Serasa Tidak Pernah Berpisah, Latihan Lebih Berwarna

Pelatih kepala Persipura Jayapura, Jacksen F. Tiago. ( FOTO: Erik / Cepos)

BERI ARAHAN: Pelatih Persipura Jayapura, Jacksen F. Tiago saat memberikan arahan dalam latihan perdana bersama Persipura di Stadion Mandala Jayapura, Sabtu (14/7) pagi. (Erik/Cepos)

Mengintip Latihan Perdana Persipura Jayapura Bersama Jacksen F. Tiago

Setelah berpisah selama kurang lebih 4 musim, Jacksen F. Tiago kembali ke Kota Jayapura untuk melatoh Persipura Jayapura. Bagaimana jalannya latihan perdana Persipura bersama Jacksen F. Tiago ?

Laporan: Erianto, Jayapura

SABTU (13/7) pagi sekira pukul 08.00 WIT., Boaz Solossa dan kawan-kawan kembali menjalani latihan rutin di Stadion Mandala Jayapura.

Latihan yang dijalani skuad Mutiara Hitam julukan Persipura Jayapura tersebut merupakan latihan perdana di bawah arahan Pelatih Kepala Jacksen F. Tiago.

Pelatih kepala asal Brasil ini bukan orang baru bagi Persipura dan publik sepakbola di tanah Papua. Sebelum kembali menukangi Persipura menggantikan Luciano Leandro Gomes yang dilepas manajemen Persipura, Jacksen Tiago pernah menukangi Persipura dari tahun 2008-2014.

Selama menangani Persipura, Jacksen memberikan tiga gelar Liga Super Indonesia yaitu musim 2008/2009, 2010/2011 dan 2012/2013.

Kembalinya pelatih kelahiran Rio de Janeiro, 28 Mei 1968 ini, membawa aura berbeda dalam latihan akhir pekan kemarin. Terlihat suasana latihan pun berubah. Bahkan pelatih berusia 51 tahun itu berhasil membuat suasana latihan menjadi berwarna, tak seprti pelatih-pelatih sebelumnya.

Meski matahari pagi di Stadion Mandala yang begitu menyengat, tak membuat semangat para penggawa Mutiara Hitam redup melahap semua porsi latihan yang diberikan sang pelatih.

Pemain begitu semangat dan menikmati jalannya latihan. Suara tegas dari sang pelatih juga membuat pemain benar-benar fokus sepanjang latihan.

Pengalamannya menukangi Persipura, membuat Jacksen tidak kesulitan beradaptasi dan mengenal karakter para pemainnya. Hal itu yang membuat Jacko sapaan akrabnya tidak canggung dalam latihan pertamanya. Justru, ia terlihat seolah-olah tak pernah berpisah dengan tim kebanggan masyarakat Papua itu.

Pemain pun demikian, mereka tidak menganggap Jacksen sebagai orang baru bagi mereka. Bahkan, dalam latihan batas seorang pelatih dan pemain tidak terlihat. Justru Jacksen berhasil menjadi sosok ayah bagi para pemainnya.

Setelah menjalani latihan sekira dua jam, Jacksen diserbu oleh puluhan masyarakat atau pencinta Persipura yang sangat antusias dan rindu dengan sosok Jacksen.

Moment ini dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berswafoto bersama Jacksen. “Selamat datang Jacksen, selamat datang Jacksen, welcome back Papi Jacko”. Itu adalah kata-kata yang terucap dari bibir masyarakat yang langsung menemui Jacksen usai latihan.

Sambutan hangat dari masyarakat sempat membuat sang pelatih meneteskan air mata. Jacksen seolah tak percaya bahwa ia begitu dirindukan oleh masyarakat Papua.

Ia sempat tertunduk, kemudian menghampiri masyarakat yang sudah menunggunya sepanjang latihan. Jacksen kembali menunjukkan keramahannya dengan mengajak masyarakat berbincang-bincang. Tak sedikit dari mereka memeluk Jacksen dengan erat layaknya anak yang dipertemukan oleh seorang ayah setelah berpisah bertahun-tahun.

Saat dihampiri Cenderawasih Pos, Jacksen juga menyambut dengan hangat.

Terkait alasan utamanya kembali ke Persipura,  Jacksen mengaku bahwa itu semua adalah jalan Tuhan yang menuntunnya kembali bersama Persipura.

“Ini adalah jalan-jalan Tuhan buat saya untuk kembali ke Persipura. Bukan karena jasa saya yang dulu tapi ini karena karunia dan rencana Tuhan untuk saya ada di sini kembali,” ungkapnya.

Dirinya juga mengatakan bahwa suasana yang ia rasakan seolah-olah tak pernah berpisah dengan Persipura Jayapura.

Saat digiring ke pinggir lapangan, Jacksen mengatakan bahwa tugas utama yang ia akan lakukan itu adalah mengembalikan aura atau atmosfir tim Persipura Jayapura itu sendiri.

“Saat ini masyarakat Papua antusias untuk melihat perubahan, dan usaha dari manajemen sudah mulai ada,” ujar Jacksen.

Tapi pria tinggi besar itu juga menegaskan bahwa dirinya juga bukan sosok penyelamat. Tapi ia hanya mencoba mengembalikan cara ia membawa Persipura mencicipi beberapa gelar juara di sepak bola kasta tertinggi tanah air.

“Dulu kekuatan Persipura tidak terletak di saya sendiri sabagai pelatih atau di kaki Boaz, Ian dan Manu. tapi kekuatannya ada karena kita mau melayani Tuhan untuk bermain di Persipura. Saya rasa hal-hal itu perlu kita bangun lagi,” ucapnya.

“Kita harus menaruh harapan kita kepada Tuhan, bukan kepada manusia dan kalau bicara bahwa Jacksen datang memberikan kememenagan untuk Persipura, saya tidak sanggup. Tapi kalau kita mau melayani Tuhan dengan bermain untuk Persipura seperti dulu, saya arasa hal-hal itu yang harus kita hidupkan. rumusnya itu,” sambungnya.

Dirinya juga mengatakan, selama berpisah dengan Persipura, ia sudah banyak memiliki perkembangan dalam perjalanannya. Sehingga hal itu yang akan menjadi nilai plus yang ia bawa bagi Persipura ke depannya.

“Dinamika sepak bola terus berkembang terus menerus dan ilmu itu terus berjalan. Saya selama 5 tahun banyak hal baru yang saya bisa bawa ke sini. Kita punya waktu singkat, kita harus kerja keras, dan saya yakin dengan dukungan doa seluruh masyarakat dan pemain bisa  membuat Persipura bangkit lagi,” bebernya.

Disinggung soal materi yang ia berikan dalam latihan perdana, Jacksen hanya mengatakan bahwa ia hanya kembali meningkatkan intensitas dalam latihan yang ia akan bawa dalam pertandingan.

“Sebenarnya kita belum bisa memberikan penilain yang akurat. Tapi dari penilaian kasat mata, saya lihat perlu melakukan sebuah peningkatan. Terutama intensitas latihan dan konstrasi dari anak-anak dalam menjalankan latihan dan mereka punya potensi luar biasa. Lawan Madura akan menjadi hari yang baik untuk kita dan kita akan mulai menunjukan performa yang baik,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan mengenai jarak antara pemain senior dan pemain muda yang ia miliki. Diakuinya, jarak antar kedua karakter pemain tersebut memiliki jarak yang begitu lebar.

Untuk itu, ia akan meminta kepada pemain senior sebagai jembatan transisi pemain muda menuju pemain senior. Hal serupa ia sudah terapkan ketika era Jack Komboy dan Eduard Ivakdalam kala itu.

“Fakto umur jelas kita tidak bisa bohongi. Tapi saya rasa pengalaman mereka sangat bermanfaat buat kami. Paling tidak menjembatani proses yang muda-muda ini masuk ke senior, sehingga jasa mereka sangat penting saat ini untuk sebuah transisi,” katanya.

“Nama-nama pemain senior masih diperhitungkan oleh tim-tim lawan di Indonesia. Dan pemain muda juga harus membuktikan dilatihan bahwa mereka bisa bersaing, karena pemain senior juga tentu tidak ingin kalah,” ucapnya.

Jacksen juga tidak ingin menyoroti kualitas dari pemain asing yang ia miliki saat ini. Pasalnya, ia belum melihat leguin asing mereka dalam pertandingan sesuai dengan strategi yang ia akan terapkan.

“Saya tidak mau menyoroti soal individu pemain, itu tidak tepat. Saya sebagai pelatih akan berusaha mengeluarkan yang terbaik dari pemain asing, lokal, muda dan senior. Kemudian di putran kedua baru kita lihat, jika ada yang kurang baru kita bicara soal pemain,” tutupnya. ****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *