Miras Jadi Satu Mesin Pembunuh, Papua Perlu Klinik Rehabilitasi

Dr drh Yohanes Tebai MH.Kes

Ngobrol Bareng Dr drg Yohanes Tebai MH. Kes Soal Konsep Rehabilitasi Miras dan Narkotika

Apa pendapat lain dari dalam  sudut pandang Dr drg Yohanes Tebai tentang dampak Minuman Keras di Papua?

Laporan : Abdel Gamel Naser – Jayapura

Dulu ada tebak-tebakan yang menceritakan seperti ini: Silahkan memilih satu perbuatan dosa, memperkosa, membunuh seorang bayi atau mengkonsumsi minuman keras. Kebanyakan orang akan memilih mengkonsumsi minuman keras karena hanya menganggap bahwa yang dikonsumsi adalah air dan akan keluar lewat air seni. Selain itu minuman keras hanya merusak dirinya ketimbang harus membunuh seorang bayi atau melakukan pemerkosaan.

Padahal secara tidak sadar ketika sudah mengkonsumsi miras maka kesadaran akan hilang.  Dari kesadaran yang hilang tersebut muncul niat memperkosa dan jika si bayi berisik maka tidak menutup kemungkinan si bayi akan dihabisi. Secara tidak sadar, dengan mengkonsumsi miras yang dianggap sepele justru membuka peluang memberi melakukan tiga kesahalan sekaligus.

Persoalan Miras di Papua hingga kini masih sulit menemukan titik terang. Orang selalu sepakat bahwa miras berbahaya dan lebih banyak kemaslahatannya ketimbang nilai positifnya. Mirisnya di Papua  bagi mereka yang suka mengkonsumsi miras, ada yang menganggap barang haram ini hanya air yang besok hilang dari tubuh. Setelah sadar akan kembali seperti biasa. Namun bila melihat dari sudut pandang kesehatan, terlalu sering mengkonsumsi minuman keras maka bisa menimbulkan kerusakan orang, penyakit jantung, kanker, masalah paru, gangguan hati  dan beberapa lainnya.

Ini belum dengan dampak buruk lainnya yakni kehilangan kontrol tadi yang berujung pada tindakan tak sadar. Terkait ini alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Dr drg Yohanes Tebai  menjelaskan bahwa jika melihat kondisi Papua saat ini terdapat sebuah pernyataan yang pernah dilontaskan gubernur bahwa setiap tahun ada 22 orang yang meninggal karena minuman keras. Miras secara tidak sadar menjadi mesin pembunuh efektif yang terus memberi tempat bagi mereka yang jauh dari Tuhan.

Padahal kata Tebai, Papua memiliki Perda nomor 15 tahun 2013 namun tak berjalan hingga kini akibat dianggap bertentangan dengan aturan hukum yang lebih tinggi. Iapun membagikan pengalamannya dan hasil kajiannya selama ini dimana kata pria yang mengklaim sebagai doktor pertama di bidang kedokteran di Papua ini Papua membutuhkan satu rumah sakit atau klinik atau minuman unit rehabilitasi bagi mereka yang telah menjadikan minuman keras maupun narkoba sebagai candu. Ini dianggap penting bila melihat jumlah korban seperti yang dituturkan gubernur.

“ Pemikiran saya seperti itu, Papua sudah harus memiliki klinik atau rumah sakit rehabilitasi  pengendalian efek minuman keras. Saat ini ada 2 rumah sakit besar yang fungsinya sama dan saya pikir perlu ada rumah sakit lagi yang mengurusi rehabilitas. Nantinya rumah sakit ini juga menangani pasien HIV Aids termasuk TBC,” kata Tebai kepada Cenderawasih Pos di Abepura pekan kemarin. Ia melihat mirasdi Papua, Miras, HIV, TBC ini seperti lingkaran yang saling memiliki kaitan. Nah dengan dua rumah sakit besar di satu kawasan yang sama dengan fungsi yang sama, Tebai menganggap ini tak efektif dan terkesan melakukan pemborosan bila disimak dalam undang-undang rumah sakit.  Salah satunya perlu dikaji agar menjadi rumah sakit khusus. Ia berpendapat bahwa Papua perlu rumah sakit rehabilitasi karena banyak yang terjebak dengan minuman keras, namun  semua harus dimulai pengkajian untuk menjalankan program yang terukur. “Semua harus dimulai dari data,” katanya.

Bila itu berjalan maka akan dilihat dampaknya. “Yang saya tawarkan adalah konsep yang efisien dan terukur. Jika pemerintah setuju maka  pendataan awal akan dilakukan. Berapa generasi muda yang sedang terpapar dengan Miras dan berapa yang bersedia dilakukan rehabilitasi termasuk mengukur angka keberhasilannya,” katanya. Tebai sendiri sudah melakukan penelitian dan pelatihan di Jakarta didampingi Prof Dadang Hawari dari Departemen Psikiater dan telah banyak yang berhasil.

Ia berpendapat hal serupa bisa dilakukan di Papua dengan memodifikasi tentunya. Dengan melihat sosial, kultur dan budaya di Papua. Pria yang juga bekerja sebagai staf ahli di KPA Papua ini menyebut bahwa ada metode konseling komunikasi miliknya yang sudah mendapatkan hak pengakuan intelektual. Isinya adalah bagaimana merehabilitasi pecandu dan HIV/ AIDS. Metode ini sudah kami sesuaikan dengan keadaan Papua dan akan dikolaborasi dengan yang diterapkan prof Dadang tadi.  Secara teknis, proses rehabilitasi bagi pecandu Miras maupun Narkoba akan dilihat dari lama penggunaan.

Jika intensitas tinggi maka membutuhkan waktu 1 minggu hingga 270. Metodenya adalah diberi pendekatan psikologi, sosial, religi dan medik. Bila pasien tersebut sembuh maka akan diberi penghargaan bahkan mungkin dijadikan contoh teladan. “Jadi menggabungkat beberapa hal seprti psikologi, sosial, religi dan medikal. Lalu pasien ini diberi seragam dan ada pembinaan dan tempat pekerjaan khusus yang disiapkan pemerintah,” bebernya. Menurut dokter gigi di Dinkes Dogiyai ini untuk Papua,  narkoba memang mulai mewabah namun untuk minuman keras ini sudah berlangsung cukup lama.

Dan bila dilihat secara subjektif peminumnya sangat banyak. Saat ini hanya narkoba yang sudah terukur dan kita perlu survei betapa persen pemuda Papua yang jadi pecandu miras. Namun Yohanes Tebai juga tak menutup mata dengan niatan pemerintah yang ingin langsung memangkas atau menghilangkan Miras dari Papua. Menurutnya itu akan jauh lebih baik sehingga tak perlu penanganan yang lebih serius. Namun kondisi ril saat ini miras masih menjadi ancaman yang tiap tahunnya merenggut nyawa anak-anak Papua.

“Saya pikir masih sulit menghilangkan, bayangkan jika ia pecandu yang menjadi kebiasaan yang sudah terbentuk. Saat ini kelompok masyarakat yang sulit lepas dari minuman dan harusnya disiapkan tempat untuk direhabilitasi. Namun akan lebih baik jika ada rumah sakit atau unit yang memang dikhususkan untuk rehabilitasi,” imbuhnya. Yohanes melihat histori miras ini berkaitan dengan cerita jaman dulu. Dulu masyarakat Papua tak tahu minum namun kolonial Belanda jika merayakan kemenangan biasa dilakukan dengan minum-minum dan dansa. Nah ini  berlanjut hingga sekarang.

Mirisnya tak ada yang datang untuk melakukan therapi atau treatment sehingga miras tetap dikonsumsi. “Lalu pecandu ini mau diapakan? Apakah akan dibiarkan tetap seperti itu atau diperbaiki. Yang perlu diketahui adalah kandungan miras juga memberi efek candu. Ini seperti merokok maupun memakan pinang dan untuk merubah ini  perlu pendekatan medis agar menghilangkan efek nagih,” tegasnya.

Namun untuk penanganannya, cara yang dianggap efektif sangat tergantung kepada pribadi dan kebiasaan. “Jika di Jakarta atau Jawa dilakukan pendekatan utama adalah agama, kemudian budaya sedangkan untuk Papua metodenya sudah ada dan mendapat pengakuan juga, tinggal bagaimana dijalankan. Jika ini konferhensif dilakukan  saya yakin akan ada banyakperubahan,” imbuhnya. Disinggung kondisi sosial jika ketahuan masuk unit rehabilitasi, kata Tebai hal tersebut bisa dilakukan dengan sistem rawat jalan. “Bisa dilakukan rawat jalan asal  pengobatannya intens dan tak putus,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *