Tak Ada Biaya, Sejumlah Anak Korban Bencana “Dirumahkan”

Robert Mboik Cepos
Beberapa anak yang menjadi korban bencana saat ini ditampung di posko pengungsian SKB.
Minimnya biaya menjadi kendala mereka tidak bersekolah, Rabu (17/7)

SENTANI-Sejumlah anak yang menjadi korban banjir bandang di Kampung Kemiri Sentani yang masih ditampung di posko pengungsian SKB tidak bisa melanjutkan pendidikannya lantaran minimnya biaya pendaftaran.

“Ada yang tidak sekolah karena tidak ada biaya pendaftaran,” ungkap Aser Suebu salah satu RT dari kampung Kemiri kepada ceposonline.com di Posko penampungan SKB Sentani, Rabu (17/7).

Akibatnya, sejumlah anak yang tidak memiliki biaya itu akhirnya harus dirumahkan alias tidak melanjutkan pendidikannya baik SD,SMP bahkan SMA. Tidak diketahui sampai kapan mereka akan bertahan dalam kondisi seperti itu. Mereka bahkan menyebut ada beberapa orang tua bahkan rela hutang meminjam uang demi mendaftarkan anaknya ke lembaga pendidikan.

Mereka beralasan minimnya biaya pendidikan itu disebabkan karena orang tua siswa rata-rata tidak lagi memiliki pekerjaan seperti sebelumnya.

“Kalau sebelum bencana kami masih ada Pinang kami bisa jual dan berbagai kegiatan kami bisa lakukan tetapi saat ini tidak bisa untuk makan saja sulit,” ungkap salah satu pengungsi yang tidak mau disebut namanya.

Mengenai masalah ini menurutnya sudah disampaikan ke Pemerintah Daerah Kabupaten Jayapura melalui koordinator posko pengungsian di SKB Sentani. Namun hingga saat ini belum ada jawabanya.

Mereka berharap, pemerintah dalam hal ini dinas pendidikan bisa melihat persoalan ini. Sampai sekarang, anak anak ini tetap bertahan di posko pengungsian meski dalam kondisi yang serba terbatas.

“Kami sudah sampaikan koordinator dan menurut informasi sudah disampaikan ke dinas pendidikan tapi kami belum mendapatkan informasi,” ujarnya yang diamini warga lainya.

Warga berharap, bupati Mathius Awoitauw bisa mengambil kebijakan khusus bagi keluarga yang mengalami langsung masalah ini. “Mungkin pak bupati bisa merekomendasikan melalui dinas terkait supaya anak anak korban bencana ini bisa diberi keringanan dalam hal biaya pendaftaran, dan lainnya.Kami sangat kesulitan tidak dibuat buat,” imbuhnya.

Mirisnya lagi, sejumlah anak SMA yang menjadi korban bencana ini harus menelan pil pahit setelah mereka dinyatakan tinggal kelas dalam ujian kenaikan kelas beberapa waktu lalu.

Hal ini bukan tanpa sebab, keterbatasan yang dialami siswa dan orang tua setelah kejadian bencana itu akhirnya berdampak pada pendidikan anak disekolah.
“Banyak anak yang tidak sempat kumpul tugas, kondisi serba sulit sehingga mereka tidak naik kelas,” ungkap Aser lagi. (roy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *