lebar 3 meter. Sebab,  waktu merajut noken ini hanya bisa dilakukan di malam hari, sehingga mereka bisa mengorbankan waktu istirahat untuk merajut noken.

  “Kita minta pemerintah atau panitia bisa memberikan sedikit tambahan kepada kami karena pengerjaan noken berukuran besar ini tidaklah mudah dan juga harus dikejar, kami  bisa mengerjakan rajutan itu hingga pukul 02.00 WIT bahkan 03.00WIT dini hari, hanya untuk mengejar waktu penyelesaian,”ucap Rike Asso.

  Di tempat yang sama Defi Aso mengaku jika, 20 orang pembuat noken berukuran  besar ini telah sepakat bersama untuk meminta tambahan biaya pembuatan noken, sehingga kalau masalah ini tidak dijawab dengan baik oleh pemerintah atau panitia pelaksana FBLB maka mereka juta tak mau menyerahkan noken tersebut yang direncanakan akan masuk dalam rekor muri Nasional.

  “Semula kami kira untuk biaya pembuatan Rp 10 juta per orang, namun setelah kami dengar kemarin kami agak kecewa sehingga kami sudah sampaikan untuk meminta tambahan tetapi belum ada jawaban tentang permintaan kami,”katanya.

  Hal yang sama juga disampaikan oleh Wurke Asso dan Kori Asso, yang mengaku jika pembuatan noken ini sudah diselesaikan oleh 9 orang perajut yang memasukan rajutanya, tinggal 11 orang yang belum dan mungkin dalam waktu dekat ini akan segera diselesaikan karena setiap orang merajut 3 meter dan akan disambung hingga sesuai dengan ukuran, tetapi sebelum noken ini diambil maka harus dibayar terlebih dulu.

  “Kami minta kalau pemerintah ingin mengambil noken ini maka harus langsung membayar terlebih dulu barulah bisa mengambil noken ini,”tegas mereka.(jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *