Marinus Yaung Sinyalir Ada Penjualan Amunisi ke KKB

Terkait Kiriman Foto KKB dengan Ratusan Amunisi

JAYAPURA-Sebuah postingan di media sosial dua hari terakhir milik pengamat sosial politik Universitas Cenderawasih, Marinus Yaung cukup mencengangkan.

Bagaimana tidak, dalam postingan tersebut menjelaskan tentang dugaan penjualan amunisi peluru yang dilakukan oknum aparat keamanan kepada kelompok separatis bersenjata.

Yaung berharap para komandan yang memimpin pasukan di daerah terisolir bisa  mengecek lebih ketat amunisi  anggotanya agar tak menyeberang ke kelompok yang salah.

“Saya mendapat kiriman foto ini dari anggota kelompok TPNPB Egianus Kogoya di Ndugama, ini membuat saya cukup terkejut. Kabar terakhir yang saya dengar senjata dan amunisinya berkurang, tapi melihat foto ini  dengan banyaknya peluru di depan saudara Egianus Kogoya, saya semakin yakin bahwa konflik berdarah di Nduga ini proyek keamanan,” kata Yaung dalam tulisannya ketika dikonform, Ahad (21/7). Ini menurutnya ada upaya untuk terus merawat dan melanggengkan konflik dan kekerasan di Papua.

Ratusan prajurit TNI dan Polri yang bertugas di wilayah operasi pegunungan tengah Papua disinyalir ada oknum  yang berperan sebagai  sumber atau ‘pabrik’ peluru dan amunisi bagi kelompok separatis Papua. “Cukup mengherankan bagi saya, Pangdam Cenderawasi silih berganti, Kapolda Papua juga demikian, tapi tidak ada yang mampu mengontrol dan mengawasi dengan ketat anak buahnya di lapangan. Transaksi senjata dan peluru bisa terjadi di Kota Jayapura, di Sentani, di Kota Wamena, di jalan Trans Papua  antara oknum aparat keamanan dengan kelompok separatis tanpa pernah bisa dihentikan secara tuntas,” bebernya.

Ia menilai operasi di Nduga yang dilakukan aparat keamanan jangan hanya untuk memutuskan suplay makanan kepada kelompok separatis tetapi bagaimana harusnya bisa memutuskan suplay peluru. “Yang saya khawatirkan adalah konflik Nduga akan didesign semakin besar dan akan menjadi  pasar dagang senjata  yang bisa mengundang broker asing ikut mengambil pran di dalamnya,” sindir Yaung.

Dipilahkan bahwa bila konflik di Poso pimpinan Santoso, diciptakan oleh mereka sendiri untuk menjadikan konflik bersenjata di Poso menjadi besar dengan tujuan agar Poso menjadi pintu masuk para jihadis ISIS. Namun untuk konflik di Nduga, Yaung menyebut ada perbedaan motif.

“Ini karena aktor keamanan di Papua punya tujuan menjadikan konflik Nduga sebagai proyek keamanan dan bisnis orang kuat di Jakarta guna kepentingan para aktor keamanan sendiri. Kepentingan aktor keamanan antara lain bisa untuk karir prajurit, kepentingan ekonomi, kepentingan training prajurit, kepentingan peningkatan alutsista, dan lainnya,” imbuhnya.

Pendapat lainnya  untuk menghilangkan konflik Nduga adalah semua pemangku kepentingan melakukan dialog dan berbicara bersama serta saling terbuka. Serta siap untuk dikoreksi setelah itu bersama-sama sepakat dan buat perjanjian perdamaian bersama untuk tanah Papua.

Semua pihak baik TNI, Polri dan masyarakat sipil Papua, menurutnya harus duduk bersama dan mendorong dialog guna menemukan kata sepakat menjaga dan melindungi nilai kemanusian juga hak hidup setiap warga negara di atas tanah Papua.

“Kalau kita sudah sepakat, saya pikir orang-orang kuat  di Jakarta yang terus mengambil keuntungan atas konflik Papua tidak akan mudah bermain-main lagi dengan bisnis keamanan ini. Selain itu para komandan harus memperhatikan dan mengawasi ketat anak buahnya,” ujarnya.

Khusus buat pasukan yang di-BKOkan ke Kodam Cenderawasih maupun Polda Papua, Yaung meminta  para komandannya harus mengawasi betul anak buahnya. Karena biasanya habis masa tugas operasi, peluru dan amunisi yang masih tersedia ini bisa saja dijual ke kelompok separatis Papua.

Sementara itu, terkait dengan beredarnya foto OPM yang dikelilingi amunisi, Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi mengatakan belum ada klarifikasi tentang kebenaran foto tersebut.

“Sumber dan senjata juga bisa berasal dari mana-mana, tidak melulu dari TNI-Polri,” ucap Aidi saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Minggu (21/7). (ade/fia/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *