Isu Referendum Bila Otsus Habis, Dinilai Mengecewakan

Albertho Gonzales  Wanimbo (Noel/Cepos)

AGW: Jangan Salah Tafsir, Mari Duduk Bersama

JAYAPURA –  Statemen dari Ketua KNPI Papua terkait diakhir Otsus akan muncul isu referendum  memantik banyak komentar. Berita ini juga tengah ramai dibahas di media sosial karena dishare ke berbagai grup. Sebelumnya Ketua Pemuda Panca Marga (PPM) Markas Daerah Papua, Boy Markus Dawir yang memberi tanggapan keras, kini giliran Ketua Lembaga Pengawasan Reformasi Indonesia (LPRI), Elisa Bouway. Iapun mempertanyakan apa maksud dari statemen Ketua KNPI bersama rekannya Benyamin Gurik.

Pasalnya apa yang diomongkan di media dianggap sudah keluar dari konteks KNPI.  Elisa mempertanyakan ada apa sehingga KNPI justru berbicara soal referendum dan mengapa tiba-tiba menyoal soal referendum. Hal tersebut dianggap aneh karena menurutnya KNPI seharusnya tak berpolitik melainkan bagaimana menjadi lab pengembangan SDM pemuda tanpa tendensi politik. “Ada urusan apa KNPI berbicara soal referendum? Masih terlalu banyak hal yang bisa dibahas tanpa harus mengomentari soal politik (referendum) atau jangan-jangan memang ada niat mendorong kesana,” kata Elisa di Grand Abe Hotel, Abepura, Sabtu (13/7).

Apalagi kata dia, KNPI merupakan lembaga pemuda yang menggunakan dana hibah pemerintah atau negara sehingga tidak patut digiring ke politik apalagi sampai berbicara referendum. “Ini seperti menggiring pemikiran masyarakat. Saya pikir tidak tepat memberi statemen yang menggangu kedaulatan sebab tidak semua pemuda memiliki pemikiran seperti Ketua KNPI Papua. Ini perlu dicatat,” sindirnya. KNPI lanjutnya akan lebih baik memberikan komentar soal bagaimana membantu pemerintah lewat kekuatan pemuda.

Bagaimana berkontribusi lewat OKP dan keorganisasian, bukan justru berbicara diluar jalur. “Ini dapat dana hibah tapi berbicara soal hal-hal yang bertolak belakang dengan kedaulatan negara. KNPI seperti tengah memainkan isu padahal harusnya netral. Cara begini membuat organisasi lain tidak akan percaya,” sambung Eli. Pantauan LPRI juga ternyata ada pihak – pihak yang menggunakan uang negara atau menerima dana dari negara namun justru berbicara seperti pro Papua Merdeka. “Itu memalukan,” pungkasnya.

Sebelumnya Boy Dawir juga menyindir soal pihak yang menggunakan uang negara namun berbicara Papua merdeka. Ia bahkan meminta aparat untuk mengungkap dan memproses hukum pihak-pihak tersebut. “Menjadi aneh kalau menerima dana hibah, menggunakan uang atau fasilitas negara tapi berbicara soal Papua merdeka. Saya pikir yang begini-begini  perlu disikapi,”  tandasnya.

Mendapatkan pertanyaan tentang maksud referendum yang di ucapkan oleh Ketua DPD KNPI Papua  Albertho Gonzalse Wanimbo (AGW) mengatakan bahwa ada kesalahan persepsi dari Angota DPR Papua, Boy Markus Dawir (BMD) dan kelompok masyarakat lainnya  terkait  peryataanya soal isu referendum setelah otonomi Khusus menurutnya adalah hal keliru dan mengada-ada.

Ia menjelaskan letak penjelasaan yang di sampaikan dirinya pasca otsus itu tidak bermakusud melawan negara seperti yang di sampaikan anggota DPRP dan masyarakat lainnya.

“Ada pernyataan Angota DPRD Boy Dawir   bahwa KNPI punya niat setelah otsus berakhir akan terlibat sebagai kelompok yang merongrong negara dan juga Ketua LPRI ini kesalahan fatal yang lahir dari imajinasi liar dari Angota DPRD tersebut dan masyarakat lain KNPI kami satu sebagai pemuda Indonesia yang menjunjung tinggu Kebinekaan, NKRI, Pancasila, UUD jadi apa yang saya sampaikan berupa saran dan ide yang baik dan sehat jelang otsus berakhir ini karena peryataan saya ini, bersifat pemberitahuan kepada pemerintah bahwa bisa saja isu referendum muncul pasca Otsus, Tolong jangan di salah artikan dengan cara berpikir yang dangkal,” katanya  menyesalkan peryataan BMD dan LPRI itu.

Bahkan Ia menilai  jangan sampai BMD dan Ketua LPRI Elisa memiliki sentimen pribadi denganya  dan jangan sampai kedua oarang ini sendirilah yang berusaha memecahkan pemuda dengan cara pandang yang di luar dari apa yang dirinya katakan.

“Tolong jangan pecahkan kami pemuda, dengan analisa keliru, kami tetap bersatu dalam negara ini,” kata Albertho.

Ia mengatakan sebagai Ketua KNPI Papua yang membawahi pemuda dengan ide dan gagasan selayaknya pihaknya memberikan warning dan saran kepada pemerintah dan masyarakat Papua bahwa jelang Otsus berakhir apa yang perlu di siapkan bersama.

“Aspirasi yang kami sampaikan ini harap juga diperhatikan oleh DPRP seperti Boy Dawir dan lainya juga serta pemerintah daerah karena ini kita sampaikan peristiwa yang akan terjadi yang perlu kita sama-sama antisipasi bersama baik pemerintah DPR KNPI bersama Pemuda seluruh Papua dan bersama seluruh masyarakat Papua,” katanya.

Untuk itu, pihaknya mengaku dalam waktu dekat dirinya bersama kampus Universitas Cendrawasih akan berupaya menggelar FGD untuk membahas pelaksanaan otsus sejak awal hingga berakhir bahkan keberlanjutan otsus sehingga diharapkan adanya partisipasi dari semua pihak.

“Marih kita sama – sama  dukung  FGD yang akan di gelar oleh Uncen dan KNPI serta  pelaku pelaku sejarah otsus lainya, dengan melibatkan pemerintah DRP, MRP dan Pemerinta jangan kita saling menjatuhkan tapi mari kita berikan ide dan gagasan yang sehat dalam menyambut berakhirnya otsus di Papua 2021 mendatang,” katanya, (oel/gin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *