Kemensos Pastikan Kematian Pengungsi Nduga Bukan KLB

Pertemuan Dirjen Linjamsos Kemensos Harry Hikmat bersama Pemda Nduga, Jayawijaya, Dandim 1702 /Jayawijaya dan Kapolres Jayawijaya untuk memastikan keakuratan  data kematian 130an pengungsi Nduga di Kodim 1702/ Jayawijaya. (Denny/ Cepos)

WAMENA  Dirjen Perlindungan Jaminan Sosial dan Kementerian sosial Harry Hikmat memastikan bahwa kronologis atas kejadian yang dikategorikan sebagai bencana sosial,  harus benar-benar akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Terkait  dengan pengungsi Kabupaten Nduga, diakui ada kendala serta informasi yang beredar di kalagan masyarakat saat ini

   Dalam kujungannya ke Wamena, Harry menilai pemberitaan yang beredar ini banyak tidak benarnya. Salah satu yang juga bisa pastikan jumlah orang yang meninggal hingga 130-an orang, tidak dapat atau belum dapat dibuktikan kebenarannya karena tidak ada fakta-fakta yang mendukung terhadap data tersebut.

  “Yang kami peroleh data resmi dari kementerian kesehatan yang juga telah divalidasi oleh tim yang juga terkait langsung dengan Dinas Kesehatan di Kabupaten Nduga, yang dapat diinformasikan ada 53 orang yang meninggal 23 diantaranya anak-anak.” ungkapnya  di Markas Kodim 1702 / Jayawijaya, Senin (29/7) kemarin.

   Analisis yang disampaikan pusat, Kata Harry Hikmat, krisis kesehatan masyarakat yang ada di kementerian kesehatan menyatakan bahwa data tersebut data yang bukan kejadian luar biasa karena dari catatan  sejak Desember 2018 hingga 2019 adalah sebuah angka meninggal akibat dari sakit atau usia dan banyak faktor lain yang sebenarnya tidak bisa disebut sebagai kejadian yang luar biasa oleh kementerian kesehatan.

  “Apabila ada informasi lebih lanjut tentang hal tersebut, kementerian kesehatan siap untuk melakukan klarifikasi lebih lanjut, dan tentu dengan dukungan fakta dan data yang akurat.”katanya

  Di tempat yang sama Sekda Kabupaten Nduga Namia Gwijangge mengakui jika Jumlah pengungsi 11 distrik yang betul-betul terjadi konflik itu ada sekitar 39.000 orang. itu tersebar di Wamena, Kuyawage, Keneyam, Timika, Kroptak, Yuguru, Paro dan ada yang masih di hutan.

  “Kemarin-kemarin ada musim buah pangdam tetapi sekarang mereka kesulitan makanan dalam hutan, karena musim buah pangdam sudah habis. jadi yang lain mereka masih ada di hutan-hutan.”ujarnya

   Namia mengaku   sudah perintahkan kepala-kepala distrik, kepala kampung, dinas sosial mengambil data itu. Namun sampai sekarang data valid belum disampaikan sehingga pemda Nduga akan lengkapi sehingga menyangkut bantuan-bantuan itu betul-betul sampai ketangan mereka.

       Sementara itu Dandim 1702 / Jayawijaya Letkol Inf. Candra Dianto memastikan jika  jika adanya  personel TNI/Polri berada di Nduga tujuan utamannya untuk mengawal dan juga atas permintaan dari instansi terkait guna mengamankan beberapa objek infrastruktur yang nantinya menjadi jalan untuk membuka keterisolasian wilayah pedalaman di Nduga,

   “Saya sepakat jangan kita munculkan rasa menakut-nakuti rakyat seperti yang sering dihembuskan sehingga masyarakat yang tidak tahu apa-apa, ikut-ikutan menjadi rasa takut.”jelasnya

   Karena itu, Dandim minta kepada rekan-rekan media, jangan terlalu ekspos adanya rasa ketakutan dan sebagainya. “Ini yang perlu kita atensi supaya di masyarakat Nduga kehadiran kita adalah untuk mengayomi, kita ada untuk masyarakat, mengatasi kesulitan masyarakat.”bebernya.(jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *