Sambut PON, Perajin Noken Mulai  Persiapkan Diri

Mama-mama pengrajin noken memperlihatkan hasil kerajinan pada Grand Opening Horison Hotel Kotaraja, Kamis (11/7) kemarin. (Yohana/Cepos)

JAYAPURA – Guna meningkatkan kreativitas budaya di Papua, sekaligus menyambut PON XX, para perajin noken mulai mempersiapkan diri, dengan menyediakan noken kulit kayu maupun noken benang hingga aksesoris lainnya seperti anting-anting, gantungan kunci, gelang, cincin dan sebagainya.

Hilaria Adi salah satu perajin noken di Seputaran Saga Abepura mengatakan,  membuat noken dan aksesoris merupakan kegiatan rutinitas yang ia lakukan. Apalagi menyambut PON XX pihaknya sudah mulai mempersiapkan souvenir.

“Kami biasa menjual noken di depan Saga Mal Abepura, di Hamadi dan di Jayapura. Kami juga ikut di pameran dan  dalam pameran kali ini kami diundang oleh Hotel Horison untuk memeriahkan kegiatan peresmian hotel barunya. Di sini kami diberi ruang untuk berjualan selama acara peresmian,”ungkap  Hilaria kepada Cenderawasih Pos, Kamis (11/7) kemarin.

Lanjutnya, koleksi noken yang pihaknya sediakan bermacam-macam, mulai dari tas noken handphone, sampai noken besar dengan jenis bahan yang berbeda-beda. Untuk noken kulit kayu dihargai Rp 150 ribu, sedangkan noken kulit kayu yang dikombinasikan dengan akar angrek Rp 1 juta, noken benang Rp 50 ribu- Rp 250 ribu dan untuk aksesoris Rp 10 ribu- Rp 50 ribu.

“Kami setiap hari produksi noken namun tidak banyak minimal 10 untuk noken benang, noken kulit kayu 1 noken butuh waktu 1 minggu untuk proses rajut, sedang­kan untuk waktu pembuatan bahan baku noken kulit kayu kami membutuhkan waktu 1 bulan, karena proses yang memakan waktu cukup lama maka harga yang kami berikan jauh lebih mahal daripada noken benang,” terangnya.

Diakuinya, untuk penjualan noken sendiri yang paling diminati adalah noken kulit kayu, namun stok yang disediakannya tidak banyak karena proses pembuatan bahan bakunya yang sedikit sulit. (ana/ary)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *