Fotografer Papua Pamer “Wajah” Anak Papua

HARI ANAK – Para fotografer Papua tengah menyusun puluhan foto anak yang akan dipajang dalam pameran foto  yang digelar di aula Dewan Kesenian Tanah Papua (DKTP), Minggu (21/7) (Gamel Cepos)

JAYAPURA – Menyambut Hari Anak Nasional pada 23 Juli besok, lima fotografer Papua yaitu Sonny Wanda (LSM) , Marzuki Jafar (Konsultan), Jerry Rumasen (ASN), Ed Marthin (ASN) dan Dian Mustikawati (Fotografer) mengkonsep satu pameran foto yang  bertema Anak Kita Harapan Kita.

Sebanyak 56 frame foto “wajah” anak Papua akan disajikan dalam pameran foto kolaborasi ini. Lima fotografer ini ingin menunjukkan soal kondisi ril keseharian dan  lingkungan anak yang ada saat ini.

“Harus kami katakan bahwa fotografi selalu memberi pesan pada sosial masyarakat. Ada satu hal yang penting jika dilihat dari lingkungan sosial bahwa ada banyak hal yang harus diperhatikan mulai kondisi lingkungan sosial hingga berdampak pada kesehatan dan pendidikan anak,” kata Sonny Wanda di gedung Dewan Kesenian Tanah Papua (DKTP), Ahad (21/7).

Kegiatan pameran foto ini sendiri akan digelar selama tiga hari di DKTP    dan kata Sonny  selama tiga hari itu isu anak dan kesehariannya akan ditonjolkan. “Ada banyak perbandingan  foto dengan berbagai persepsi dan kami coba mengkolaborasikan dalam pameran. Setiap orang yang datang orang akan menempelkan pesan masing-masing dan itu sah-sah saja,” tambahnya.

Disini Ia juga mengajak para fotografer lain untuk lebih berani bermain dalam pameran foto. Jangan hanya memotret kemudian menungu like di media sosial. “Jangan hanya sekedar memotret dan file disimpan tapi harus berdampak pada lingkungan,” saran pria yang memotret sejak tahun 1996 ini.

Senada disampaikan Dian Mustikawati bahwa saat ini dunia fotografi di Papua berkembang pesat. Ada banyak sosok yang mulai menjadikan dunia fotografi sebagai hobby. “Tinggal bagaimana harus memunculkan lewat pameran, saya pikir jika berkolaborasi tentu semua akan mudah,” jelasnya.

Lainnya adalah menyangkut pesan foto, kata Dian ia dan empat temannya ingin menitipkan pesan bahwa saat ini anak-anak di Papua belum memiliki ruang yang tepat untuk bermain. “Akhirnya kebanyakan anak-anak hanya akan terpapar pada gadget padahal pada usianya mereka harusnya bermain dan mengenal lingkungan tapi sayang mereka tak punya tempat untuk itu,” imbuhnya. (ade/gin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *