Garap Pasar Pasific Dianggap Tak Menguntungkan

Marinus Yaung

“Bapak Gubernur Papua Lukas Enembe, ekspor produk – produk unggulan Papua ke pasar Asean dan Asia Timur jauh lebih menggiurkan dan menguntungkan dibandingkan ke pasar Pasifik Selatan,”Yaung

JAYAPURA – Usai  menghadiri pertemuan Pasific Expedition 2019 yang digelar di Skycity Auckland, New Zealand, Pemerintah Provinsi Papua mengutarakan ingin menggarap Pasar Pasific untuk menumbuhkan perekonomian Papua yang selama ini terbilang lambat.

Negara-negara Pasific dianggap menyimpan peluang bagus untuk dijadikan pasar perdagangan berbagai komoditi dan produk yang ada di Papua. Paling tidak tujuannya adalah Papua menjadi satu sentral pendistribusian barang yang ada di Indonesia yang akan diteruskan ke kawasan Pasific.

Namun terkait ini pengamat sosial politik Universitas Cenderawasih, Marinus Yaung justru berpendapat bahwa pasar Pasific tak akan menguntungkan Papua dan saat ini lokasi Pasific belum bisa memberi angin segar untuk pertumbuhan perekonomian di Papua. Yaung justru berpendapat untuk menggarap pasar di Asia yang nyata-nyata sudah jelas kekuatannya.

“Pemda Papua harus tau bahwa negara – negara Pasifik Selatan bukanlah pasar prospektif bagi para pelaku usaha dan pebisnis di New Zealand, Australia dan Indonesia. Khusus untuk Indonesia, sampai saat ini belum ada investor besar yang berani mengambil resiko menginvestasi modalnya di pasar Pasifik Selatan dan ini harus diketahui,” kata Yaung yang terkonfirmasi, Kamis (18/7).

Ia menyarankan bila ingin tetap melirik pasar di pasific selatan, yang perlu dipertanyakan adalah apakah Pemprov Papua dan dunia usaha di Papua sudah menyiapkan konsep “market intelligence” dengan baik dan lengkap sehingga data dan informasi tentang karakteristik pasar di Pasifik Selatan bisa dipahami dan diketahui dengan tepat dan komprehensif.

Pasalnya, barang – barang manufaktur dan komoditi lokal di Papua yang memiliki nilai ekonomis yang sedang diproduksi massal di Papua ini yang perlu disiapkan sebelum bicara soal mengakses pasar ekspor luar negeri. Pasar Asean diyakini jauh lebih menguntungkan di bandingkan pasar Pasifik Selatan.

Yaung sedikit memberi informasi bahwa para pelaku usaha dan bisnis Indonesia tidak ada yang berani mengambil resiko masuk pasar Pasifik Selatan. Faktor jumlah penduduk yang sedikit dan mayoritas hidup di bawah garis kemiskinan jika merujuk standar PBB penghasilan perhari masih di bawa 1,9 dolar AS  serta ketergantungan yang besar terhadap bantuan asing termasuk tingkat pertumbuhan ekonomi yang relatif kecil bila dilihat dari nilai PDB nya per tahun. “Dan itu merupakan kondisi ril pasar Pasifik Selatan saat ini,” imbuhnya.

Karena Yaung menyarankan  agar Gubernur memikirkan kembali dengan matang pasar soal perdagangan mana yang wajib diakses oleh Papua.

“Tapi sebelum bicara mengakses pasar Pasifik Selatan, yang sepertinya bermotif politik dibandingkan ekonomi, pikirkan dulu bagaimana membangun sentra – sentra pertumbuhan ekonomi masyarakat asli Papua di beberapa titik strategis agar sentra – sentra ekonomi tersebut bisa menjadi tempat bagi pelaku usaha dan bisnis UMKM orang asli Papua beraktivitas dan membangun usaha dan bisnisnya,” sarannya.

Setelah itu mempercepat infrastruktur dasar publik untuk proses konektivitas sentra – sentra ekonomi dan kelompok UMKM dengan pasar perdangannya.

Pasar – pasar tradisional juga perlu dibangun lebih banyak dan batasi pembangunan mall dan ruko. Bila para pelaku UMKM sudah memiliki modal dan intensif yang cukup karena diuntungkan dari pengembangan sentra – sentra ekonomi yang sehat dan berkualitas, maka bukan saja pasar Pasifik Selatan yang akan diakses, pasar Asean dan Pasar Asia Timur ( Tiongkok, Korea Selatan dan Jepang ) akan bisa diakses.

“Bapak Gubernur Papua Lukas Enembe, ekspor produk – produk unggulan Papua ke pasar Asean dan Asia Timur jauh lebih menggiurkan dan menguntungkan dibandingkan ke pasar Pasifik Selatan. Kalau bapak Gubernur berpikir untuk kemajuan dan kesejahterahan orang asli Papua yang bisa diperoleh dari sektor perdagangan luar negeri, maka untuk sementara lupakan pasar Pasifik Selatan. Biarlah itu menjadi urusan pemerintah pusat dan dubes New Zealand,” imbuhnya. (ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *